oleh : Yuliyanto
#orang literat menemu baling
Perangkat elektronik yang satu ini memang unik. Pertumbuhan dan perkembangannya luar biasa. Barang ini pun banyak menyita perhatian dan mengubah pola perilaku masyarakat. Masyarakat yang semula memiliki sisi sosial kebersamaan dengan cara pertemuan langsung, saat ini banyak bergeser dengan cara tidak langsung bertemu untuk berkomunikasi. Bahkan saat ini seringkali terjadi dengan kata-kata "yang jauh menjadi dekat yang dekat menjadi jauh".
Dalam sosio realita dengan mudah dapat disaksikan beberapa orang yang bersama namun tidak terjadi interaksi membicarakan justru mereka masing-masing asyik dengan gawai. Gawai yang dipegang berkomunikasi dengan orang lain dalam kelompok tersebut. Bukannya berkomunikasi dengan satu kelompok yang bertatap muka namun Justru orang diluar kelompok tersebut yang diajak berkomunikasi.
Hal demikian pun berlaku untuk siswa yang membawa gawai di sekolah. Sering kali ditemui siswa yang bawa gawai di sekolah pada saat pelajaran, secara sembunyi-sembunyi dia melakukan komunikasi dengan orang lain mungkin kawannya, orang tua, atau siapa pun yang menjadi relasinya. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pembelajaran utamanya bagi diri pelajar tersebut juga bagi komunitas belajar di kelas.
Pada kenyataannya sebagian besar siswa SMP bahkan beberapa di antaranya SD sudah memiliki gawai sendiri. Dan mereka secara sembunyi-sembunyi membawa ke sekolah dan menggunakannya untuk keperluannya. Ada beberapa sekolah yang ketat dalam masalah ini dengan betul betul tidak membolehkan siswanya membawa gawai. Namun tidak sedikit pula yang membolehkan atau aturannya tidak memperbolehkan tetapi bersifat terbuka dan membiarkan siswanya membawa gawai.
Permasalahan sering muncul bagi sekolah yang masih memiliki dua sisi perbedaan dalam menyikapi masalah ini. Sehingga justru muncul permasalahan dengan adanya gawai karena kurang tepat dalam penggunaannya. Sehingga ada beberapa guru yang seakan bermusuhan dengan gawai yang dibawa oleh siswa. Seringkali ditemui guru yang serta-merta marah, menyita gawai dan kemudian siswa pun mendapatkan sanksi tertentu. Lalu bagaimanakah sikap yang tepat dalam kondisi saat ini dengan perkembangan dan pertumbuhan gawai yang sangat pesatnya?
Lebih baik mensiasati kondisi ini dengan memainkan peran sesuai dengan keadaan setempat. Untuk sekolah dengan siswa yang banyak memiliki dan sering kali membawa gawai ke sekolah, akan lebih baik kalau gawai tersebut dimaksimalkan untuk mendukung pembelajaran yang ada di sekolah.
Untuk konten pembelajaran di SMP sudah tersedia situs yang bisa berinteraksi yaitu Quipper. Di situ sini menyediakan banyak sekali kompetensi pembelajaran dengan beberapa kurikulum, termasuk didalamnya alat evaluasi. Alat evaluasi berupa tes atau soal-soal daring dengan variasi yang berbeda memungkinkan guru dan siswa merefleksi pembelajaran yang sudah dilakukan. Hampir setiap kompetensi dasar ada soal sebanyak 10 soal yang bisa digunakan untuk alat evaluasi. Guru pun tidak perlu mengoreksi hasil ulangan tersebut karena nilai langsung bisa dilihat dan bisa didownload masuk ke file Excel.
Situs Edmodo menyiapkan fitur yang berbeda pula. Dengan ini guru lebih mudah untuk memasukkan konten pembelajaran sesuai dengan keinginan. Tidak terlalu sulit memberikan tugas kepada siswa, termasuk didalamnya membuat soal yang akan digunakan sebagai alat evaluasi bagi guru. Hanya saja guru harus membuat sendiri soalnya, atau bisa berkolaborasi dalam jaringan yang dibuat. Jaringan ini mirip grup dalam media sosial, ada grup guru matematika nasional dan grup matematika DIY, termasuk grup guru matematika Sleman. Saling berbagi materi pengalaman maupun soal bisa dilakukan oleh guru dalam grup tersebut.
Dua situs tersebut dapat dengan mudah diakses menggunakan gawai siswa. Sehingga untuk memberikan materi tambahan memberikan keleluasaan dalam penyebaran informasi materi termasuk juga evaluasi oleh guru mudah dilakukan apabila siswa satu kelas telah memiliki gawai. Ataupun bisa dengan pinjaman gawai atau penugasan di rumah dengan gawai milik orang tua.
Perkembangan yang lebih mudah dan ringan adalah pemanfaatan alat evaluasi menggunakan Google form atau Google formulir. Dengan fasilitas Google form ini guru dengan mudah mengambil data dari siswa. Data dapat berupa data base maupun data yang diperuntukkan sebagai alat evaluasi seperti ulangan. Pemanfaatan Google form untuk alat evaluasi tidak terlalu sulit. Pembuatan soal akan cepat kalau guru sudah terbiasa atau memiliki bank soal di perangkat komputernya. Tinggal copy paste dan dalam waktu kurang lebih 30 menit soal bisa selesai dan bisa digunakan sebagai alat evaluasi, dengan catatan guru sudah memiliki soal-soal di laptopnya.
Paperless, inilah barangkali yang akan memberikan kemudahan sehingga tidak perlu dengan kertas yang bertumpuk-tumpuk, capek membuatnya mengarsipkan dan harus meneliti hasil pekerjaan. Hasil pekerjaan siswa dapat langsung di download di file excel yang kemudian dimasukkan dalam form analisis, sehingga nilai pun akan didapat beserta analisa soal maupun analisa hasil ulangan. Hemat waktu hemat biaya dan siswa pun bisa lebih enjoy dalam melaksanakan ulangan. Desain penugasan pun dapat dilakukan untuk memudahkan pemberian tugas maupun pembelajaran lain berupa proyek dan lain sebagainya.
Lalu masihkah kita harus bermusuhan dengan gawai yang dibawa oleh siswa? Semestinya lah saat ini guru mulai berpikiran terbuka. Kekawatiran bahwa gawai akan digunakan untuk mencontek saat belajar, setiap saat bermain game, menonton video porno, dan berbagai macam hal negatif yang bisa dilakukan semestinya lah perlu disiasati dengan baik. Karena saat ini sudah sangat banyak siswa yang membawa gawai dalam berbagai sisi kehidupannya.
Dengan demikian seandainya siswa tidak menggunakan gawai di sekolah, tetap saja dia akan menggunakannya di tempat lain dan justru seringkali kurang terpantau. Aktivitas yang tidak terpantau justru lebih berbahaya, sehingga pendapat ini perlu dibandingkan potensi bahaya nya. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau dalam waktu tertentu siswa diperbolehkan menggunakan gawai di sekolah dengan pendampingan yang cukup baik. Salah satu cara adalah dengan memudahkan akses dalam konten pembelajaran maupun menggunakannya sebagai alat evaluasi.
Gawai untuk mendukung literasi mendapatkan kemudahan dengan metode menemu baling gimana menulis menggunakan mulut dan membaca menggunakan telinga. Dengan menggunakan aplikasi menemu baling, pemegang gawai akan dengan mudah membaca maupun menulis. Kemampuan dalam berliterasi menulis menjadi sangat dipermudah karena komunikasi verbal yang biasa dilakukan langsung bisa tertulis. Bahkan seringkali dalam suatu rapat notulis akan dengan mudah merekam semua proses rapat menjadi tulisan yang bisa diedit. Tentu saja ini merupakan suatu kemudahan yang bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk mendukung kegiatan literasi bagi siswa.
Orang seringkali betah ngobrol berjam-jam menceritakan sesuatu baik kejadian diri kejadian lingkungan maupun pengalaman hidupnya. Namun kesulitan menjadikan sebuah tulisan feature. Maka metode menemu akan mengubah budaya tutur menjadi budaya tulis. Berbicara mengobrol ungkapan ide melalui komunikasi verbal menjadi tulisan yang bermakna. Kemudian ini tentu saja akan merupakan lompatan baru dalam berliterasi menulis. Dengan sering menulis melalui pembicaraan maka kemampuan literasi seseorang akan dipercepat. Inilah pemanfaatan yang spektakuler saat ini sehingga gawe tidaklah menjadi alasan untuk dilarang.
Membaca dengan mendengarkan dapat dilakukan dalam berbagai situasi, misalnya dalam posisi menyapu, mengepel lantai, bersepeda, bersantai sambil minum kopi dan berbagai posisi, membaca dengan mendengarkan semudah kita memahami persoalan yang ada di kalimat-kalimat yang tertulis pada sebuah tulisan elektronik. Mata bisa relaksasi menyaksikan hal-hal lain atau melakukan hal lain sedangkan kita tetap bisa membaca artikel maupun hal-hal lain. Ini merupakan sebuah lompatan dalam mendapatkan pengetahuan dari sumber-sumber yang berbeda. Saat ini buku buku elektronik di sudah sangat mudah didapat melalui jaringan internet. Sudah mendapatkan sumber buku elektronik maka untuk membacanya tidak perlu capek-capek dengan mata melotot gawai. Cukup dengan mengaktifkan voice aloud reader maka membaca pun menjadi mudah.
Akhirnya mari jangan memusuhi gawai kereta api mari kita siasati dalam penggunaannya untuk memaksimalkan penggunaan ini menjadi wahana untuk mendidik siswa. Sukses dengan tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi tentunya akan menjadikan manis dalam hidup ini tanpa harus berlaku kontradiktif maupun destruktif.
Kamis 12 April 2018 at 22.16
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
#orang literat menemu baling
Perangkat elektronik yang satu ini memang unik. Pertumbuhan dan perkembangannya luar biasa. Barang ini pun banyak menyita perhatian dan mengubah pola perilaku masyarakat. Masyarakat yang semula memiliki sisi sosial kebersamaan dengan cara pertemuan langsung, saat ini banyak bergeser dengan cara tidak langsung bertemu untuk berkomunikasi. Bahkan saat ini seringkali terjadi dengan kata-kata "yang jauh menjadi dekat yang dekat menjadi jauh".
Dalam sosio realita dengan mudah dapat disaksikan beberapa orang yang bersama namun tidak terjadi interaksi membicarakan justru mereka masing-masing asyik dengan gawai. Gawai yang dipegang berkomunikasi dengan orang lain dalam kelompok tersebut. Bukannya berkomunikasi dengan satu kelompok yang bertatap muka namun Justru orang diluar kelompok tersebut yang diajak berkomunikasi.
Hal demikian pun berlaku untuk siswa yang membawa gawai di sekolah. Sering kali ditemui siswa yang bawa gawai di sekolah pada saat pelajaran, secara sembunyi-sembunyi dia melakukan komunikasi dengan orang lain mungkin kawannya, orang tua, atau siapa pun yang menjadi relasinya. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pembelajaran utamanya bagi diri pelajar tersebut juga bagi komunitas belajar di kelas.
Pada kenyataannya sebagian besar siswa SMP bahkan beberapa di antaranya SD sudah memiliki gawai sendiri. Dan mereka secara sembunyi-sembunyi membawa ke sekolah dan menggunakannya untuk keperluannya. Ada beberapa sekolah yang ketat dalam masalah ini dengan betul betul tidak membolehkan siswanya membawa gawai. Namun tidak sedikit pula yang membolehkan atau aturannya tidak memperbolehkan tetapi bersifat terbuka dan membiarkan siswanya membawa gawai.
Permasalahan sering muncul bagi sekolah yang masih memiliki dua sisi perbedaan dalam menyikapi masalah ini. Sehingga justru muncul permasalahan dengan adanya gawai karena kurang tepat dalam penggunaannya. Sehingga ada beberapa guru yang seakan bermusuhan dengan gawai yang dibawa oleh siswa. Seringkali ditemui guru yang serta-merta marah, menyita gawai dan kemudian siswa pun mendapatkan sanksi tertentu. Lalu bagaimanakah sikap yang tepat dalam kondisi saat ini dengan perkembangan dan pertumbuhan gawai yang sangat pesatnya?
Lebih baik mensiasati kondisi ini dengan memainkan peran sesuai dengan keadaan setempat. Untuk sekolah dengan siswa yang banyak memiliki dan sering kali membawa gawai ke sekolah, akan lebih baik kalau gawai tersebut dimaksimalkan untuk mendukung pembelajaran yang ada di sekolah.
Untuk konten pembelajaran di SMP sudah tersedia situs yang bisa berinteraksi yaitu Quipper. Di situ sini menyediakan banyak sekali kompetensi pembelajaran dengan beberapa kurikulum, termasuk didalamnya alat evaluasi. Alat evaluasi berupa tes atau soal-soal daring dengan variasi yang berbeda memungkinkan guru dan siswa merefleksi pembelajaran yang sudah dilakukan. Hampir setiap kompetensi dasar ada soal sebanyak 10 soal yang bisa digunakan untuk alat evaluasi. Guru pun tidak perlu mengoreksi hasil ulangan tersebut karena nilai langsung bisa dilihat dan bisa didownload masuk ke file Excel.
Situs Edmodo menyiapkan fitur yang berbeda pula. Dengan ini guru lebih mudah untuk memasukkan konten pembelajaran sesuai dengan keinginan. Tidak terlalu sulit memberikan tugas kepada siswa, termasuk didalamnya membuat soal yang akan digunakan sebagai alat evaluasi bagi guru. Hanya saja guru harus membuat sendiri soalnya, atau bisa berkolaborasi dalam jaringan yang dibuat. Jaringan ini mirip grup dalam media sosial, ada grup guru matematika nasional dan grup matematika DIY, termasuk grup guru matematika Sleman. Saling berbagi materi pengalaman maupun soal bisa dilakukan oleh guru dalam grup tersebut.
Dua situs tersebut dapat dengan mudah diakses menggunakan gawai siswa. Sehingga untuk memberikan materi tambahan memberikan keleluasaan dalam penyebaran informasi materi termasuk juga evaluasi oleh guru mudah dilakukan apabila siswa satu kelas telah memiliki gawai. Ataupun bisa dengan pinjaman gawai atau penugasan di rumah dengan gawai milik orang tua.
Perkembangan yang lebih mudah dan ringan adalah pemanfaatan alat evaluasi menggunakan Google form atau Google formulir. Dengan fasilitas Google form ini guru dengan mudah mengambil data dari siswa. Data dapat berupa data base maupun data yang diperuntukkan sebagai alat evaluasi seperti ulangan. Pemanfaatan Google form untuk alat evaluasi tidak terlalu sulit. Pembuatan soal akan cepat kalau guru sudah terbiasa atau memiliki bank soal di perangkat komputernya. Tinggal copy paste dan dalam waktu kurang lebih 30 menit soal bisa selesai dan bisa digunakan sebagai alat evaluasi, dengan catatan guru sudah memiliki soal-soal di laptopnya.
Paperless, inilah barangkali yang akan memberikan kemudahan sehingga tidak perlu dengan kertas yang bertumpuk-tumpuk, capek membuatnya mengarsipkan dan harus meneliti hasil pekerjaan. Hasil pekerjaan siswa dapat langsung di download di file excel yang kemudian dimasukkan dalam form analisis, sehingga nilai pun akan didapat beserta analisa soal maupun analisa hasil ulangan. Hemat waktu hemat biaya dan siswa pun bisa lebih enjoy dalam melaksanakan ulangan. Desain penugasan pun dapat dilakukan untuk memudahkan pemberian tugas maupun pembelajaran lain berupa proyek dan lain sebagainya.
Lalu masihkah kita harus bermusuhan dengan gawai yang dibawa oleh siswa? Semestinya lah saat ini guru mulai berpikiran terbuka. Kekawatiran bahwa gawai akan digunakan untuk mencontek saat belajar, setiap saat bermain game, menonton video porno, dan berbagai macam hal negatif yang bisa dilakukan semestinya lah perlu disiasati dengan baik. Karena saat ini sudah sangat banyak siswa yang membawa gawai dalam berbagai sisi kehidupannya.
Dengan demikian seandainya siswa tidak menggunakan gawai di sekolah, tetap saja dia akan menggunakannya di tempat lain dan justru seringkali kurang terpantau. Aktivitas yang tidak terpantau justru lebih berbahaya, sehingga pendapat ini perlu dibandingkan potensi bahaya nya. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau dalam waktu tertentu siswa diperbolehkan menggunakan gawai di sekolah dengan pendampingan yang cukup baik. Salah satu cara adalah dengan memudahkan akses dalam konten pembelajaran maupun menggunakannya sebagai alat evaluasi.
Gawai untuk mendukung literasi mendapatkan kemudahan dengan metode menemu baling gimana menulis menggunakan mulut dan membaca menggunakan telinga. Dengan menggunakan aplikasi menemu baling, pemegang gawai akan dengan mudah membaca maupun menulis. Kemampuan dalam berliterasi menulis menjadi sangat dipermudah karena komunikasi verbal yang biasa dilakukan langsung bisa tertulis. Bahkan seringkali dalam suatu rapat notulis akan dengan mudah merekam semua proses rapat menjadi tulisan yang bisa diedit. Tentu saja ini merupakan suatu kemudahan yang bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk mendukung kegiatan literasi bagi siswa.
Orang seringkali betah ngobrol berjam-jam menceritakan sesuatu baik kejadian diri kejadian lingkungan maupun pengalaman hidupnya. Namun kesulitan menjadikan sebuah tulisan feature. Maka metode menemu akan mengubah budaya tutur menjadi budaya tulis. Berbicara mengobrol ungkapan ide melalui komunikasi verbal menjadi tulisan yang bermakna. Kemudian ini tentu saja akan merupakan lompatan baru dalam berliterasi menulis. Dengan sering menulis melalui pembicaraan maka kemampuan literasi seseorang akan dipercepat. Inilah pemanfaatan yang spektakuler saat ini sehingga gawe tidaklah menjadi alasan untuk dilarang.
Membaca dengan mendengarkan dapat dilakukan dalam berbagai situasi, misalnya dalam posisi menyapu, mengepel lantai, bersepeda, bersantai sambil minum kopi dan berbagai posisi, membaca dengan mendengarkan semudah kita memahami persoalan yang ada di kalimat-kalimat yang tertulis pada sebuah tulisan elektronik. Mata bisa relaksasi menyaksikan hal-hal lain atau melakukan hal lain sedangkan kita tetap bisa membaca artikel maupun hal-hal lain. Ini merupakan sebuah lompatan dalam mendapatkan pengetahuan dari sumber-sumber yang berbeda. Saat ini buku buku elektronik di sudah sangat mudah didapat melalui jaringan internet. Sudah mendapatkan sumber buku elektronik maka untuk membacanya tidak perlu capek-capek dengan mata melotot gawai. Cukup dengan mengaktifkan voice aloud reader maka membaca pun menjadi mudah.
Akhirnya mari jangan memusuhi gawai kereta api mari kita siasati dalam penggunaannya untuk memaksimalkan penggunaan ini menjadi wahana untuk mendidik siswa. Sukses dengan tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi tentunya akan menjadikan manis dalam hidup ini tanpa harus berlaku kontradiktif maupun destruktif.
Kamis 12 April 2018 at 22.16
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
Comments
Post a Comment