Suburnya Padi di Rejoso


Kampung Rejoso di kaki Bukit Menoreh. Tepatnya di desa Wijimulyo Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Sekitar kampung merupakan sawah berpetak-petak. Antar petak sawah terdapat pematang yang membatasi kepemilikan satu orang dengan lainnya.

Dusun Rejoso harus dilindungi sebagai lumbung padi. Caranya memakai regulasi larangan mendirikan bangunan di sawah. Peraturannya ditegakkan, pihak yang melanggar diberi sanksi. Supaya masyarakat mengetahui diadakan sosialisasi.

Seperti diketahui orang Indonesia makanan pokoknya nasi. Nasi berasal dari beras, sedangkan beras dari gabah atau padi. Supaya menghasilkan gabah banyak namun lahan tetap, diadakan intensifikasi pertanian. Diantaranya pengolahan lahan, pemupukan, pemeliharaan, dan pengobatan yang tepat.

Daerah penghasil padi menyusut akibat lahan sawah berubah menjadi bangunan  perumahan, pabrik, jalan, dan sarana prasarana umum lainnya. Oleh karena itu dilarang menggunakan lahan di luar usaha pertanian. Bagi yang melanggar diambil tindakan hukum sesuai hukum/Perda.

Tanaman keras, seperti jati, mahoni, munggur, sengon laut dibatasi, sebab menutup dan mengganggu sinar matahari terhadap padi (ngeyomi, Jawa). Diseyogyakan menanam di pekarangan rumah atau kebun. Di tempat tertutup cabang dan daun tanaman keras hasil panen padi berkurang.

Di sekitar Rejoso terdapat jalan mulus jenis hotmix. Jalan halus dan lebar diperlukan untuk memudahkan akses warga dengan dunia luar di sekitarnya. Di pinggir jalan mulai muncul dan dibangun rumah warga. Hal ini potensial mengancam dan mengurangi lahan pertanian.

Di tengah sawah ada jalan hanya cukup untuk melintas kendaraan mobil kecil dan bus tanggung. Terbuat dari cor beton dan sebagian aspal curah. Tidak rata, namun sudah lebih baik dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Untuk sampai ke rumah warga tidak becek oleh lumpur.

Hari ini, Sabtu 21 April 2018 bersamaan melayat penulis melihat tanaman padi di Rejoso mulai berbuah namun belum berisi. Sawah tampak menghijau dan rata dengan padi yang mulai merunduk. Proses penyerbukan masih berlangsung, sebab sebagian bunga masih menempel pada buliran calon gabah. Serbuk sari sebagian belum semua jatuh pada putiknya. Angin perlu membantu proses penyerbukan.

Faktanya seluruh lahan serentak berbuah. Pertanda padi ditanam bersamaan. Dimulai dari menebar benih, mencabut, dan menanam. Pemeliharaan tanaman kompak sehingga pertumbuhan padi tidak ada yang mengalami keterlambatan. Pada saatnya menguning dan siap panen tentu waktunya bersamaan.

Hasil panen sekarang diperkirakan melimpah. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri tersisa banyak. Dijual harganya murah. Petani perlu menahan hasil panen agar tidak merugi. Bisa juga menjual ke daerah lain supaya mendapatkan nilai jual tinggi. Daya tawar petani tinggi sehingga tidak mudah dipermainkan oleh pedagang atau tengkulak.

Menanam padi secara bersamaan menguntungkan petani, karena hama tanaman mudah diberantas dan dikendalikan. Tikus, wereng, dan walang sangit musuh utama para petani. Ketiga jenis hama mudah di atasi, jika mereka kompak menentukan waktu tanam. Biasanya informasi diperoleh dari kelompok tani.

Petani mendapatkan harga mahal saat membeli bibit/ obat, membayar tenaga, dan menjual murah hasil panen. Bibit berlabel dan obat harganya terus melonjak. Begitu juga upah tenaga cenderung meningkat dan sulit mendapatkan. Pada saat panen nilai jual padi cenderung merosot tajam.

Pemerintah harus melindungi lahan pertanian subur. Bersama DPRD menyusun Perda perlindungan lahan dan petani. Harapannya swasembada pangan tetap Lestari. Bila perlu menyediakan bibit, pupuk, dan obat murah. Subsidi pertanian masih diperlukan, sehingga lahan pertanian tanaman padi seperti Dusun Rejoso tetap abadi dinikmati anak cucu dan lintas generasi.

Comments