Oleh: Dimas Qiman
Sebagai seorang petapa muda, aku sudah berniat meninggalkan keduniawian. Segala kemewahan juga ingin saya tinggalkan. Aku berusaha meninggalkan semua kecantikan wanita. Biar putih mulus, bahenol juga saya tinggalkan. Saya berusaha berpaling dari semua itu. Entah darimana asalanya tiba-tiba aku memiliki kekuatan supranatural layaknya seorang dukun. Hal inilah yang membuatku terkenal dan didatangi banyak orang.
Meskipun sudah berusaha menjauhi dunia ramai. Tapi justru banyak perempuan cantik yang datang. Mereka kebanyakan penyanyi dangdut atau penyanyi campur sari. Atau pedagang yang ingin memiliki penglarisan. Bahkan orang yang mau njago jadi lurah, jadi bupati, atau caleg. Atau perempuan yang mempunyai keruwetan rumah tangga dan minta solusi. Yang paling gila, bila ada perempuan bersuami tapi belum memiliki anak. Dan minta aku supaya memberi syarat agar cepat mengandung.
Pertapaan yang rimbun oleh pepohonan, dan sepi jauh dari keramaian kota. Yang terdengar kicauan burung liar. Mereka tinggal di sekitar pertapaanku. Setiap pagi dan sore selalu menyapaku dengan suara merdu.
Pertapaan yang kupilih di atas puncak bukit yang cukup tinggi. Mobil tidak bakal sampai ke pertapaanku. Paling sepeda motor, atau perjalanan kaki. Jalan yang terjal dan berbatu menghiasi perjalanan menuju pertapaanku. Aku merasa tentram dan damai, hampir dua tahun aku menikmati suasana ini. Tapi belakangan ini suana mulai berubah. Tamu mulai berdatangan ke pertapaanku.
Sore itu aku lagi duduk di depan pertapaan. Tiba-tiba terdengar deru mesin sepeda motor KLX. Tanpak Mamat go jek langganan yang mengantar seseorang untuk menemuiku. Dia memboncengkan perempuan muda cantik. Dandanannya membuat lelaki ngiler, dan ogah mengedipkan mata. Pakaian super tipis, apa yang dibalut pakaian semua nampak jelas. Bahkan seluruh lekuk tubuhnya jelas kelihatan. Bahkan gundukan gunung kembarnya bikin lelaki sulit berkedip.
"Selamat sore Ki" sapa Mamat si tukang ojek.
"Selamat sore, ada apa Mat?" tanyaku.
"Hee...hee...ini Ki, nganterin Mbak Ratna, ada keperluan dengan Ki Jaka" jawab Mamat.
"Benar Mbak?" aku meyakinkan.
"Betul Ki..." jawab Ratna.
"Ya...mari masuk Mbak" aku mengajak Ratna ke ruang pertapaan.
Aku berdua memasuki ruang pertapaan. Bau harum parfum Ratna mengusik nafsuku. Tapi kutahan agar jangan tergoda. Apalagi pemandangan tubuh Ratna, membuatku hampir lupa tujuanku semula. Aku mendekat dan memulai membuka pembicaraan.
"Apa tujuanmu datang ke sini Mbak ?" tanyaku.
"Anu Ki...saya penyanyi dangdut pendatang baru yang ingin kondang Ki. Apa syarat yang harus saya penuhi ?" tanya Ratna.
"Wooo....sebentar" jawabku.
Aku memasuki ruang semedi mohon petunjuk pada Tuhan. Apa yang harus saya berikan pada Ratna. Tiba-tiba muncul sebutir berlian yang bersinar di depanku. Aku mendapat bisikan agar berlian itu di masukan di lidah Ratna. Sehingga suara Ratna akan menjadi merdu. Dan akan disukai banyak orang.
"Sini Mbak " aku meminta Ratna mendekat.
"Ya Ki..." jawab Ratna.
Setelah mendekat aku berkata, "Ini ada syarat yang akan ku berikan padamu. Sebutir berlian, berlian ini akan saya letakkan di dalam lidahmu. Sehingga suaramu akan semakin merdu dan menarik banyak orang. Bagaimana ?" aku minta persetujuan Ratna.
"Cocok sekali Ki...itu yang saya inginkan. Saya siap Ki" suara Ratna mantap.
"Tapi ada resikonya Mba?" aku menambahkan.
"Apa resikonya Ki ?" Ratna sedikit ragu.
"Sebelum berlian ini dilepas, ketika akan meninggal akan mengalami kesulitan. Jadi ada baiknya sebelum usiamu empatpuluh tahun berlian ini harus dilepas. Bagaimana ?" aku meyakinkan.
"Apapun resikonya saya siap Ki, demi karier dan ketenaran saya, tidak apa-apa" jawab Ratna mantap.
"Baiklah, mendekat sini !" pintaku.
"Ya...Ki..." Ratna segera mendekat dan membuka mulutnya.
Dengan kekuatan yang kumiliki aku masukka berlian tersebut ke dalam lidah Ratna. Seketika auranya menjadi cerah dan menarik. Wajahnya semakin berseri dan suaranya merdu. Ratna tampak senang, dia mengeluarkan amplop dan diletakkan di meja.
"Ini untuk Ki Jaka, saya mohon pamit" Ratna minta diri.
"Ya Mbak...hati-hati.." aku mempersilahkan Ratna.
Sebelum pergi sempat menjabat tangan dan menciumnya. Aku mengantarkan kepergian Ratna sampai ke depan pertapaan. Aku sebetulnya kasihan dengan Ratna, demi materi dan ketenaran dia rela melakukan apapun. Mamat pun mohon diri, dan pergi bersama Ratna.
Aku kembali ke pertapaan, aku berdiam diri dalam ruang pertapaan. Aku membaca dzikir, dan melantunkan doa kepada Tuhan. Tapi ketenanganku kembali terusik. Terdengar suara sepeda motor Mamat berhenti di depan pertapaanku.
"Selamat malam Ki" terdengar suara Mamat lagi.
Aku segera keluar dari pertapaan menuju arah suara. Aku kaget ketika melihat perempuan cantik yang ikut Mamat. Melihat penampilannya dia seorang calon legislatif. Pakaiannya rapi, tapi bahan yang dipakai harganya mahal. Senyumnya memukau orang yang memandangnya.
"Ada apa Mat ?" tanyaku.
"Ini ada ibu-ibu yang ingin ketemu Ki Jaka" jawab Mamat.
"Woo...ada perlu apa Bu ?" tanyaku.
Ibu muda tersenyum manis, " Saya seorang pengusaha Ki. Saya ingin usaha saya lancar Ki"
Aku mengangguk, dan meminta ibu muda bernama Lina mengikutiku. Sesampai di ruang pertapaan aku meminta Lina menunggu. Aku segera masuk ruang pertapaan, berdoa mohon petunjuk pada Tuhan. Sebuah cahaya putih menyilaukan memasuki ruang pertapaan. Setelah hilang cahaya tersebut, ada kembang setaman dan seplastik garam.
Aku segera keluar dari ruang pertapaan dan menghampiri Lina.
"Begini Bu Lina.." aku membuka pembicaraan.
"Bagaimana Ki ?" Lina bertanya.
"Bunga ini nanti dimasukan ke dalam ember yang berisi air untuk mandi. Lalu mandilah dengan air kembang tersebut. Lalu taburkan garam sepanjang pintu gerbang toko tempat usaha Ibu. Bagaimana faham Bu?" aku menjelaskan.
"Ya Ki..." jawab Lina mantap.
Aku menyerahkan bunga dan garam pada Lina. Kedua benda itu segera dimasukan ke dalam tas. Dari dalam tas ia mengambil sebuah amplop berisi uang dan diserahkan kepadaku. Lina mohon diri dan pergi meninggalkan diriku di dalam ruang pertapaan.
Lina dan Mamat hilang ditelan gelapnya malam. Sebenarnya aku galau juga. Aku menghindari dunia, tetapi mengapa dunia malah menghampiriku. Aku ingin mempunyai kehidupan yang sepi dan damai. Hidup bersama alam, tidak bergaul lagi dengan manusia. Seandainya bergaul, paling satu atau dua orang saja.
Aku ingin bercengkrama dengan bumi yang telah memberiku kehidupan. Dia tidak pernah dendam, walau apapun yang dilakukan oleh manusia tapi tak pernah mencelakakan manusia. Bahkan bumi membalas dengan menumbuhkan tumbuhan untuk kehidupan manusia. Bumi tak pernah menangis, atas semua perbuatan manusia terhadapnya. Dia selalu tersenyum, seperti mentari pagi, yang tak lelah menghangatkan bumi.
Sesuai ajaran Astha Brata, sikap seorang pemimpin seperti bantala atau lebih sering di kenal sebagai bumi. Kita sebagai seorang pemimpin harus legawa, apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang kita pimpin. Kita harus membuat mereka sejahtera, walau kita sebagai orang terakhir yang merasakannya.
Sebagai seorang petapa muda, aku sudah berniat meninggalkan keduniawian. Segala kemewahan juga ingin saya tinggalkan. Aku berusaha meninggalkan semua kecantikan wanita. Biar putih mulus, bahenol juga saya tinggalkan. Saya berusaha berpaling dari semua itu. Entah darimana asalanya tiba-tiba aku memiliki kekuatan supranatural layaknya seorang dukun. Hal inilah yang membuatku terkenal dan didatangi banyak orang.
Meskipun sudah berusaha menjauhi dunia ramai. Tapi justru banyak perempuan cantik yang datang. Mereka kebanyakan penyanyi dangdut atau penyanyi campur sari. Atau pedagang yang ingin memiliki penglarisan. Bahkan orang yang mau njago jadi lurah, jadi bupati, atau caleg. Atau perempuan yang mempunyai keruwetan rumah tangga dan minta solusi. Yang paling gila, bila ada perempuan bersuami tapi belum memiliki anak. Dan minta aku supaya memberi syarat agar cepat mengandung.
Pertapaan yang rimbun oleh pepohonan, dan sepi jauh dari keramaian kota. Yang terdengar kicauan burung liar. Mereka tinggal di sekitar pertapaanku. Setiap pagi dan sore selalu menyapaku dengan suara merdu.
Pertapaan yang kupilih di atas puncak bukit yang cukup tinggi. Mobil tidak bakal sampai ke pertapaanku. Paling sepeda motor, atau perjalanan kaki. Jalan yang terjal dan berbatu menghiasi perjalanan menuju pertapaanku. Aku merasa tentram dan damai, hampir dua tahun aku menikmati suasana ini. Tapi belakangan ini suana mulai berubah. Tamu mulai berdatangan ke pertapaanku.
Sore itu aku lagi duduk di depan pertapaan. Tiba-tiba terdengar deru mesin sepeda motor KLX. Tanpak Mamat go jek langganan yang mengantar seseorang untuk menemuiku. Dia memboncengkan perempuan muda cantik. Dandanannya membuat lelaki ngiler, dan ogah mengedipkan mata. Pakaian super tipis, apa yang dibalut pakaian semua nampak jelas. Bahkan seluruh lekuk tubuhnya jelas kelihatan. Bahkan gundukan gunung kembarnya bikin lelaki sulit berkedip.
"Selamat sore Ki" sapa Mamat si tukang ojek.
"Selamat sore, ada apa Mat?" tanyaku.
"Hee...hee...ini Ki, nganterin Mbak Ratna, ada keperluan dengan Ki Jaka" jawab Mamat.
"Benar Mbak?" aku meyakinkan.
"Betul Ki..." jawab Ratna.
"Ya...mari masuk Mbak" aku mengajak Ratna ke ruang pertapaan.
Aku berdua memasuki ruang pertapaan. Bau harum parfum Ratna mengusik nafsuku. Tapi kutahan agar jangan tergoda. Apalagi pemandangan tubuh Ratna, membuatku hampir lupa tujuanku semula. Aku mendekat dan memulai membuka pembicaraan.
"Apa tujuanmu datang ke sini Mbak ?" tanyaku.
"Anu Ki...saya penyanyi dangdut pendatang baru yang ingin kondang Ki. Apa syarat yang harus saya penuhi ?" tanya Ratna.
"Wooo....sebentar" jawabku.
Aku memasuki ruang semedi mohon petunjuk pada Tuhan. Apa yang harus saya berikan pada Ratna. Tiba-tiba muncul sebutir berlian yang bersinar di depanku. Aku mendapat bisikan agar berlian itu di masukan di lidah Ratna. Sehingga suara Ratna akan menjadi merdu. Dan akan disukai banyak orang.
"Sini Mbak " aku meminta Ratna mendekat.
"Ya Ki..." jawab Ratna.
Setelah mendekat aku berkata, "Ini ada syarat yang akan ku berikan padamu. Sebutir berlian, berlian ini akan saya letakkan di dalam lidahmu. Sehingga suaramu akan semakin merdu dan menarik banyak orang. Bagaimana ?" aku minta persetujuan Ratna.
"Cocok sekali Ki...itu yang saya inginkan. Saya siap Ki" suara Ratna mantap.
"Tapi ada resikonya Mba?" aku menambahkan.
"Apa resikonya Ki ?" Ratna sedikit ragu.
"Sebelum berlian ini dilepas, ketika akan meninggal akan mengalami kesulitan. Jadi ada baiknya sebelum usiamu empatpuluh tahun berlian ini harus dilepas. Bagaimana ?" aku meyakinkan.
"Apapun resikonya saya siap Ki, demi karier dan ketenaran saya, tidak apa-apa" jawab Ratna mantap.
"Baiklah, mendekat sini !" pintaku.
"Ya...Ki..." Ratna segera mendekat dan membuka mulutnya.
Dengan kekuatan yang kumiliki aku masukka berlian tersebut ke dalam lidah Ratna. Seketika auranya menjadi cerah dan menarik. Wajahnya semakin berseri dan suaranya merdu. Ratna tampak senang, dia mengeluarkan amplop dan diletakkan di meja.
"Ini untuk Ki Jaka, saya mohon pamit" Ratna minta diri.
"Ya Mbak...hati-hati.." aku mempersilahkan Ratna.
Sebelum pergi sempat menjabat tangan dan menciumnya. Aku mengantarkan kepergian Ratna sampai ke depan pertapaan. Aku sebetulnya kasihan dengan Ratna, demi materi dan ketenaran dia rela melakukan apapun. Mamat pun mohon diri, dan pergi bersama Ratna.
Aku kembali ke pertapaan, aku berdiam diri dalam ruang pertapaan. Aku membaca dzikir, dan melantunkan doa kepada Tuhan. Tapi ketenanganku kembali terusik. Terdengar suara sepeda motor Mamat berhenti di depan pertapaanku.
"Selamat malam Ki" terdengar suara Mamat lagi.
Aku segera keluar dari pertapaan menuju arah suara. Aku kaget ketika melihat perempuan cantik yang ikut Mamat. Melihat penampilannya dia seorang calon legislatif. Pakaiannya rapi, tapi bahan yang dipakai harganya mahal. Senyumnya memukau orang yang memandangnya.
"Ada apa Mat ?" tanyaku.
"Ini ada ibu-ibu yang ingin ketemu Ki Jaka" jawab Mamat.
"Woo...ada perlu apa Bu ?" tanyaku.
Ibu muda tersenyum manis, " Saya seorang pengusaha Ki. Saya ingin usaha saya lancar Ki"
Aku mengangguk, dan meminta ibu muda bernama Lina mengikutiku. Sesampai di ruang pertapaan aku meminta Lina menunggu. Aku segera masuk ruang pertapaan, berdoa mohon petunjuk pada Tuhan. Sebuah cahaya putih menyilaukan memasuki ruang pertapaan. Setelah hilang cahaya tersebut, ada kembang setaman dan seplastik garam.
Aku segera keluar dari ruang pertapaan dan menghampiri Lina.
"Begini Bu Lina.." aku membuka pembicaraan.
"Bagaimana Ki ?" Lina bertanya.
"Bunga ini nanti dimasukan ke dalam ember yang berisi air untuk mandi. Lalu mandilah dengan air kembang tersebut. Lalu taburkan garam sepanjang pintu gerbang toko tempat usaha Ibu. Bagaimana faham Bu?" aku menjelaskan.
"Ya Ki..." jawab Lina mantap.
Aku menyerahkan bunga dan garam pada Lina. Kedua benda itu segera dimasukan ke dalam tas. Dari dalam tas ia mengambil sebuah amplop berisi uang dan diserahkan kepadaku. Lina mohon diri dan pergi meninggalkan diriku di dalam ruang pertapaan.
Lina dan Mamat hilang ditelan gelapnya malam. Sebenarnya aku galau juga. Aku menghindari dunia, tetapi mengapa dunia malah menghampiriku. Aku ingin mempunyai kehidupan yang sepi dan damai. Hidup bersama alam, tidak bergaul lagi dengan manusia. Seandainya bergaul, paling satu atau dua orang saja.
Aku ingin bercengkrama dengan bumi yang telah memberiku kehidupan. Dia tidak pernah dendam, walau apapun yang dilakukan oleh manusia tapi tak pernah mencelakakan manusia. Bahkan bumi membalas dengan menumbuhkan tumbuhan untuk kehidupan manusia. Bumi tak pernah menangis, atas semua perbuatan manusia terhadapnya. Dia selalu tersenyum, seperti mentari pagi, yang tak lelah menghangatkan bumi.
Sesuai ajaran Astha Brata, sikap seorang pemimpin seperti bantala atau lebih sering di kenal sebagai bumi. Kita sebagai seorang pemimpin harus legawa, apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang kita pimpin. Kita harus membuat mereka sejahtera, walau kita sebagai orang terakhir yang merasakannya.
Comments
Post a Comment