Oleh : Yuliyanto
#orang literat menemu baling
Bumi tidak mengalami perluasan jelas, karena bumi adalah benda padat dan cair yang tidak mengalami pertumbuhan. Unsur-unsur penyusun bumi mengisyaratkan tidak memungkinkan adanya pertumbuhan. Yang terjadi adalah perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan material ini tetap ada di bumi, sehingga meskipun barangkali di tempat tertentu seakan mengalami pertumbuhan dengan bertambahnya material, namun tidak akan menambah volume bumi secara keseluruhan. Volume yang bertambah di tempat tertentu, dengan pengurangan di tempat lain.
Penebangan hutan dengan kayu-kayu yang besar, berton-ton barangkali di angkut dari hutan menuju perkotaan atau tempat tertentu, jelas akan mengurangi beban berat di hutan tersebut, dan akan berpindah ke tempat tertentu tersebut. Namun kepindahan ini hanya di bumi, sehingga perpindahan ini tidak akan menambah berat bumi. Karena pengurangan berat atau volume di tempat tertentu akan berakibat penambahan berat dan volume di tempat yang lain pula.
Tengoklah seperti Jakarta. Ibukota negara ini dihuni oleh jutaan manusia pendatang dari luar kota. Ambillah misal pada saat Idul Fitri selesai arus balik ke Jakarta akan menambah volume manusia di kota Betawi ini. Kalau yang ikut sebagai pendatang baru sebanyak 10 ribu manusia dewasa dengan berat badan rata-rata 50 kg, maka tanah di Jakarta akan bertambah berat 500 ton tersebar di wilayah Jakarta. Beban berat dan volume manusia bertambah di Jakarta, namun di tempat asal para imigran ini berkurang volume dan beratnya. Dan itu terjadi di bumi, sehingga volume dan berat bumi tetap.
Di Jakarta pula tentu saja kebutuhan air meningkat, eksploitasi dan eksplorasi air tanah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dilakukan dengan membabi buta barangkali istilah nya, di teori kan bahwa tanah akan ikut terangkat dan terbuang di laut bersamaan dengan pembuangan air. Sehingga pengeroposan atau terjadinya ruang-ruang di dalam tanah terjadi, akibatnya permukaan tanah terancam semakin turun. Penurunan Tanah ini tidak berarti bahwa tanahnya berkurang secara keseluruhan, di Jakarta mungkin ya. Tetapi sebenarnya tanahnya berpindah ke tempat lain dan itu tetap di bumi.
Air di Jakarta yang diperlukan untuk mensuplai kehidupan manusia diperlukan ber juta-juta liter kubik perharinya, sebagian diambilkan dari air tanah Jakarta, tidak sedikit diambilkan dari tempat lain yang diolah oleh PDAM. Ini pun tidak akan menambah volume air di Jakarta, air pun selesai dipakai langsung mengalir bahkan sampai ke laut. Air yang ada dalam tubuh manusia pun bertambah namun juga selalu berkurang tiap hari dengan ekskresi baik melalui air seni maupun melalui keringat. Sehingga meskipun air di Jakarta bertambah namun hanya akan mengurangi di tempat lain itu pun di bumi yang sama.
Pembangunan gedung-gedung bertingkat memerlukan material yang tidak sedikit. Berat dan volume gedung bertingkat mencapai beribu-ribu ton maupun satuan volume. Pasir, semen, besi, batu, kayu, dan material bangunan yang lain didatangkan dari daerah-daerah dengan menggunakan truk-truk tronton. Tentu saja berat bumi di Jakarta semakin berat. Ambil misal sebuah gedung bertingkat dengan berat seluruh bangunan mencapai 5.000 ton, seakan Jakarta bertambah berat 5.000 ton memang kenyataannya demikian. Namun bumi tidak bertambah berat. Karena berat itu hanya berpindah dari beberapa tempat pensuplai material bangunan menuju satu tempat di Jakarta, itu pun di tempat tertentu dimana bangunan itu dibangun. Sehingga penambahan berat bumi secara keseluruhan akibat pembangunan gedung ini tidak terjadi.
Kendaraan lalu lalang setiap hari berton-ton, kendaraan masuk ke Jakarta, pada hari kerja efektif barangkali volume kendaraan dengan berat yang mencapai ribuan ton bahkan mungkin jutaan masuk ke Jakarta dengan bawa material yang tidak sedikit. Itupun tidak menambah berat beban bumi keseluruhan, kalau pertambahan bumi di Jakarta barangkali ya. Namun kepindahan kendaraan ini hanyalah sementara dan terjadi pergantian silih berganti sehingga volume maupun berat relatif tetap di Jakarta.
Hal-hal di atas terjadi pula di beberapa kota di daerah lain. Namun secara global bumi tidak mengalami penambahan volume maupun berat. Terlihat dari ilustrasi Jakarta bertambah beban barangkali, namun berkurang beban di tempat lain. Sehingga bumi tetap dengan beratnya semula.
Air misalnya, air hujan berton-ton ada di awan dengan volume jutaan meter kubik dicurahkan di suatu tempat sehingga jutaan ton air itupun tumpah ruah di tempat tersebut menambah beban berat tanah. Namun apa yang terjadi sesungguhnya? Siklus air mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dengan volume relatif tetap di seluruh penjuru atmosfer bumi. Secara teori tidak ada kepindahan air di atmosfer yang berbeda dengan bumi. Air di bumi menguap oleh panas matahari menjadi awan, mendung, kemudian hujan kembali ke bumi. Hari yang ada di bumi pun mengalami sirkulasi atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Oleh air sungai baik air sungai permukaan maupun sungai bawah tanah air mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah. Bukan berarti berat tempat yang rendah menjadi semakin berat. Tetap saja berat bumi menjadi tidak bertambah.
Di Samudra nan luas, ber triliun ton volume air maupun beratnya. Arus air laut pun memindahkan volume air satu dari satu tempat samudra ke samudra yang lain. Mengalirnya Air ini pun tidak akan mengubah volume air secara keseluruhan.
Kalau kita cermati penambangan emas di Tembagapura, bukit gGrasberg yang menjadi tumpuan dan persengketaan dengan masyarakat sekitar menjadi sebuah lubang raksasa yang di ambil habis dieksploitasi habis-habisan tanah dan emasnya oleh investor negara adidaya. Emas dan logam lainnya diambil dibawa ke negara investor. Tinggallah lubang besar di Grasberg. Tentu saja berat bumi sekitar Grasberg berkurang, namun hanya berpindah ke Amerika tempat Mc Moran sang investor tinggal.
Menangisnya bumi bukan karena berkurangnya volume maupun luasan tanah. Lebih tepat barangkali Bumi menangis karena melihat tingkah laku manusia yang mengeksploitasi dan mengeksplorasi bumi dengan membabi buta. Sumber daya alam yang tidak terbarukan dibabat habis-habisan untuk kepentingan sesaat manusia. Menangisnya bumi barangkali karena amanah yang diembannya menjadi berkurang dengan begitu cepat daya dukung terhadap kehidupan makhluk hewani, nabati, maupun Insani. Tangisan bumi menjadi-jadi bukan karena tingkah laku bumi itu sendiri. Tetapi akibat ulah makhluk cerdas bernama manusia.
Ketika bumi berulah dengan kegiatan bernama gempa bumi, gunung meletus, banjir, angin topan, dan lain sebagainya atas kuasa ilahi, itu semua menurut takdir dan ketentuan Yang Maha Kuasa. Kerusakan yang ditimbulkan secara alamiah ini tidak menyebabkan bumi menangis. Karena daya dukung akibat kegiatan bumi ini tetap akan mensuplai daya dukung kehidupan. Bahkan apabila selesai hujan deras bumipun yang diwakili tanah tersebut menjadi semakin subur. Selesai dari erupsi gunung berapi, material yang keluar dari perut bumi justru menyuburkan tanah memberikan daya dukung kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Mari jangan biarkan bumi menangis dengan senyatanya akibat ulah manusia. Keteraturan yang menjadi hukum alam biarlah berjalan sesuai dengan ketentuan Ilahi. Kita manusia bisa menunda menangisnya bumi sehingga tidak menjadi tangisan yang membahayakan bagi kehidupan manusia. Tangisan dengan emosional yang tinggi dari bumi bisa menyebabkan amarah yang luar biasa dan berakibat fatal bagi kehidupan. Dan itu tidak bisa terhindarkan, suatu saat nanti tangisan bumi akan menjadi kenyataan dengan amukan yang luar biasa.
Semoga tulisan ini membuka cakrawala bahwa bumi menangis bukan karena ulah bumi itu sendiri. Tetapi karena ulah manusia.
Selasa 24 April 2018 at 05.15
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga.
#orang literat menemu baling
Bumi tidak mengalami perluasan jelas, karena bumi adalah benda padat dan cair yang tidak mengalami pertumbuhan. Unsur-unsur penyusun bumi mengisyaratkan tidak memungkinkan adanya pertumbuhan. Yang terjadi adalah perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan material ini tetap ada di bumi, sehingga meskipun barangkali di tempat tertentu seakan mengalami pertumbuhan dengan bertambahnya material, namun tidak akan menambah volume bumi secara keseluruhan. Volume yang bertambah di tempat tertentu, dengan pengurangan di tempat lain.
Penebangan hutan dengan kayu-kayu yang besar, berton-ton barangkali di angkut dari hutan menuju perkotaan atau tempat tertentu, jelas akan mengurangi beban berat di hutan tersebut, dan akan berpindah ke tempat tertentu tersebut. Namun kepindahan ini hanya di bumi, sehingga perpindahan ini tidak akan menambah berat bumi. Karena pengurangan berat atau volume di tempat tertentu akan berakibat penambahan berat dan volume di tempat yang lain pula.
Tengoklah seperti Jakarta. Ibukota negara ini dihuni oleh jutaan manusia pendatang dari luar kota. Ambillah misal pada saat Idul Fitri selesai arus balik ke Jakarta akan menambah volume manusia di kota Betawi ini. Kalau yang ikut sebagai pendatang baru sebanyak 10 ribu manusia dewasa dengan berat badan rata-rata 50 kg, maka tanah di Jakarta akan bertambah berat 500 ton tersebar di wilayah Jakarta. Beban berat dan volume manusia bertambah di Jakarta, namun di tempat asal para imigran ini berkurang volume dan beratnya. Dan itu terjadi di bumi, sehingga volume dan berat bumi tetap.
Di Jakarta pula tentu saja kebutuhan air meningkat, eksploitasi dan eksplorasi air tanah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia dilakukan dengan membabi buta barangkali istilah nya, di teori kan bahwa tanah akan ikut terangkat dan terbuang di laut bersamaan dengan pembuangan air. Sehingga pengeroposan atau terjadinya ruang-ruang di dalam tanah terjadi, akibatnya permukaan tanah terancam semakin turun. Penurunan Tanah ini tidak berarti bahwa tanahnya berkurang secara keseluruhan, di Jakarta mungkin ya. Tetapi sebenarnya tanahnya berpindah ke tempat lain dan itu tetap di bumi.
Air di Jakarta yang diperlukan untuk mensuplai kehidupan manusia diperlukan ber juta-juta liter kubik perharinya, sebagian diambilkan dari air tanah Jakarta, tidak sedikit diambilkan dari tempat lain yang diolah oleh PDAM. Ini pun tidak akan menambah volume air di Jakarta, air pun selesai dipakai langsung mengalir bahkan sampai ke laut. Air yang ada dalam tubuh manusia pun bertambah namun juga selalu berkurang tiap hari dengan ekskresi baik melalui air seni maupun melalui keringat. Sehingga meskipun air di Jakarta bertambah namun hanya akan mengurangi di tempat lain itu pun di bumi yang sama.
Pembangunan gedung-gedung bertingkat memerlukan material yang tidak sedikit. Berat dan volume gedung bertingkat mencapai beribu-ribu ton maupun satuan volume. Pasir, semen, besi, batu, kayu, dan material bangunan yang lain didatangkan dari daerah-daerah dengan menggunakan truk-truk tronton. Tentu saja berat bumi di Jakarta semakin berat. Ambil misal sebuah gedung bertingkat dengan berat seluruh bangunan mencapai 5.000 ton, seakan Jakarta bertambah berat 5.000 ton memang kenyataannya demikian. Namun bumi tidak bertambah berat. Karena berat itu hanya berpindah dari beberapa tempat pensuplai material bangunan menuju satu tempat di Jakarta, itu pun di tempat tertentu dimana bangunan itu dibangun. Sehingga penambahan berat bumi secara keseluruhan akibat pembangunan gedung ini tidak terjadi.
Kendaraan lalu lalang setiap hari berton-ton, kendaraan masuk ke Jakarta, pada hari kerja efektif barangkali volume kendaraan dengan berat yang mencapai ribuan ton bahkan mungkin jutaan masuk ke Jakarta dengan bawa material yang tidak sedikit. Itupun tidak menambah berat beban bumi keseluruhan, kalau pertambahan bumi di Jakarta barangkali ya. Namun kepindahan kendaraan ini hanyalah sementara dan terjadi pergantian silih berganti sehingga volume maupun berat relatif tetap di Jakarta.
Hal-hal di atas terjadi pula di beberapa kota di daerah lain. Namun secara global bumi tidak mengalami penambahan volume maupun berat. Terlihat dari ilustrasi Jakarta bertambah beban barangkali, namun berkurang beban di tempat lain. Sehingga bumi tetap dengan beratnya semula.
Air misalnya, air hujan berton-ton ada di awan dengan volume jutaan meter kubik dicurahkan di suatu tempat sehingga jutaan ton air itupun tumpah ruah di tempat tersebut menambah beban berat tanah. Namun apa yang terjadi sesungguhnya? Siklus air mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dengan volume relatif tetap di seluruh penjuru atmosfer bumi. Secara teori tidak ada kepindahan air di atmosfer yang berbeda dengan bumi. Air di bumi menguap oleh panas matahari menjadi awan, mendung, kemudian hujan kembali ke bumi. Hari yang ada di bumi pun mengalami sirkulasi atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Oleh air sungai baik air sungai permukaan maupun sungai bawah tanah air mengalir dari tempat tinggi ketempat rendah. Bukan berarti berat tempat yang rendah menjadi semakin berat. Tetap saja berat bumi menjadi tidak bertambah.
Di Samudra nan luas, ber triliun ton volume air maupun beratnya. Arus air laut pun memindahkan volume air satu dari satu tempat samudra ke samudra yang lain. Mengalirnya Air ini pun tidak akan mengubah volume air secara keseluruhan.
Kalau kita cermati penambangan emas di Tembagapura, bukit gGrasberg yang menjadi tumpuan dan persengketaan dengan masyarakat sekitar menjadi sebuah lubang raksasa yang di ambil habis dieksploitasi habis-habisan tanah dan emasnya oleh investor negara adidaya. Emas dan logam lainnya diambil dibawa ke negara investor. Tinggallah lubang besar di Grasberg. Tentu saja berat bumi sekitar Grasberg berkurang, namun hanya berpindah ke Amerika tempat Mc Moran sang investor tinggal.
Menangisnya bumi bukan karena berkurangnya volume maupun luasan tanah. Lebih tepat barangkali Bumi menangis karena melihat tingkah laku manusia yang mengeksploitasi dan mengeksplorasi bumi dengan membabi buta. Sumber daya alam yang tidak terbarukan dibabat habis-habisan untuk kepentingan sesaat manusia. Menangisnya bumi barangkali karena amanah yang diembannya menjadi berkurang dengan begitu cepat daya dukung terhadap kehidupan makhluk hewani, nabati, maupun Insani. Tangisan bumi menjadi-jadi bukan karena tingkah laku bumi itu sendiri. Tetapi akibat ulah makhluk cerdas bernama manusia.
Ketika bumi berulah dengan kegiatan bernama gempa bumi, gunung meletus, banjir, angin topan, dan lain sebagainya atas kuasa ilahi, itu semua menurut takdir dan ketentuan Yang Maha Kuasa. Kerusakan yang ditimbulkan secara alamiah ini tidak menyebabkan bumi menangis. Karena daya dukung akibat kegiatan bumi ini tetap akan mensuplai daya dukung kehidupan. Bahkan apabila selesai hujan deras bumipun yang diwakili tanah tersebut menjadi semakin subur. Selesai dari erupsi gunung berapi, material yang keluar dari perut bumi justru menyuburkan tanah memberikan daya dukung kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Mari jangan biarkan bumi menangis dengan senyatanya akibat ulah manusia. Keteraturan yang menjadi hukum alam biarlah berjalan sesuai dengan ketentuan Ilahi. Kita manusia bisa menunda menangisnya bumi sehingga tidak menjadi tangisan yang membahayakan bagi kehidupan manusia. Tangisan dengan emosional yang tinggi dari bumi bisa menyebabkan amarah yang luar biasa dan berakibat fatal bagi kehidupan. Dan itu tidak bisa terhindarkan, suatu saat nanti tangisan bumi akan menjadi kenyataan dengan amukan yang luar biasa.
Semoga tulisan ini membuka cakrawala bahwa bumi menangis bukan karena ulah bumi itu sendiri. Tetapi karena ulah manusia.
Selasa 24 April 2018 at 05.15
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga.
Comments
Post a Comment