Bumiku Menangis

Oleh Paimun, M.Pd

Hari ini 21 April 2018 tepat 48 tahun yang lalu Gaylord Nelson mencanangkan pertama kali hari bumi sedunia (earth day). Tanggal ini sebenarnya bertepatan dengan waktu musim semi di  Northern Hemisphere belahan bumi utara dan musim gugur belahan bumi selatan.

Manusia harus sadar bahwa planet bumi tidak mengalami perluasan dan pertumbuhan. Kecenderungannya menyusut akibat abrasi air laut. Upaya membendung pantai dengan reklamasi belum mampu mengatasi terjangan ombak.

Sebaliknya manusia bertambah jumlahnya. Bertambahnya jumlah penduduk memerlukan fasilitas hidup. Manusia menginginkan fasilitas hidup tidak terbatas, akibatnya sumber daya alam dikuras. Perut bumi ditambang, lahan pertanian diintensifikasi, dan hutan ditebangi.

Sampai sekarang bumi dibebani muatan berlebihan. Ibarat kendaraan, muatan ditambah sehingga berjalan sangat lambat. Manusia terus membangun jalan beraspal dan gedung bertingkat di permukaan bumi. Kendaraan memuat beban bertonase besar terus bertambah.

Tumbuhan yang melindungi bumi dibabat. Penebangan tidak memperhatikan sistem tebang pilih. Sepertinya manusia sengaja merusak lingkungan tanpa memperhatikan kelestariannya. Akibatnya jenis tumbuhan tertentu hampir punah. Proses reboisasi memerlukan waktu puluhan tahun.

Pemerintah membangun dan memelihara jalan dengan membuat jalan baru, memperluas, dan memperpanjang yang telah ada. Ketiga cara tersebut diharapkan mengurai kemacetan lalu lintas. Namun, kenyataannya belum berhasil mengatasi kemacetan dan padatnya arus lalu lintas.

Demi mendapatkan lokasi jalan baru memotong gunung. Struktur tanah terlihat jelas.Gunung yang dipotong rusak dan berkurang nilai keindahannya. Manusia menebangi pohon di Gunung tersebut. Gunung seperti kepala tanpa rambut.

Usaha penambangan merusak lingkungan dengan cepat, contohnya penggalian pasir,  batu, emas, perak, bauksit, batubara, dan sebagainya.  Bekas lokasi tambang rusak dan membahayakan keselamatan makhluk hidup. Saat musim hujan, air menggenang di mana-mana. Menjadi sarang nyamuk dan hewan berbahaya, seperti ular, buaya, dan lainnya.

Di lereng bukit manusia membangun Villa, tempat peristirahatan, dan hotel. Tanah berkurang pori-porinya karena tertutup oleh beton bangunan. Pada saat musim hujan air dipaksa mengalir di permukaan tanah. Persentase tanah menyerap air hujan berkurang.

Di kota-kota besar pembangunan hotel, tumbuh bak jamur di musim penghujan. Lantai mencapai puluhan jumlahnya, sehingga memerlukan pondasi kokoh supaya kuat. Pada umumnya setiap hotel membangun sumur untuk mencukupi kebutuhan air bersih sehingga menambang air dari dalam tanah. Sebagian tanah ikut terbawa air. Risikonya terjadi pengeroposan tanah di dalam perut bumi.

Penderitaan bumi belum berhenti sampai di sini. Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Banyak orang membuang sampah sembarangan. Sampah mengotori permukaan bumi. Bumi tidak sanggup mengurai beberapa jenis sampah, seperti plastik dan karet. Ketika banjir sampah menumpuk di mana-mana, sehingga tidak sedap dipandang mata dan menimbulkan bau busuk yang menyengat.

Marilah kita yang tinggal di permukaan bumi meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian dan keindahan bumi. Penderitaan bumi semakin hari semakin bertambah. Jangan biarkan bumi menangis akibat ketidaksadaran makhluk penghuninya. Manusia membangun untuk meningkatkan kesejahteraan, namun tetap  memperhatikan kelestarian bumi dan lingkungan. Bukankah bumi titipan anak cucu kita?

Guru SDN Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta

Comments