oleh : Yuliyanto
#Orang literat menemu baling
Besar pasak daripada tiang, ungkapan dari awal kejadian kehancuran finansial dari suatu keluarga. Keluarga inti, keluarga primer, keluarga sekunder, dan keluarga komunitas. Pendapatan yang tidak sebanding dengan pengeluaran. Bahkan cenderung pendapatan tidak lebih daripada pengeluaran. Sehingga yang terjadi adalah aset yang telah dimiliki diagunkan untuk mendapatkan pengganti pengeluaran.
Di dalam keluarga kecil yang tidak dapat membedakan keinginan dan kebutuhan menjadi dasar terjadinya kehancuran finansial dan diperparah dengan lifestyle atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Keinginan bergaya di depan orang lain, walaupun di dalamnya sangat keropos karena tidak adanya sumber pendapatan yang memadai untuk berpenampilan sesuai dengan keinginannya. Terjadilah hutang di sana sini hanya untuk bergaya.
Kelompok keluarga membentuk sebuah komunitas, banyak komunitas membentuk sebuah distrik, distrik distrik berkumpul dan diakui oleh yang lain membentuk sebuah negara. Manajemen keluarga kecil layaknya manajemen negara. Negara yang dalam bersikap dipengaruhi oleh sikap individual, berkelompok, berkomunitas yang pada akhirnya bernegara.
Tidak dipungkiri bahwa bernegara juga tidak bisa terlepas dari hutang. Hutang negara tercinta terbilang sungguh sudah sangat membelit begitu kata beberapa media. Akankah belitan Awoh hutang ini menyebabkan kehancuran financial negara tercinta? Mungkin ya mungkin tidak. Dunia perpolitikan di tingkat nasional diwarnai dengan suksesi kepemimpinan baik dalam tataran legislatif maupun eksekutif. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh eksekutif maupun legislatif di periode tertentu akan berakibat pada periode berikutnya. Apapun kebijakannya maka periode berikutnya akan terus melanjutkan atau menanggung beban yang sudah diperbuat oleh kebijakan periode sebelumnya.
Kata orang negara tercinta ibarat sebuah taman surgawi di dunia. Lautan di baratkan kolam susu, tongkat dan kayu pun bisa menjadi tanaman rindang nan elok buah-buahan segar serta menyegarkan tubuh dan memberikan vitamin dan protein. Hasil bumi yang melimpah, hasil perut bumi yang lebih melimpah lagi. Lalu kurang apa kekayaan negeri ini? Sungguh negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah seharusnya dapat mendukung kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
Tanpa harus membandingkan dengan negara lain tetapi bisa kita lirik negara kecil Singapura. Negara kecil tanpa dukungan sumber daya alam sama sekali bahkan sumber air pun tidak memiliki. Tapi kenapa mereka lebih makmur daripada negeri yang kaya raya dan luasan tanah yang sangat luar biasa dapat menampung ratusan juta manusia. Yang lebih mengherankan lagi dengan sumber daya alam yang kaya raya ini kita masih harus berhutang ke mana-mana. Dan hutang yang menjadi tanggungan negara saat ini sudah melampaui batas, kata beberapa ahli yang di dalam beberapa media sosial. Kebenarannya tidak tahu pasti. Tetapi jika ini terjadi benar maka salah kelola yang terjadi.
Bagaimana tidak? Negara yang kaya raya masih dibebani dengan hutan sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, pada akhirnya hutang itupun menggunung dalam ikut hitungan ribuan triliun. Bahkan dikawatirkan hutang ini hanya dapat dilunasi dengan menjual pulau. Artinya menjual wilayah negara. Mungkin saja ini bgtterjadi kalau tidak segera tersadarkan bahwa kemandirian harus ditumbuhkan. Negara Berdikari yang digagas dan didengungkan oleh Sang Pendiri Bangsa rupa-rupanya belum bisa diwujudkan oleh para penerus cita-cita perjuangan para pendobrak kemerdekaan.
Gaya hidup dan gaya dalam memimpin maupun gaya dalam bernegara sangat mempengaruhi bagaimana posisi hutang luar negeri. Uang yang didapat dari hutang digunakan untuk pembangunan infrastruktur maupun non infrastruktur. Seandainya mau bersabar dengan kemandirian yang nyata dan berdikari, barangkali kejadian hutang yang akan membelit dan menghancurkan financial negara akan dapat dihindarkan.
Kesalahan berjamaah yang terjadi, karena perpolitikan ditentukan kebijakan dengan sistem berjamaah. Eksekutif dan legislatif bersama-sama menentukan kebijakan. Kebijakan hutang menjadi tanggung jawab rakyat seluruhnya dengan menanggung beban hutang yang tidak sedikit. Manajemen untuk meminjam maupun mengembalikan perlu untuk lebih dipelajari efek maupun hasil kebaikannya.
Semoga kehancuran financial tidak terjadi di negara tercinta. Segera tersadarkan bagaimana manajemen hutang yang baik sehingga tidak terjadi kekhawatiran kehancuran Financial.
Jumat 27 April 2018 at 05.45
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
#Orang literat menemu baling
Besar pasak daripada tiang, ungkapan dari awal kejadian kehancuran finansial dari suatu keluarga. Keluarga inti, keluarga primer, keluarga sekunder, dan keluarga komunitas. Pendapatan yang tidak sebanding dengan pengeluaran. Bahkan cenderung pendapatan tidak lebih daripada pengeluaran. Sehingga yang terjadi adalah aset yang telah dimiliki diagunkan untuk mendapatkan pengganti pengeluaran.
Di dalam keluarga kecil yang tidak dapat membedakan keinginan dan kebutuhan menjadi dasar terjadinya kehancuran finansial dan diperparah dengan lifestyle atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Keinginan bergaya di depan orang lain, walaupun di dalamnya sangat keropos karena tidak adanya sumber pendapatan yang memadai untuk berpenampilan sesuai dengan keinginannya. Terjadilah hutang di sana sini hanya untuk bergaya.
Kelompok keluarga membentuk sebuah komunitas, banyak komunitas membentuk sebuah distrik, distrik distrik berkumpul dan diakui oleh yang lain membentuk sebuah negara. Manajemen keluarga kecil layaknya manajemen negara. Negara yang dalam bersikap dipengaruhi oleh sikap individual, berkelompok, berkomunitas yang pada akhirnya bernegara.
Tidak dipungkiri bahwa bernegara juga tidak bisa terlepas dari hutang. Hutang negara tercinta terbilang sungguh sudah sangat membelit begitu kata beberapa media. Akankah belitan Awoh hutang ini menyebabkan kehancuran financial negara tercinta? Mungkin ya mungkin tidak. Dunia perpolitikan di tingkat nasional diwarnai dengan suksesi kepemimpinan baik dalam tataran legislatif maupun eksekutif. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh eksekutif maupun legislatif di periode tertentu akan berakibat pada periode berikutnya. Apapun kebijakannya maka periode berikutnya akan terus melanjutkan atau menanggung beban yang sudah diperbuat oleh kebijakan periode sebelumnya.
Kata orang negara tercinta ibarat sebuah taman surgawi di dunia. Lautan di baratkan kolam susu, tongkat dan kayu pun bisa menjadi tanaman rindang nan elok buah-buahan segar serta menyegarkan tubuh dan memberikan vitamin dan protein. Hasil bumi yang melimpah, hasil perut bumi yang lebih melimpah lagi. Lalu kurang apa kekayaan negeri ini? Sungguh negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah seharusnya dapat mendukung kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
Tanpa harus membandingkan dengan negara lain tetapi bisa kita lirik negara kecil Singapura. Negara kecil tanpa dukungan sumber daya alam sama sekali bahkan sumber air pun tidak memiliki. Tapi kenapa mereka lebih makmur daripada negeri yang kaya raya dan luasan tanah yang sangat luar biasa dapat menampung ratusan juta manusia. Yang lebih mengherankan lagi dengan sumber daya alam yang kaya raya ini kita masih harus berhutang ke mana-mana. Dan hutang yang menjadi tanggungan negara saat ini sudah melampaui batas, kata beberapa ahli yang di dalam beberapa media sosial. Kebenarannya tidak tahu pasti. Tetapi jika ini terjadi benar maka salah kelola yang terjadi.
Bagaimana tidak? Negara yang kaya raya masih dibebani dengan hutan sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit, pada akhirnya hutang itupun menggunung dalam ikut hitungan ribuan triliun. Bahkan dikawatirkan hutang ini hanya dapat dilunasi dengan menjual pulau. Artinya menjual wilayah negara. Mungkin saja ini bgtterjadi kalau tidak segera tersadarkan bahwa kemandirian harus ditumbuhkan. Negara Berdikari yang digagas dan didengungkan oleh Sang Pendiri Bangsa rupa-rupanya belum bisa diwujudkan oleh para penerus cita-cita perjuangan para pendobrak kemerdekaan.
Gaya hidup dan gaya dalam memimpin maupun gaya dalam bernegara sangat mempengaruhi bagaimana posisi hutang luar negeri. Uang yang didapat dari hutang digunakan untuk pembangunan infrastruktur maupun non infrastruktur. Seandainya mau bersabar dengan kemandirian yang nyata dan berdikari, barangkali kejadian hutang yang akan membelit dan menghancurkan financial negara akan dapat dihindarkan.
Kesalahan berjamaah yang terjadi, karena perpolitikan ditentukan kebijakan dengan sistem berjamaah. Eksekutif dan legislatif bersama-sama menentukan kebijakan. Kebijakan hutang menjadi tanggung jawab rakyat seluruhnya dengan menanggung beban hutang yang tidak sedikit. Manajemen untuk meminjam maupun mengembalikan perlu untuk lebih dipelajari efek maupun hasil kebaikannya.
Semoga kehancuran financial tidak terjadi di negara tercinta. Segera tersadarkan bagaimana manajemen hutang yang baik sehingga tidak terjadi kekhawatiran kehancuran Financial.
Jumat 27 April 2018 at 05.45
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
Comments
Post a Comment