Oleh Paimun, M.Pd
Tanggal 2 Mei bertepatan dengan kelahiran tokoh pejuang pendidikan, yaitu Ki Hadjar Dewantara yang tidak kenal lelah memperjuangkan nasib rakyat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sedangkan ribuan GTT tidak mengenal lelah melayani peserta didik mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai kemanusiaan/peradaban.
Meskipun gaji/ upah yang diterima jauh dibawah UMR, namun setiap hari tetap melayani dan mendampingi peserta didik dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran meliputi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ketiga kegiatan untuk membekali anak pada kehidupan sekarang dan masa mendatang, sebab tantangan hidup anak semakin kompleks dan beragam.
Setiap sekolah kekurangan guru PNS. Hal ini disebabkan tidak adanya rekrutmen guru oleh pemerintah. Sedangkan ribuan guru aktif memasuki usia pensiun. Terjadi ketimpangan antara jumlah guru pensiun dengan kebutuhan guru aktif. Seperti dilansir Jawa Pos (18/10/2017) dalam kurun waktu 2017 sampai dengan 2021 bakal ada 295.000 guru yang pensiun.
Pada hal setiap tahun lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) meluluskan puluhan ribu sarjana, program studi Prodi keguruan. Para sarjana berkualifikasi guru tidak ada jalan lain, kecuali melakukan pengabdian di lembaga pendidikan dengan mendapatkan imbalan sangat minimal. Tidak sedikit lulusan guru bekerja di luar ijazah yang dimiliki.
Sementara itu perguruan tinggi berusaha meningkatkan mutu lulusan. Diantaranya dengan meningkatkan pendidikan dosen/ staf pengajar. Puluhan perguruan tinggi mengirimkan staf pengajar untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 maupun S3 ke berbagai perguruan tinggi ternama, baik dalam negeri maupun luar negeri. Disamping mendorong para dosen meningkatkan mutu dan jumlah penelitian.
Adapun setelah kembali ke kampus dan melaksanakan tridharma perguruan tinggi, yakni Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Berhasil mencetak sarjana program studi keguruan, para lulusannya tidak mendapatkan tempat pengabdian sesuai proses pembelajaran yang diterima saat kuliah. Sangat sia-sia pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dipelajarinya.
Pengabdian GTT
Menjadi guru tidak tetap (GTT) melaksanakan tugas mulia. Bertugas seperti yang dilakukan guru PNS. Mulai mengajar dari jam 07.00 dan pulang pukul 14.00. Membuat administrasi pembelajaran, menilai, melakukan perbaikan dan pengayaan, sampai melaporkan hasil belajar, di akhir semester atau tahun pelajaran kepada orang tua.
Pada umumnya menerima gaji/ upah dari dana BOS. Besarnya dana Bos untuk gaji GTT 15% dari total dana yang diterima sekolah. Jumlah uang tunai yang diterima setiap bulan hanya ratusan ribu rupiah. Jauh dari mencukupi untuk biaya hidup GTT dan keluarganya. Untuk bertahan hidup harus bekerja di luar tugas mengajar, seperti menjahit, beternak, bertani, sopir, tukang ojek, dan lain-lain.
Beban tugas sama, namun menerima perlakuan tidak adil karena status kepegawaian berbeda. PNS berhak mendapat gaji jutaan sesuai peraturan pemerintah No.30 tahun 2015, sedangkan GTT menerima ratus ribuan saja. Hanya cukup untuk membeli bahan bakar sebagai sarana transportasi menuju sekolah.
Seluruh hidup GTT didedikasikan untuk pekerjaan yang dijalani. Kesempatan dan peluang pekerjaan lain tidak diambil demi melakukan pembelajaran dan pendampingan terhadap peserta didik. Tujuannya agar peserta didik menguasai materi yang diajarkan, memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Kelak hidupnya lebih bermartabat dan berguna bagi nusa, bangsa, dan negara.
Praktis seluruh pikiran, perasaan, waktu, dan tenaga tercurahkan di lembaga pendidikan. Sekarang tuntutan peningkatan mutu pendidikan sangat tinggi. Orang tua dan peserta didik sadar mutu pendidikan. Diperlukan penguasaan materi pelajaran dan cara penyampaian secara cepat dan tepat. Seperti diketahui pintar dan menguasai ilmu belum cukup bagi seorang guru, namun dituntut mentransfer ilmunya kepada peserta didik.
Bahagia di Hari Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum membahagiakan seluruh jajaran dan lembaga pendidikan. Upacara rutin dilaksanakan di sekolah, Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah, dan Kementerian Pendidikan. Seperti perayaan pesta ulang tahun, semua unsur dan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merayakan penuh sukacita.
Mengadakan acara tumpengan atau makan bersama. Dinikmati ala pesta di taman penuh kebahagiaan. Sekolah sepantasnya menjadi taman menyenangkan. Aneka tanaman tumbuh subur dan hijau. Halaman bersih dan tidak ada sampah berserakan. Gurunya ramah dan bersahabat dengan anak dan orang tua, namun ketertiban dan disiplin terjaga.
Perlu menyelenggarakan pameran pendidikan untuk menggambarkan kemajuan yang diraih setiap lembaga pendidikan. Pada kegiatan pameran diselenggarakan pentas seni di panggung hiburan. Anak berbakat di bidang seni menampilkan kebolehannya. Masyarakat yang mengunjungi mengapresiasi karya guru dan anak.
Setiap prestasi mendapatkan apresiasi memotivasi menghasilkan karya lebih baik lagi. Keberhasilan meraih nilai ujian tinggi dan mampu menembus sekolah favorit merupakan salah satu keberhasilan usaha guru. Begitu juga kejuaraan yang diraih oleh Insan pendidikan lainnya, baik guru maupun anak. Apabila mendapatkan penghargaan meningkatkan usaha yang dilakukan dan rajin belajar.
Marilah pada perayaan hari pendidikan Nasional tahun ini, mensyukuri yang sudah diraih dan berusaha meningkatkan kualitas pendidikan. Sekalipun berstatus GTT tetap bersyukur, karena tahun ini pemerintah daerah (Gunungkidul) melakukan pendataan kesesuaian kualifikasi pendidikan yang dimiliki sesuai bidang tugas dan masa kerjanya. Harapannya membuka jalan untuk mengubah nasib dan statusnya, sehingga menyejahterakan para GTT di seluruh Indonesia dan Gunungkidul khususnya.
Guru SDN Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Tanggal 2 Mei bertepatan dengan kelahiran tokoh pejuang pendidikan, yaitu Ki Hadjar Dewantara yang tidak kenal lelah memperjuangkan nasib rakyat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sedangkan ribuan GTT tidak mengenal lelah melayani peserta didik mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai kemanusiaan/peradaban.
Meskipun gaji/ upah yang diterima jauh dibawah UMR, namun setiap hari tetap melayani dan mendampingi peserta didik dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran meliputi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ketiga kegiatan untuk membekali anak pada kehidupan sekarang dan masa mendatang, sebab tantangan hidup anak semakin kompleks dan beragam.
Setiap sekolah kekurangan guru PNS. Hal ini disebabkan tidak adanya rekrutmen guru oleh pemerintah. Sedangkan ribuan guru aktif memasuki usia pensiun. Terjadi ketimpangan antara jumlah guru pensiun dengan kebutuhan guru aktif. Seperti dilansir Jawa Pos (18/10/2017) dalam kurun waktu 2017 sampai dengan 2021 bakal ada 295.000 guru yang pensiun.
Pada hal setiap tahun lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) meluluskan puluhan ribu sarjana, program studi Prodi keguruan. Para sarjana berkualifikasi guru tidak ada jalan lain, kecuali melakukan pengabdian di lembaga pendidikan dengan mendapatkan imbalan sangat minimal. Tidak sedikit lulusan guru bekerja di luar ijazah yang dimiliki.
Sementara itu perguruan tinggi berusaha meningkatkan mutu lulusan. Diantaranya dengan meningkatkan pendidikan dosen/ staf pengajar. Puluhan perguruan tinggi mengirimkan staf pengajar untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 maupun S3 ke berbagai perguruan tinggi ternama, baik dalam negeri maupun luar negeri. Disamping mendorong para dosen meningkatkan mutu dan jumlah penelitian.
Adapun setelah kembali ke kampus dan melaksanakan tridharma perguruan tinggi, yakni Pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Berhasil mencetak sarjana program studi keguruan, para lulusannya tidak mendapatkan tempat pengabdian sesuai proses pembelajaran yang diterima saat kuliah. Sangat sia-sia pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dipelajarinya.
Pengabdian GTT
Menjadi guru tidak tetap (GTT) melaksanakan tugas mulia. Bertugas seperti yang dilakukan guru PNS. Mulai mengajar dari jam 07.00 dan pulang pukul 14.00. Membuat administrasi pembelajaran, menilai, melakukan perbaikan dan pengayaan, sampai melaporkan hasil belajar, di akhir semester atau tahun pelajaran kepada orang tua.
Pada umumnya menerima gaji/ upah dari dana BOS. Besarnya dana Bos untuk gaji GTT 15% dari total dana yang diterima sekolah. Jumlah uang tunai yang diterima setiap bulan hanya ratusan ribu rupiah. Jauh dari mencukupi untuk biaya hidup GTT dan keluarganya. Untuk bertahan hidup harus bekerja di luar tugas mengajar, seperti menjahit, beternak, bertani, sopir, tukang ojek, dan lain-lain.
Beban tugas sama, namun menerima perlakuan tidak adil karena status kepegawaian berbeda. PNS berhak mendapat gaji jutaan sesuai peraturan pemerintah No.30 tahun 2015, sedangkan GTT menerima ratus ribuan saja. Hanya cukup untuk membeli bahan bakar sebagai sarana transportasi menuju sekolah.
Seluruh hidup GTT didedikasikan untuk pekerjaan yang dijalani. Kesempatan dan peluang pekerjaan lain tidak diambil demi melakukan pembelajaran dan pendampingan terhadap peserta didik. Tujuannya agar peserta didik menguasai materi yang diajarkan, memegang teguh nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Kelak hidupnya lebih bermartabat dan berguna bagi nusa, bangsa, dan negara.
Praktis seluruh pikiran, perasaan, waktu, dan tenaga tercurahkan di lembaga pendidikan. Sekarang tuntutan peningkatan mutu pendidikan sangat tinggi. Orang tua dan peserta didik sadar mutu pendidikan. Diperlukan penguasaan materi pelajaran dan cara penyampaian secara cepat dan tepat. Seperti diketahui pintar dan menguasai ilmu belum cukup bagi seorang guru, namun dituntut mentransfer ilmunya kepada peserta didik.
Bahagia di Hari Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum membahagiakan seluruh jajaran dan lembaga pendidikan. Upacara rutin dilaksanakan di sekolah, Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah, dan Kementerian Pendidikan. Seperti perayaan pesta ulang tahun, semua unsur dan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merayakan penuh sukacita.
Mengadakan acara tumpengan atau makan bersama. Dinikmati ala pesta di taman penuh kebahagiaan. Sekolah sepantasnya menjadi taman menyenangkan. Aneka tanaman tumbuh subur dan hijau. Halaman bersih dan tidak ada sampah berserakan. Gurunya ramah dan bersahabat dengan anak dan orang tua, namun ketertiban dan disiplin terjaga.
Perlu menyelenggarakan pameran pendidikan untuk menggambarkan kemajuan yang diraih setiap lembaga pendidikan. Pada kegiatan pameran diselenggarakan pentas seni di panggung hiburan. Anak berbakat di bidang seni menampilkan kebolehannya. Masyarakat yang mengunjungi mengapresiasi karya guru dan anak.
Setiap prestasi mendapatkan apresiasi memotivasi menghasilkan karya lebih baik lagi. Keberhasilan meraih nilai ujian tinggi dan mampu menembus sekolah favorit merupakan salah satu keberhasilan usaha guru. Begitu juga kejuaraan yang diraih oleh Insan pendidikan lainnya, baik guru maupun anak. Apabila mendapatkan penghargaan meningkatkan usaha yang dilakukan dan rajin belajar.
Marilah pada perayaan hari pendidikan Nasional tahun ini, mensyukuri yang sudah diraih dan berusaha meningkatkan kualitas pendidikan. Sekalipun berstatus GTT tetap bersyukur, karena tahun ini pemerintah daerah (Gunungkidul) melakukan pendataan kesesuaian kualifikasi pendidikan yang dimiliki sesuai bidang tugas dan masa kerjanya. Harapannya membuka jalan untuk mengubah nasib dan statusnya, sehingga menyejahterakan para GTT di seluruh Indonesia dan Gunungkidul khususnya.
Guru SDN Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Comments
Post a Comment