oleh : Yuliyanto
Orang literat menemu baling
Perkemahan akhir tahun yang diselenggarakan di bumi perkemahan Mudal Sentolo Lor Sentolo Kulon Progo sudah sering dilakukan oleh SMP Negeri 2 Moyudan. Beberapa kali angkatan siswa melaksanakan perkemahan di tempat tersebut. Fasilitas yang ada tidaklah begitu lengkap dan bagus, namun cukup representative untuk mendidik siswa memiliki jiwa dan semangat yang tertuang dalam Dasa Dharma Pramuka. Bumi perkemahan terletak di tanah milik dinas pengairan, di mana tanah tersebut dahulu digunakan sebagai basecamp untuk membangun sebuah sodetan sungai.
Sodetan sungai diperlukan karena wilayah tersebut berpotensi terjadi banjir apabila hujan deras karena sungai yang relatif kecil dengan tampungan dari berbagai wilayah potensi hujan. Tentu saja kalau terjadi banjir banyak warga dirugikan, apalagi di sebelah selatan agak ke barat terdapat Stasiun Sentolo dengan rangkaian rel kereta apinya. Setelah proyek pembangunan selesai tanah itu pun menjadi tanah yang tidur. Atas inisiatif warga setempat, di tanah tersebut ditanami tanaman tanaman keras seperti Akasia dan Ketepeng. Tanaman tersebut sudah menjulang tinggi, sehingga menjadi cukup sejuk dan teduh lokasi perkemahan. Lebih menarik tanaman tanaman keras berdiri kokoh di pinggir-pinggir lahan atau lapangan, sehingga tidak mengganggu apabila di tengah lapangan digunakan untuk aktivitas.
Kontur tanah yang tidak tidak terlalu keras, kemiringan tanah yang tidak rata memang kurang begitu nyaman untuk hunian sementara di tenda. Barangkali terkendala dana untuk meratakan tanah yang cukup luas. Tanah rata ada di tengah lapangan. Kurang lebih sekitar 3 kali lapangan bola voli. Dengan luasan itu tentu saja tidak dapat menampung cukup banyak peserta perkemahan. Namun untuk posisi upacara saja dapat menampung sekitar 300 sampai 400 peserta.
Hal yang cukup menarik di sebelah selatan bumi perkemahan terdapat lorong besar berupa sodetan tanah untuk saluran air pembuangan apabila terjadi hujan besar agar tidak banjir daerah tersebut. Gorong-gorong raksasa tersebut tingginya sekitar 6 - 7 meter, lebar sekitar 4 meter dengan panjang kurang lebih 250 meter melintasi di bawah rel kereta api Stasiun Sentolo dan Jalan Wates. Dengan lorong sepanjang itu maka, kondisi di dalam lorong cukup gelap walaupun di siang hari panas terik. Air yang mengalir pun tidak deras karena hanya merupakan saluran pembuangan darurat.
Untuk kegiatan adventure atau outbound ringan bagi satuan khusus anggota penggalang dapat melewati lorong tersebut dengan kehati-hatian dan doa-doa. Melewati dalam lorong terdapat bau yang sangat menyengat dari kotoran kelelawar yang berjumlah ribuan bahkan mungkin jutaan. Kelelawar menggantung di dinding atas lorong, dan apabila melewati regu khusus di daerah tengah suara cuitan kelelawar riuh rendah membuat suasana gaduh di dalam. Dengan hal seperti ini biasanya anggota penggalang putri diuji nyali dan mentalnya. Dengan bimbingan kakak pembina seluruh peserta yang melintasi tidak ada masalah.
Di ujung lorong terang benderang dan sesekali para peserta melihat ke atas kembali dan melihat banyak sekali tergantung rumah-rumah kecil bagi lebah bukan madu, dalam bahasa setempat sering disebut sebagai tawon ndhas. Meneruskan perjalanan dan menaiki tangga di sebelah kanan dan berbalik arah harus menyeberang jalan Wates yang cukup ramai, kemudian menyeberangi rel kereta api dan sampailah kembali di bumi perkemahan.
Yang menarik ketika sore hari sekitar 10 menit sebelum adzan maghrib, ribuan bahkan mungkin jutaan kelelawar keluar dari sarangnya dengan diiringi suara cuitan yang riuh rendah. Biasanya anak-anak anggota penggalang kemudian berkonsentrasi melihat terbangnya ribuan kelelawar untuk menuju ke tempat perburuan. Kelelawar ini berburu makanan dengan berbagai jenis makanan kesukaan seperti serangga kecil ataupun buah-buahan. Dengan melihat ribuan bahkan jutaan kelelawar timbul suatu perenungan betapa hebatnya Yang Maha Kuasa memberikan makanan kepada kelelawar yang jumlahnya hampir tidak terkira. Mereka semua berangkat sore dan pulang pagi dalam keadaan tembolok nya kenyang. Kembali tidur di langit-langit lorong.
Kemana perginya kelelawar tersebut? Tidak ada yang tahu persis, tetapi besar kemungkinan menuju tempat perguruan yang terdapat di seluruh area Kulon Progo dan sekitarnya. Ada yang berburu buah-buahan di perkampungan penduduk maupun di hutan-hutan lindung milik pemerintah, makanan yang masih tersedia banyak dapat diindikasikan dengan banyaknya kelelawar hidup di lorong tersebut. Di daerah Kulon Progo terdapat banyak pula gua-gua yang ada di daerah pegunungan. Gua Kiskendo, gua Sriti, dan gua-gua kecil lainnya yang didalamnya juga dihuni oleh banyak sekali kelelawar. Kelelawar ini semuanya makan tiap hari denfan berburu di malam hari. Dan semuanya terjamin hidupnya dengan kenyang sehingga bisa berkembang biak sesuai dengan kodrat Ilahi. Mampukah orang terkaya di Indonesia memberikan makan kelelawar yang tinggal di daerah Kulon Progo? Rasa-rasanya tidak mungkin memiliki kekayaan sebesar apapun untuk memberi makan kelelawar ini. Barangkali satu malam saja sudah habis kekayaannya untuk memberi makan kelelawar ini.
Tapi di alam ternyata makanan begitu melimpah untuk kelelawar, melimpahnya makanan ini mengindikasikan Yang Maha kaya telah menyediakan kekayaannya untuk persediaan makan komunitas kelelawar. Komunitas kelelawar hidup dengan nyaman berkembang biak dan ikut menjaga keseimbangan ekosistem sehingga semuanya berjalan sesuai dengan kodrat Ilahi pula. Kalau sudah demikian terlihat kecil manusia dihadapan Tuhan. Hanya manusia yang berpikir dilambari dengan iman akan semakin bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Semoga belajar dari kelelawar ini seluruh siswa penggalang semakin sadar akan posisi dirinya di hadapan manusia yang lain, di alam semesta dan di hadapan Yang Maha Kuasa.
Sabtu 14 April 2018 at 24.15
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
Comments
Post a Comment