Inspirasi Jurnalis di Ruang Parangtritis


Guru dalam bertugas di kelas pasti menulis. Menulis itu mudah dan menyenangkan. Tempat menuangkan tulisan di papan tulis, buku/ kertas, komputer, tab, gawai, dan lain-lain. Materi tulisan dari yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami. Berani menuliskan dari keempat hal tersebut sangat hebat.

Empat jurnalis, yaitu YB Margantara, AG Irawan, Gunawan K Wibisono, dan Praba Pangripta menjadi pemateri dalam Diklat jurnalistik. Diklat berlangsung dari Senin sampai dengan Jumat, tanggal 16 sampai dengan 20 April 2018. Pesertanya para guru SD, SMP/MTS, dan SMA/K se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bertempat di ruang Parangtritis Hotel New Saphir Yogyakarta. Mereka memberikan materi yang sangat inspiratif. Tip-tip sederhana untuk menghasilkan tulisan, seperti fakta, opini, dan feature.

Narasumber mengajak peserta menjadi penulis di Majalah Candra. Naskah dikirimkan ke alamat Jalan Cendana nomor 9 Yogyakarta. Bagi yang dimuat mendapatkan imbalan yang pantas. Bagi guru PNS mendapatkan dua keuntungan yakni poin dan koin. Poin angka untuk kenaikan pangkat dan koin menambah uang belanja.

Pemateri juga mengajak peserta untuk bergabung dalam komunitas sahabat Candra. Di dalam komunitas melakukan sharing and gathering dalam rangka meningkatkan kompetensi di bidang kepenulisan. Kegiatan saling asah dan asuh meningkatkan dan mengembangkan potensi. Menyebarkan ilmu tidak akan mengurangi jumlah ilmu yang dimiliki. Bertambah ilmunya juga tidak menambah besar kepala atau badannya.

Kegiatan menulis berita di surat kabar termasuk jenis fakta. Menggunakan kata sakti "Menjerit," yakni menarik, jelas, ringkas, dan tertib. Untuk menembus di surat kabar dimulai dengan menulis pada kolom suara pembaca. Mengirimkan tulisan penerbitan dikembalikan dan belum dimuat tidak boleh putus asa. Terus belajar dan menulis.

Format menulis opini dimulai dengan menuliskan judul, pendahuluan, uraian persoalan, gagasan, dan pandangan kritis penulis.Judul harus menendang/ menggigit dan tidak lebih dari lima kata. Membahas pendahuluan 2 alinea. Menguraikan persoalan kira-kira 2 sampai 3 alinea. Mengembangkan gagasan 6 sampai 8 alinea. Menuliskan pandangan kritis sebanyak 4 atau alinea.

Enam kata tanya atau yang lebih dikenal dengan istilah 5 W plus 1 H mendapatkan jawaban dari tulisan. Keenam kata adalah siapa, apa, di mana, berapa, mengapa, dan bagaimana. Untuk menjawab secara urut dan logis harus rajin belajar dan membaca. Mengasah pikiran supaya tajam dan peka menangkap sumber tulisan.

Menulis fiksi lebih mudah lagi. Sambil melamun menjadi tulisan. Hasil merenung menginspirasi pembaca. Pembaca berbuat dan bersikap sesuai imajinasi penulis. Menanamkan dan mengembangkan karakter terintegrasi dalam bacaan. Cerita kepahlawanan, kejujuran, kedisiplinan, dan  tanggung jawab mengilhami pecinta dan penikmat karya fiksi.

Secara redaksional memiliki kesalahan lebih dari sepuluh tidak layak terbit. Selesai menulis harus dilakukan cek dan recek.Menghindari salah tulis, salah kutip,tanda baca tidak tepat, dan sebagainya. Penulis perlu membaca berulang-ulang dan tidak perlu tergesa-gesa.

Kehidupan lebah menjadi materi tulisan. Ketekunan dan pembagian kerja jelas. Sang ratu melindungi seluruh warga. Lebah perempuan mencari madu ke seluruh penjuru yang ada bunga mekar. Terbang mengitari seperempat luas bumi. Masa hidup lebah selama 6 minggu. Umur pendek memberikan manfaat makhluk lain karena menghasilkan madu.

Sekolah membuat koran sekolah untuk mewartakan kegiatan sekolah. Kepala sekolah bersama guru membentuk tim redaksi. Pembelajaran, praktek di laboratorium, permainan, dan kegiatan ekstrakurikuler merupakan objek berita.  Peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah meraih kejuaraan diwartakan. Citra sekolah semakin meningkat.

Banyak orang mengetahui praktek baik sekolah. Implementasi kurikulum berbasis budaya, manajemen sekolah yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Penanaman pembiasaan dan  pengembangan karakter, pembelajaran menghadapi lomba, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan Budi pekerti luhur.

Data dan tulisan yang dirilis sekolah meyakinkan masyarakat. Banyak memiliki prestasi diminati orang tua. Belum waktunya pendaftaran peserta didik baru (PPDB), melakukan indent. Panitia PPDB menyeleksi calon peserta didik. Menerima sesuai dengan kuota dan menolak sesuai dengan petunjuk teknis.

Karya tulis bertahan lama. Banyak generasi menikmati bacaan. Banyak orang mengutip sebagian tulisan yang dianggap penting. Buku dicetak ulang berkali-kali.Guru wajib menuliskan ilmu yang diberikan kepada peserta didik agar tidak mudah hilang dan  menjadi sumber ilmu.

Comments