By Khairuddin
Setelah serangkaian show Gorontalo 16 to 19 April yang ditutup oleh pelantikan IGMP Matematika Propinsi Gorontalo, malam harinya (19 Apr) kami dijamu oleh Pak Yusnan Jusuf Ekie, Waketum PP IGI Regional SulutGo, sekaligus Kepala Sekolah SMA Terpadu Wira Bhakti. Masuk kantornya yang nyaman, kami langsung dihadiahkan penutup kepala khas Gorontalo. Saya dihadiahkan Upiya Karanji, Kopiah anyaman buatan tangan yang juga pernah dipakai oleh Presiden Gus Dur serta Jokowi hingga beberapa Menteri. Sementara Sekretaris Jenderal IGMP Matematika Pusat bu Chandra Sri Ubayanti mendapat bingkisan jilbab Sulam Karawo.
Di meja tamu sudah tersedia makan malam yang lezat. Saya harus sering2 menggeser letak duduk saya, bukan karena siswi yang diminta mendampingi kami berbicara bahasa Inggris dengan saya, bukan juga saya belum mandi krn langsung di"culik" ke sekolah. Namun karena saya harus mengosongkan bagian perut dengan cara menggoyang-goyang agar menu lezat di depan bisa saya lahap, itu juga karena sebelumnya secara meriah kami dijamu oleh IGIers Gorontalo, bu Ummu Zahtia, pak Bobby Gani serta bu Rahmawaty Polontalo dan kawan-kawan setelah kegiatan.
Menu di depan itu olahan ikan Nike, ikan teri yang sekilas mirip teri Medan namun ternyata Nike punya garis-garis hitam melintang rapi membentuk belang pada tubuhnya. Masakan khas Gorontalo itu spicy, agak pedas di lidah saya. Namun rasa pedas itu tiba-tiba hilang saat pak Yusnan membisiki saya, "Bapak tolong beri pengarahan bagi siswa-siswi kami saat apel nanti". Seketika pikiran saya menari-menari seperti ikan Nike menggelepar ke darat saat masih hidup. Saya mau bilang apa ?, ngomong apa di hadapan siswa siswi yang merupakan hasil seleksi terbaik Indonesia ini. Lah saya sendiri saat SMA bukan siswa rangking, tak ada prestasi kecuali jika provokasi diperlombakan saat itu mgkn saya bisa masuk nominasi. Mau nolak, ikan Nike sudah banyak nyemplung ke usus, bisa-bisa mengecewakan pak Kepala Sekolah, bisa bermasalah saya.
Setelah jamuan Nike yang mengesankan itu, sofa sudah menanti di hadapan para siswa, degup jantung berkuadrat. Bicara di depan siswa sesuatu yang biasa, di hadapan para profesor juga sudah lazim. Hanya sesuatu yang dadakan pasti jadi keringetan. Ketua Senat Wira Bhakti cukup cakap menyusun bahasa beretorika, Pak Kepsek pun tak kalah santun memberi motivasi religius bagi siswa. Giliran saya didapuk setelahnya. Akhirnya keluar juga isi pikiran saya, tentang nilai-nilai yang ditanam oleh Ayah saya tentang menjadi laki-laki itu adalah pemimpin, berani menerima tantangan, berani berdiri untuk sebuah prinsip, berani tampil beda agar tidak rata-rata. Karena itu menjadi hebat berarti punya mental untuk ditempa, diproses, dihaluskan hingga menjadi indah pada waktunya. Tidak instan, harus kuat dan bersabar. Di akhir sesi sebelum doa, bu Chandra menceritakan sulungnya di SMA Taruna Nusantara Magelang yang kiranya bisa memotivasi siswa siswi di Wira Bhakti karena sekolahnya sefrekuensi.
Saya terkesan dengan sekolah ini, meski berhaluan semi militer, namun salah satu visi sekolah ini menjadikan siswa siswinya sebagai pribadi muslim. Barisan berdiri apel saja terpisah laki-laki dan perempuan. Ini agak berbeda dengan banyak sekolah di Aceh yang upacaranya masih campur laki-laki perempuan. Di sisi lain mengingat sekolah ini milik Wiranto yang menjadi bagian kabinet Presiden Jokowi, saya malah agak tersenyum tidak menyangka. Ternyata pak Wiranto pribadi muslim yang taat, hingga sekolahnya pun bervisi Islam. Senyumnya karena isu yang sedang digoreng untuk pemerintahan Jokowi berhaluan komunis.
Terlebih mengingat pak Wiranto, punya partai politik tapi tidak berhaluan Islam, mungkin benar kata teman-temanku, banyak parpol tipu-tipu, visinya saja yang Islam. Di sisi lain, saya percaya sebuah slide yang ditampilkan oleh Prof Barry Kissane dari Australia, bahwa untuk merubah tatanan kehidupan di dunia, mulailah dari doktrin di dunia pendidikan. Artinya kalau memang mau membuat tatanan masyarakat Islami, maka mulailah dari doktrin di sekolah, terlebih seperti sekolah Wira Bhakti cukup berpotensi melaksanakan hal tersebut dengan disiplin yang tinggi dan sekolah boarding. Kenyataannya pernah ada anak dari luar yang akhirnya menjadi muallaf karena keinginan kuatnya bersekolah di sini.
Jika pemerintah berhaluan komunis apa mungkin instansi pendidikan milik anggota kabinet bervisi Islam.
Tabayyun
Gorontalo 20 April 2018
Coretan di langit sulawesi menuju sumatera
Setelah serangkaian show Gorontalo 16 to 19 April yang ditutup oleh pelantikan IGMP Matematika Propinsi Gorontalo, malam harinya (19 Apr) kami dijamu oleh Pak Yusnan Jusuf Ekie, Waketum PP IGI Regional SulutGo, sekaligus Kepala Sekolah SMA Terpadu Wira Bhakti. Masuk kantornya yang nyaman, kami langsung dihadiahkan penutup kepala khas Gorontalo. Saya dihadiahkan Upiya Karanji, Kopiah anyaman buatan tangan yang juga pernah dipakai oleh Presiden Gus Dur serta Jokowi hingga beberapa Menteri. Sementara Sekretaris Jenderal IGMP Matematika Pusat bu Chandra Sri Ubayanti mendapat bingkisan jilbab Sulam Karawo.
Di meja tamu sudah tersedia makan malam yang lezat. Saya harus sering2 menggeser letak duduk saya, bukan karena siswi yang diminta mendampingi kami berbicara bahasa Inggris dengan saya, bukan juga saya belum mandi krn langsung di"culik" ke sekolah. Namun karena saya harus mengosongkan bagian perut dengan cara menggoyang-goyang agar menu lezat di depan bisa saya lahap, itu juga karena sebelumnya secara meriah kami dijamu oleh IGIers Gorontalo, bu Ummu Zahtia, pak Bobby Gani serta bu Rahmawaty Polontalo dan kawan-kawan setelah kegiatan.
Menu di depan itu olahan ikan Nike, ikan teri yang sekilas mirip teri Medan namun ternyata Nike punya garis-garis hitam melintang rapi membentuk belang pada tubuhnya. Masakan khas Gorontalo itu spicy, agak pedas di lidah saya. Namun rasa pedas itu tiba-tiba hilang saat pak Yusnan membisiki saya, "Bapak tolong beri pengarahan bagi siswa-siswi kami saat apel nanti". Seketika pikiran saya menari-menari seperti ikan Nike menggelepar ke darat saat masih hidup. Saya mau bilang apa ?, ngomong apa di hadapan siswa siswi yang merupakan hasil seleksi terbaik Indonesia ini. Lah saya sendiri saat SMA bukan siswa rangking, tak ada prestasi kecuali jika provokasi diperlombakan saat itu mgkn saya bisa masuk nominasi. Mau nolak, ikan Nike sudah banyak nyemplung ke usus, bisa-bisa mengecewakan pak Kepala Sekolah, bisa bermasalah saya.
Setelah jamuan Nike yang mengesankan itu, sofa sudah menanti di hadapan para siswa, degup jantung berkuadrat. Bicara di depan siswa sesuatu yang biasa, di hadapan para profesor juga sudah lazim. Hanya sesuatu yang dadakan pasti jadi keringetan. Ketua Senat Wira Bhakti cukup cakap menyusun bahasa beretorika, Pak Kepsek pun tak kalah santun memberi motivasi religius bagi siswa. Giliran saya didapuk setelahnya. Akhirnya keluar juga isi pikiran saya, tentang nilai-nilai yang ditanam oleh Ayah saya tentang menjadi laki-laki itu adalah pemimpin, berani menerima tantangan, berani berdiri untuk sebuah prinsip, berani tampil beda agar tidak rata-rata. Karena itu menjadi hebat berarti punya mental untuk ditempa, diproses, dihaluskan hingga menjadi indah pada waktunya. Tidak instan, harus kuat dan bersabar. Di akhir sesi sebelum doa, bu Chandra menceritakan sulungnya di SMA Taruna Nusantara Magelang yang kiranya bisa memotivasi siswa siswi di Wira Bhakti karena sekolahnya sefrekuensi.
Saya terkesan dengan sekolah ini, meski berhaluan semi militer, namun salah satu visi sekolah ini menjadikan siswa siswinya sebagai pribadi muslim. Barisan berdiri apel saja terpisah laki-laki dan perempuan. Ini agak berbeda dengan banyak sekolah di Aceh yang upacaranya masih campur laki-laki perempuan. Di sisi lain mengingat sekolah ini milik Wiranto yang menjadi bagian kabinet Presiden Jokowi, saya malah agak tersenyum tidak menyangka. Ternyata pak Wiranto pribadi muslim yang taat, hingga sekolahnya pun bervisi Islam. Senyumnya karena isu yang sedang digoreng untuk pemerintahan Jokowi berhaluan komunis.
Terlebih mengingat pak Wiranto, punya partai politik tapi tidak berhaluan Islam, mungkin benar kata teman-temanku, banyak parpol tipu-tipu, visinya saja yang Islam. Di sisi lain, saya percaya sebuah slide yang ditampilkan oleh Prof Barry Kissane dari Australia, bahwa untuk merubah tatanan kehidupan di dunia, mulailah dari doktrin di dunia pendidikan. Artinya kalau memang mau membuat tatanan masyarakat Islami, maka mulailah dari doktrin di sekolah, terlebih seperti sekolah Wira Bhakti cukup berpotensi melaksanakan hal tersebut dengan disiplin yang tinggi dan sekolah boarding. Kenyataannya pernah ada anak dari luar yang akhirnya menjadi muallaf karena keinginan kuatnya bersekolah di sini.
Jika pemerintah berhaluan komunis apa mungkin instansi pendidikan milik anggota kabinet bervisi Islam.
Tabayyun
Gorontalo 20 April 2018
Coretan di langit sulawesi menuju sumatera
Comments
Post a Comment