Oleh : Yuliyanto
#Orang literat menemu baling
Menjadi penulis barangkali bukanlah cita-cita yang keren. Tetapi terdampar dan menjadi penulis bukanlah sesuatu yang buruk. Banyak penulis terkenal dengan tidak memiliki latar belakang pendidikan kepenulisan yang baik. Tetapi mereka bisa mempengaruhi orang lain dengan tulisan yang enak dibaca oleh warga ditingkat lokal bahkan dengan bantuan terjemah dapat dengan enak pula dibaca ditingkat internasional. Pengaruh positif atau negatif dari tulisannya memang tergantung dari pembaca yang mengapresiasi dengan gaya masing-masing. Penulis yang idealis tentunya mengharapkan apresiasi positif dari pembaca sehingga pengaruhnya benar-benar bisa sesuai dengan harapan.
Apresiasi positif dari harapan negatif pun bisa terlaksana dengan bentuk tulisan yang mengarah ke negatif. Apakah ada tulisan yang mengarah ke nilai negatif? Ada beberapa tulisan yang mempermudah jalan menuju ke nilai-nilai negatif dari unsur pembangun nilai moral. Tulisan bagaimana cara kaya dengan mudah yang menuliskan dengan detail bagaimana cara-cara itu dengan cara alami maupun dengan cara yang tidak bermoral. Cara ini bisa diikuti oleh orang yang ingin kaya tanpa usaha yang normatif. Kalau sudah demikian penulis tentunya ikut mempromosikan kejelekan dari tulisannya. Provokasi dari penulis menjadikan pembaca mengikuti kejelekan dari apa yang ditulisnya.
Memang nilai negatif dari suatu moral tergantung dari keyakinan maupun norma daerah tertentu. Bagi kalangan tertentu nilai itu negatif tetapi bagi orang lain ada nilai tertentu itu dipandang biasa saja atau bahkan itu sebagai sesuatu yang normal dan bahkan positif. Oleh karena itu pangsa pasar atau calon pembaca yang menjadi tujuan dari tulisan perlu dipetakan dengan baik. Jikalau tulisan ditujukan kepada kelompok cendekia yang bermoral tipe tertentu tentunya belum tentu cocok dengan tipe yang lain. Kesesuaian antara pangsa pembaca dengan isi tulisan menjadikan enak bagi semuanya. Kejelian melihat hal ini tentunya dapat meminimalkan terjadinya kontraproduktif dari hasil tulisan.
Dari hasil tulisan yang bernuansakan kebaikan secara normatif umum, tentunya tidak menjadi masalah. Karena secara umum moral dan kebaikan menjadi dambaan bagi semua orang. Bahkan seringkali kita mendengar ungkapan bahwa seorang penjahat tidak ingin orang-orang disekitarnya atau keturunannya menjadi orang-orang yang jahat pula. Dengan norma ini sudah semestinya lah kalau sebagai penulis hal baik lah yang ditulis. Hal baik ditulis kadangkala masih berbuah keburukan bagi si pembaca maupun orang lain. Oleh karena itu selayaknya lah penulis bermoral tinggi dengan keyakinan yang benar hanya menulis hal-hal tentang kebaikan.
Bersungguh-sungguh atau dalam bahasa lain adalah berjihad sebagai penulis perlu keteguhan hati dalam menegakkan norma-norma yang baik bagi masyarakat. Kemantaban jiwa untuk menebarkan kebaikan tercermin dari bentuk tulisan karya-karyanya yang selalu bernuansakan mengajak kebaikan walaupun tidak dengan kata-kata ayo dan lain sebagainya. Tulisan apapun dengan gaya bahasa yang enak menyentuh permasalahan yang sesungguhnya dan esensial dalam menjaga moralitas merupakan jihad kebaikan yang sesungguhnya.
Mulutmu adalah harimaumu, peribahasa ini tepat pula bagi penulis. Karena saat ini dengan metode menemu baling menulis dapat dilakukan dengan mulut. Yang berarti begitu mengucapkan kata-kata sudah menjadi tulisan. Tulisan inilah yang merupakan buah pikiran yang diucapkan sehingga tulisan selayaknya seperti mulut dan menjadi harimau bagi yang mengucapkannya. Apapun yang kita katakan dan sudah menjadi tulisan menjadi tanggung jawab dari si pengucap kata-kata tersebut. Tanggung jawabnya sampai nanti apabila kita sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Maka semestinya lah hanya ucapan yang baik keluar dari mulut penulis bermoral, penulis yang menjaga ruh jihad pada dirinya.
Dalam ajaran moral tinggi dikatakan, berkata-kata lah yang baik dan apabila tidak bisa berkata baik lebih baik kau diam. Tentu saja hal ini mengisyaratkan bahwa kita harus berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata. Saat ini kata-kata yang muncul dari mulut bisa menjadi tulisan dalam gawai kita. Menjadi artikel yang bisa dibaca oleh banyak orang dan bisa bermanfaat baik maupun buruk bagi orang lain. Berbahaya sekali apabila kata-kata yang kita tuliskan menjadi tulisan yang sulit untuk dihapus di hati orang-orang yang mendengar ucapan kita. Menulis dengan mulut atau menemu yang paling berbahaya memang kalau hasil tulisannya sudah terpatri dalam hati orang yang membaca dari tulisan kita.
Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, ucapan, dan apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Kuasa. Yang kita ucapkan dan menjadi tulisan mempengaruhi jiwa orang lain, mempengaruhi perilaku orang lain, bahkan dapat mempengaruhi Iman orang lain. Betapa dahsyatnya pengaruh tulisan bagi orang yang membacanya. Mengetahui begitu dahsyatnya pengaruh ini maka tiada kata lain penulis harus betul-betul berjihad dengan moralitas tinggi untuk kebaikan. Hal-hal baik yang diucapkannya berharap betul menjadi kebaikan bagi orang lain yang nanti akan meringankan beban ketika harus mempertanggungjawabkan apapun yang kita ucapkan.
Apabila kita menulis dan ada satu orang mengikuti tulisan kita dalam kebaikan maka kita akan mendapatkan pahala orang yang mengikuti kita tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Hal ini berlaku pula dengan tulisan sesuatu yang bernuansakan keburukan. Apabila ada satu orang mengikuti keburukan yang kita tuliskan, mengikuti apa yang menjadi buah pikiran kita dan itu adalah keburukan, maka keburukan itu pun akan kembali kepada kita sebagai dosa. Sampai bertahan di mana tulisan kita dan dibaca oleh siapa? Kalau tulisan kita berhenti dan tidak ada orang lain yang melanjutkan sehingga tidak ada yang mengikuti keburukan maka bersyukurlah karena keburukan itu berhenti. Namun jika tulisan kita dilanjutkan kepada orang lain, dan kita tahu saat ini penyebaran tulisan dapat dalam hitungan detik ke mana-mana ke seluruh penjuru dunia. Sehingga banyak orang yang mengikuti tulisan kita, menjadi saksi mereka nanti di akhirat bahwa kita pernah berbuat buruk dengan tulisan atau setidaknya orang tersebut berbuat buruk karena terinspirasi oleh tulisan-tulisan kita. Lalu bagaimana mempertanggungjawabkan ucapan kita yang menjadi tulisan di hadapan Sang Pencipta?
Followers dari tulisan kita akan menjadi saksi di masa pertanggungjawaban. Kebaikan yang kita tulis diikuti oleh banyak orang kebaikan pula akan kembali kepada kita. Keburukan yang kita tulis dan diikuti oleh banyak orang akan menjadi keburukan pula bagi kita. Karena hakikatnya apabila kita berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali kepada kita, pun sebaliknya apabila kita berbuat jahat maka perbuatan Itu kembali kepada kita. Tentu saja perbuatan ini termasuk bagaimana ucapan kita karena ucapan merupakan perbuatan hati dan pikiran yang dimanifestasikan dalam bentuk kata-kata dan saat ini bisa dimanfaatkan pula menjadi tulisan.
Semoga kawan-kawan penulis tersadarkan bahwa yang dituliskan haruslah bernilai kebaikan. Karena menjaga moral diri itu suatu kewajiban, menjaga moral orang lain melalui tulisan-tulisan kita itu pun merupakan jihad yang luar biasa. Semoga kesadaran ini segera ada pada kawan-kawanku dan diriku, sehingga buah manis dari ucapan dan tulisan kita akan terus menerus mengalir pahala kebaikan sebagai nilai jihad, jihadnya seorang penulis. Penulis sejati akan menjaga moralitas dengan jihad yang sesungguhnya.
Kamis 26 April 2018 at 16.30
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
#Orang literat menemu baling
Menjadi penulis barangkali bukanlah cita-cita yang keren. Tetapi terdampar dan menjadi penulis bukanlah sesuatu yang buruk. Banyak penulis terkenal dengan tidak memiliki latar belakang pendidikan kepenulisan yang baik. Tetapi mereka bisa mempengaruhi orang lain dengan tulisan yang enak dibaca oleh warga ditingkat lokal bahkan dengan bantuan terjemah dapat dengan enak pula dibaca ditingkat internasional. Pengaruh positif atau negatif dari tulisannya memang tergantung dari pembaca yang mengapresiasi dengan gaya masing-masing. Penulis yang idealis tentunya mengharapkan apresiasi positif dari pembaca sehingga pengaruhnya benar-benar bisa sesuai dengan harapan.
Apresiasi positif dari harapan negatif pun bisa terlaksana dengan bentuk tulisan yang mengarah ke negatif. Apakah ada tulisan yang mengarah ke nilai negatif? Ada beberapa tulisan yang mempermudah jalan menuju ke nilai-nilai negatif dari unsur pembangun nilai moral. Tulisan bagaimana cara kaya dengan mudah yang menuliskan dengan detail bagaimana cara-cara itu dengan cara alami maupun dengan cara yang tidak bermoral. Cara ini bisa diikuti oleh orang yang ingin kaya tanpa usaha yang normatif. Kalau sudah demikian penulis tentunya ikut mempromosikan kejelekan dari tulisannya. Provokasi dari penulis menjadikan pembaca mengikuti kejelekan dari apa yang ditulisnya.
Memang nilai negatif dari suatu moral tergantung dari keyakinan maupun norma daerah tertentu. Bagi kalangan tertentu nilai itu negatif tetapi bagi orang lain ada nilai tertentu itu dipandang biasa saja atau bahkan itu sebagai sesuatu yang normal dan bahkan positif. Oleh karena itu pangsa pasar atau calon pembaca yang menjadi tujuan dari tulisan perlu dipetakan dengan baik. Jikalau tulisan ditujukan kepada kelompok cendekia yang bermoral tipe tertentu tentunya belum tentu cocok dengan tipe yang lain. Kesesuaian antara pangsa pembaca dengan isi tulisan menjadikan enak bagi semuanya. Kejelian melihat hal ini tentunya dapat meminimalkan terjadinya kontraproduktif dari hasil tulisan.
Dari hasil tulisan yang bernuansakan kebaikan secara normatif umum, tentunya tidak menjadi masalah. Karena secara umum moral dan kebaikan menjadi dambaan bagi semua orang. Bahkan seringkali kita mendengar ungkapan bahwa seorang penjahat tidak ingin orang-orang disekitarnya atau keturunannya menjadi orang-orang yang jahat pula. Dengan norma ini sudah semestinya lah kalau sebagai penulis hal baik lah yang ditulis. Hal baik ditulis kadangkala masih berbuah keburukan bagi si pembaca maupun orang lain. Oleh karena itu selayaknya lah penulis bermoral tinggi dengan keyakinan yang benar hanya menulis hal-hal tentang kebaikan.
Bersungguh-sungguh atau dalam bahasa lain adalah berjihad sebagai penulis perlu keteguhan hati dalam menegakkan norma-norma yang baik bagi masyarakat. Kemantaban jiwa untuk menebarkan kebaikan tercermin dari bentuk tulisan karya-karyanya yang selalu bernuansakan mengajak kebaikan walaupun tidak dengan kata-kata ayo dan lain sebagainya. Tulisan apapun dengan gaya bahasa yang enak menyentuh permasalahan yang sesungguhnya dan esensial dalam menjaga moralitas merupakan jihad kebaikan yang sesungguhnya.
Mulutmu adalah harimaumu, peribahasa ini tepat pula bagi penulis. Karena saat ini dengan metode menemu baling menulis dapat dilakukan dengan mulut. Yang berarti begitu mengucapkan kata-kata sudah menjadi tulisan. Tulisan inilah yang merupakan buah pikiran yang diucapkan sehingga tulisan selayaknya seperti mulut dan menjadi harimau bagi yang mengucapkannya. Apapun yang kita katakan dan sudah menjadi tulisan menjadi tanggung jawab dari si pengucap kata-kata tersebut. Tanggung jawabnya sampai nanti apabila kita sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Maka semestinya lah hanya ucapan yang baik keluar dari mulut penulis bermoral, penulis yang menjaga ruh jihad pada dirinya.
Dalam ajaran moral tinggi dikatakan, berkata-kata lah yang baik dan apabila tidak bisa berkata baik lebih baik kau diam. Tentu saja hal ini mengisyaratkan bahwa kita harus berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata. Saat ini kata-kata yang muncul dari mulut bisa menjadi tulisan dalam gawai kita. Menjadi artikel yang bisa dibaca oleh banyak orang dan bisa bermanfaat baik maupun buruk bagi orang lain. Berbahaya sekali apabila kata-kata yang kita tuliskan menjadi tulisan yang sulit untuk dihapus di hati orang-orang yang mendengar ucapan kita. Menulis dengan mulut atau menemu yang paling berbahaya memang kalau hasil tulisannya sudah terpatri dalam hati orang yang membaca dari tulisan kita.
Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, ucapan, dan apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Kuasa. Yang kita ucapkan dan menjadi tulisan mempengaruhi jiwa orang lain, mempengaruhi perilaku orang lain, bahkan dapat mempengaruhi Iman orang lain. Betapa dahsyatnya pengaruh tulisan bagi orang yang membacanya. Mengetahui begitu dahsyatnya pengaruh ini maka tiada kata lain penulis harus betul-betul berjihad dengan moralitas tinggi untuk kebaikan. Hal-hal baik yang diucapkannya berharap betul menjadi kebaikan bagi orang lain yang nanti akan meringankan beban ketika harus mempertanggungjawabkan apapun yang kita ucapkan.
Apabila kita menulis dan ada satu orang mengikuti tulisan kita dalam kebaikan maka kita akan mendapatkan pahala orang yang mengikuti kita tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Hal ini berlaku pula dengan tulisan sesuatu yang bernuansakan keburukan. Apabila ada satu orang mengikuti keburukan yang kita tuliskan, mengikuti apa yang menjadi buah pikiran kita dan itu adalah keburukan, maka keburukan itu pun akan kembali kepada kita sebagai dosa. Sampai bertahan di mana tulisan kita dan dibaca oleh siapa? Kalau tulisan kita berhenti dan tidak ada orang lain yang melanjutkan sehingga tidak ada yang mengikuti keburukan maka bersyukurlah karena keburukan itu berhenti. Namun jika tulisan kita dilanjutkan kepada orang lain, dan kita tahu saat ini penyebaran tulisan dapat dalam hitungan detik ke mana-mana ke seluruh penjuru dunia. Sehingga banyak orang yang mengikuti tulisan kita, menjadi saksi mereka nanti di akhirat bahwa kita pernah berbuat buruk dengan tulisan atau setidaknya orang tersebut berbuat buruk karena terinspirasi oleh tulisan-tulisan kita. Lalu bagaimana mempertanggungjawabkan ucapan kita yang menjadi tulisan di hadapan Sang Pencipta?
Followers dari tulisan kita akan menjadi saksi di masa pertanggungjawaban. Kebaikan yang kita tulis diikuti oleh banyak orang kebaikan pula akan kembali kepada kita. Keburukan yang kita tulis dan diikuti oleh banyak orang akan menjadi keburukan pula bagi kita. Karena hakikatnya apabila kita berbuat baik maka kebaikan itu akan kembali kepada kita, pun sebaliknya apabila kita berbuat jahat maka perbuatan Itu kembali kepada kita. Tentu saja perbuatan ini termasuk bagaimana ucapan kita karena ucapan merupakan perbuatan hati dan pikiran yang dimanifestasikan dalam bentuk kata-kata dan saat ini bisa dimanfaatkan pula menjadi tulisan.
Semoga kawan-kawan penulis tersadarkan bahwa yang dituliskan haruslah bernilai kebaikan. Karena menjaga moral diri itu suatu kewajiban, menjaga moral orang lain melalui tulisan-tulisan kita itu pun merupakan jihad yang luar biasa. Semoga kesadaran ini segera ada pada kawan-kawanku dan diriku, sehingga buah manis dari ucapan dan tulisan kita akan terus menerus mengalir pahala kebaikan sebagai nilai jihad, jihadnya seorang penulis. Penulis sejati akan menjaga moralitas dengan jihad yang sesungguhnya.
Kamis 26 April 2018 at 16.30
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
Comments
Post a Comment