Oleh Paimun, M.Pd
Lebih dari 100 tahun Kartini meninggalkan kita semua, namun perjuangannya selalu dikenang kaum perempuan Indonesia. Emansipasi wanita Kartini menggelorakan persamaan hak yang sama, utamanya pendidikan.
RA Kartini lahir dari seorang Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat dan seorang selir bernama Ngasirah. Sejak Kartini lahir, ia sudah bisa merasakan perbedaan hidup di antara istri sah dan juga selir.
Kartini hanya diperbolehkan sekolah sampai jenjang ELS (Europese Lagere School). Saat lulus Berusia 12 tahun, sudah waktunya dipingit seperti perempuan pada umumnya. Kartini selama dipingit tidak boleh ke mana-mana, apa lagi sekolah.
Memasak merupakan salah satu kegemaran Kartini. Kartini memasak untuk diplomasi dan menunjukan peradaban Jawa di mata Belanda. Resep makanan paling terkenal Sup Pangsit Jepara dan Ayam Besengek.
Kartini melahirkan 13 September 1904 dan meninggal 4 hari kemudian, 17 September 1904. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Di usianya ke- 20 tahun, Kartini berani menulis surat kepada pemerintahan Hindia Belanda.Surat pertama berisi pengajuan beasiswa sekolah di Belanda.Surat disetujui, setelah itu Kartini mengajukan beasiswa di Batavia. Dia menikah, beasiswa diberikan kepada Salim dari Riau.
Kartini melayangkan surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda.Pada saat itu, dimana belum ada Sumpah Pemuda, Kartini mengusulkan Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda menjadi bahasa media cetak dan dimasukkan kurikulum pendidikan.
Selain nama Kartini ada nama Kartono. Kartono orang tua kandung perantara hadirnya dua putra ke dunia fana, yaitu Paimun dan Ngadimin. Kemiskinan melilit dan mencengkeram selama membesarkan anaknya. Berjuang dari pagi sampai fajar.
Kartono laki-laki lahir dari pasangan Wirotiko miskin. Sawahnya 2500 M2 untuk menghidupi 5 anak. Kartono perempuan hidup bersama kakak laki-laki. Sejak kecil kedua orang tuanya meninggal dunia. Selanjutnya nama Kartono sebagai nama pasangan suami istri setelah menikah (jeneng tuwa, Jawa).
Kartono Putra sekolah sampai kelas tiga sekolah rakyat (SR). Kartono perempuan tidak sekolah. Pasangan suami istri berbekal pendidikan rendah sulit mendapatkan akses ekonomi dan politik.
Kartono perempuan suka memasak sayur lombok. Sayurannya berbahan dasar tempe. Bumbunya terdiri dari lombok, bawang putih, bawang merah, tempe busuk, gula, dan santan. Kartono perempuan memasak tanpa resep, hanya berdasarkan kebiasaan dan feeling.
Kartono Putra meninggal 3 tahun lalu dan Kartono perempuan meninggal 2 Mei 2002. Pasangan suami istri menjadi pahlawan utama Paimun dan Ngadimin. Kartono berjuang tanpa memikirkan diri sendiri. Keduanya bekerja keras mewujudkan impiannya, yakni dua anaknya sukses.
Mirip perjuangan Kartini, anak Kartono menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia. Keduanya menerima beasiswa dari P2TK Kemdikbud untuk melanjutkan kuliah S2. Tempat kuliah di UNY. Kuliah Pascasarjana diselesaikan kurang 2 tahun. Tahun 2014 diwisuda dan mendapat gelar magister kependidikan M.Pd.
Selaras perjuangan dengan Kartini, Kartono perempuan mengusulkan anaknya sekolah, meskipun Kartono laki-laki melarang. Pikirannya jauh ke depan agar kedua anak hidupnya sukses daripada dirinya. Terbukti dua anaknya lulus dari perguruan tinggi.
Kartini dan Kartono berjuang untuk kesejahteraan keluarga. Kartini lingkup perjuangannya lebih luas, yakni memperjuangkan persamaan hak antara pria dengan wanita. Sedangkan Kartono berjuang dalam lingkup sempit, yaitu keluarga kecilnya. Kartini pahlawan kemerdekaan. Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Teringat Hari Kartini, ingat pula pejuang bernama Kartono.
Guru SDN Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Lebih dari 100 tahun Kartini meninggalkan kita semua, namun perjuangannya selalu dikenang kaum perempuan Indonesia. Emansipasi wanita Kartini menggelorakan persamaan hak yang sama, utamanya pendidikan.
RA Kartini lahir dari seorang Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat dan seorang selir bernama Ngasirah. Sejak Kartini lahir, ia sudah bisa merasakan perbedaan hidup di antara istri sah dan juga selir.
Kartini hanya diperbolehkan sekolah sampai jenjang ELS (Europese Lagere School). Saat lulus Berusia 12 tahun, sudah waktunya dipingit seperti perempuan pada umumnya. Kartini selama dipingit tidak boleh ke mana-mana, apa lagi sekolah.
Memasak merupakan salah satu kegemaran Kartini. Kartini memasak untuk diplomasi dan menunjukan peradaban Jawa di mata Belanda. Resep makanan paling terkenal Sup Pangsit Jepara dan Ayam Besengek.
Kartini melahirkan 13 September 1904 dan meninggal 4 hari kemudian, 17 September 1904. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Di usianya ke- 20 tahun, Kartini berani menulis surat kepada pemerintahan Hindia Belanda.Surat pertama berisi pengajuan beasiswa sekolah di Belanda.Surat disetujui, setelah itu Kartini mengajukan beasiswa di Batavia. Dia menikah, beasiswa diberikan kepada Salim dari Riau.
Kartini melayangkan surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda.Pada saat itu, dimana belum ada Sumpah Pemuda, Kartini mengusulkan Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda menjadi bahasa media cetak dan dimasukkan kurikulum pendidikan.
Selain nama Kartini ada nama Kartono. Kartono orang tua kandung perantara hadirnya dua putra ke dunia fana, yaitu Paimun dan Ngadimin. Kemiskinan melilit dan mencengkeram selama membesarkan anaknya. Berjuang dari pagi sampai fajar.
Kartono laki-laki lahir dari pasangan Wirotiko miskin. Sawahnya 2500 M2 untuk menghidupi 5 anak. Kartono perempuan hidup bersama kakak laki-laki. Sejak kecil kedua orang tuanya meninggal dunia. Selanjutnya nama Kartono sebagai nama pasangan suami istri setelah menikah (jeneng tuwa, Jawa).
Kartono Putra sekolah sampai kelas tiga sekolah rakyat (SR). Kartono perempuan tidak sekolah. Pasangan suami istri berbekal pendidikan rendah sulit mendapatkan akses ekonomi dan politik.
Kartono perempuan suka memasak sayur lombok. Sayurannya berbahan dasar tempe. Bumbunya terdiri dari lombok, bawang putih, bawang merah, tempe busuk, gula, dan santan. Kartono perempuan memasak tanpa resep, hanya berdasarkan kebiasaan dan feeling.
Kartono Putra meninggal 3 tahun lalu dan Kartono perempuan meninggal 2 Mei 2002. Pasangan suami istri menjadi pahlawan utama Paimun dan Ngadimin. Kartono berjuang tanpa memikirkan diri sendiri. Keduanya bekerja keras mewujudkan impiannya, yakni dua anaknya sukses.
Mirip perjuangan Kartini, anak Kartono menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia. Keduanya menerima beasiswa dari P2TK Kemdikbud untuk melanjutkan kuliah S2. Tempat kuliah di UNY. Kuliah Pascasarjana diselesaikan kurang 2 tahun. Tahun 2014 diwisuda dan mendapat gelar magister kependidikan M.Pd.
Selaras perjuangan dengan Kartini, Kartono perempuan mengusulkan anaknya sekolah, meskipun Kartono laki-laki melarang. Pikirannya jauh ke depan agar kedua anak hidupnya sukses daripada dirinya. Terbukti dua anaknya lulus dari perguruan tinggi.
Kartini dan Kartono berjuang untuk kesejahteraan keluarga. Kartini lingkup perjuangannya lebih luas, yakni memperjuangkan persamaan hak antara pria dengan wanita. Sedangkan Kartono berjuang dalam lingkup sempit, yaitu keluarga kecilnya. Kartini pahlawan kemerdekaan. Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Teringat Hari Kartini, ingat pula pejuang bernama Kartono.
Guru SDN Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Comments
Post a Comment