Oleh Paimun, M.Pd
"Tugas utama pelajar belajar."Demikian dikatakan oleh Slamet Sutoyo selaku ketua majelis pembimbing ranting Kecamatan Wonosari pada acara pembukaan pesta siaga pangkalan 12. 03.01.035 dan 12. 03.01.036.SD Negeri Wonosari 1 (28/4/2018) di Pasar Argowijil Desa Gari Kecamatan Wonosari Gunungkidul.
Anak ceria dalam kegiatan membahagiakan semua orang, yakni orang tua, pembina, pendamping, pembimbing, ketua Gudep, dan Kamabiran Pramuka Kecamatan Wonosari. Di wajah para siaga yang tergabung dalam Barung tidak ada muka murung. Semua siap melaksanakan perintah pembina yang kemudian dipanggil Yahnda dan Bunda.
Anak-anak belajar sambil bermain. Permainannya melatih keterampilan, kekompakan, dan kebersamaan. Menang dan kalah hasil kerjasama tim barung. Barung yang anggotanya terampil dan kompak mudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Yahnda dan Bunda di setiap kegiatan.
Pada pukul 07.00 semua peserta datang di Pasar Argowijil. Peserta diantar oleh orang tua/ keluarga masing-masing. Peserta membawa peralatan dan bekal secukupnya, seperti makanan tradisional, tali, tambir, dan lain-lain. Yahnda dan Bunda hadir lebih awal untuk menyambut peserta. Peserta mencari Yahnda dan bunda untuk bersalaman.
Upacara diawali memanggil siaga untuk membentuk lingkaran besar oleh Bunda Agericharisma. Aba-abanya kedua tangan diangkat dan semua jari bertemu di atas kepala. Kesempatan berikutnya Bunda memberi arahan urutan upacara. Dalam arahannya menekankan bahwa saat menirukan Dwi Dharma siaga yang menirukan ucapan sulung mengganti kata "Siaga itu" diganti "Aku." Sedangkan "Bundanya" diganti "Bundaku."
Upacara pembukaan dimulai, sulung memanggil Yahnda Slamet Sutoyo dengan berlari-lari kecil. Setelah memberi hormat dan dibalas, Yahnda menuju arena upacara diikuti sulung. Berikutnya sulung diperintahkan mengambil bendera dan memimpin penghormatan. "Kepada bendera merah putih hormat grak," tegas sulung.
Semua peserta mengangkat tangan kanan di pelipis kepala masing-masing. Berakhirnya penghormatan diberi aba, "Tegak grak," ucap sulung.Selanjutnya peserta kembali menggerakkan tangan kanan ke samping badan, posisi siap. Acara di lanjutkan membaca Pancasila oleh Yahnda, ditirukan semua peserta upacara.
Berikutnya sulung mengucapkan Dwi Darma ditirukan oleh peserta. "Dwi Darma, satu Siaga itu berbakti kepada Ayah Bunda." Siaga lainnya menirukan, "Aku berbakti kepada ayah bundaku." Dua, siaga itu berani dan tidak putus asa," tegas sulung. Segera disahuti siaga, "Aku berani dan tidak mudah putus asa," ucapnya serentak. Selesai ngucapkan Dwi Dharma sulung kembali dalam barisan.
Acara berikutnya adalah amanat dari Yahnda Slamet Sutoyo. "Di samping rajin belajar, Pramuka Siaga harus siap menerima perintah Yahnda dan Bunda, utamanya saat mengikuti kegiatan pesta siaga," tegasnya. Sekarang kalian di pusat ekonomi masyarakat, yakni Pasar Argowijil yang merupakan pasar ekologis dan satu-satunya di Indonesia.
Upacara selesai dilanjutkan bazar makanan tradisional. Penjualan dilakukan barung masing-masing. Barang yang diperjualbelikan makanan tradisional, seperti lemet, arem-arem, gethuk, cemplon, dan masih banyak yang lain. Semua siaga menawarkan dan menarik pembeli dengan cara masing-masing, seperti, "Pak sini, pak beli. Pak sini beli !" ajaknya.
Ketua Majelis pembimbing ranting (Kamabiran) dan Ketua Majelis pembimbing gugus depan (Kamabigus) memborong dagangan yang dijual siaga dalam barung masing-masing. Di samping sajian menarik, jenis makanannya sehat dan bersih. "Ini akan saya bawa pulang untuk oleh-oleh," kata Kamabiran menjelaskan.
Acara bazar selesai dilanjutkan permainan dalam pos. Yanda/Bunda menyediakan lima tempat pos. Pos 1 siaga menyusun puzzle keagamaan, berupa tempat ibadah, kitab suci, dan nama agama. Pos 2 menyebutkan sila Pancasila, menyanyikan lagu daerah/ nasional, nama suku/ provinsi.
Pada pos 3 siaga membaca kotak dan melakukan tali temali. Di pos 4 melakukan dingklik oglak aglik dan permainan sarung. Meskipun saat bermain dingklik dan sarung saling berjatuhan namun siaga gembira dan ceria. Apalagi ketika bermain sarung, peserta tidak boleh menggunakan tangan untuk memindahkan sarung, karena tangan bergandengan. Satu barung, bahkan hampir tidak bisa melakukan karena satu anggota barung memutar sarung sampai menyilang di badan dan tidak bisa dipindahkan.
Di pos terakhir, yakni lima permainan bendera. Bendera diletakkan di belakang tubuh masing-masing secara berpasangan. Masing-masing pasangan saling berhadapan untuk memperebutkan dan mengambil bendera lawan. Peserta menang jika mampu merebut bendera lawan.
Semua peserta wajib mengikuti permainan semua Pos. Bagi yang tidak jujur diberikan sanksi/ hukuman. Alhamdulillah semua jujur dan taat aturan sehingga tidak ada yang mendapatkan hukuman.
Acara permainan di pos selesai diteruskan makan bersama. Menunya makanan tradisional dibungkus daun pisang/jati. Semua makan dengan lahap meskipun hanya menggunakan lauk sederhana seperti tempe bacem, gembus bacem, mendoang, urap, dan sambal serta air putih.
Makan selesai, dilanjutkan menjalankan ibadah salat dzuhur bagi yang beragama islam dan renungan/ doa untuk agama katolik kristen. Ajaran penghambaan kepada sang pencipta tertanam dengan baik, meskipun menjalani banyak kegiatan. Tujuannya menjadi manusia taqwa, yakni menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan.
Penghujung pesta siaga acara penutupan. Acara ditutup oleh Yahnda Sidik Trapsilo, mewakili Kamabigus. Selesai acara dilakukan pembagian hadiah kejuaraan. Sejak awal kedatangan sampai dengan berakhirnya kegiatan tidak ada halangan dan rintangan. Semua peserta ceria dan gembira mengikuti pesta siaga.
Guru SD Negeri Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Yogyakarta
"Tugas utama pelajar belajar."Demikian dikatakan oleh Slamet Sutoyo selaku ketua majelis pembimbing ranting Kecamatan Wonosari pada acara pembukaan pesta siaga pangkalan 12. 03.01.035 dan 12. 03.01.036.SD Negeri Wonosari 1 (28/4/2018) di Pasar Argowijil Desa Gari Kecamatan Wonosari Gunungkidul.
Anak ceria dalam kegiatan membahagiakan semua orang, yakni orang tua, pembina, pendamping, pembimbing, ketua Gudep, dan Kamabiran Pramuka Kecamatan Wonosari. Di wajah para siaga yang tergabung dalam Barung tidak ada muka murung. Semua siap melaksanakan perintah pembina yang kemudian dipanggil Yahnda dan Bunda.
Anak-anak belajar sambil bermain. Permainannya melatih keterampilan, kekompakan, dan kebersamaan. Menang dan kalah hasil kerjasama tim barung. Barung yang anggotanya terampil dan kompak mudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Yahnda dan Bunda di setiap kegiatan.
Pada pukul 07.00 semua peserta datang di Pasar Argowijil. Peserta diantar oleh orang tua/ keluarga masing-masing. Peserta membawa peralatan dan bekal secukupnya, seperti makanan tradisional, tali, tambir, dan lain-lain. Yahnda dan Bunda hadir lebih awal untuk menyambut peserta. Peserta mencari Yahnda dan bunda untuk bersalaman.
Upacara diawali memanggil siaga untuk membentuk lingkaran besar oleh Bunda Agericharisma. Aba-abanya kedua tangan diangkat dan semua jari bertemu di atas kepala. Kesempatan berikutnya Bunda memberi arahan urutan upacara. Dalam arahannya menekankan bahwa saat menirukan Dwi Dharma siaga yang menirukan ucapan sulung mengganti kata "Siaga itu" diganti "Aku." Sedangkan "Bundanya" diganti "Bundaku."
Upacara pembukaan dimulai, sulung memanggil Yahnda Slamet Sutoyo dengan berlari-lari kecil. Setelah memberi hormat dan dibalas, Yahnda menuju arena upacara diikuti sulung. Berikutnya sulung diperintahkan mengambil bendera dan memimpin penghormatan. "Kepada bendera merah putih hormat grak," tegas sulung.
Semua peserta mengangkat tangan kanan di pelipis kepala masing-masing. Berakhirnya penghormatan diberi aba, "Tegak grak," ucap sulung.Selanjutnya peserta kembali menggerakkan tangan kanan ke samping badan, posisi siap. Acara di lanjutkan membaca Pancasila oleh Yahnda, ditirukan semua peserta upacara.
Berikutnya sulung mengucapkan Dwi Darma ditirukan oleh peserta. "Dwi Darma, satu Siaga itu berbakti kepada Ayah Bunda." Siaga lainnya menirukan, "Aku berbakti kepada ayah bundaku." Dua, siaga itu berani dan tidak putus asa," tegas sulung. Segera disahuti siaga, "Aku berani dan tidak mudah putus asa," ucapnya serentak. Selesai ngucapkan Dwi Dharma sulung kembali dalam barisan.
Acara berikutnya adalah amanat dari Yahnda Slamet Sutoyo. "Di samping rajin belajar, Pramuka Siaga harus siap menerima perintah Yahnda dan Bunda, utamanya saat mengikuti kegiatan pesta siaga," tegasnya. Sekarang kalian di pusat ekonomi masyarakat, yakni Pasar Argowijil yang merupakan pasar ekologis dan satu-satunya di Indonesia.
Upacara selesai dilanjutkan bazar makanan tradisional. Penjualan dilakukan barung masing-masing. Barang yang diperjualbelikan makanan tradisional, seperti lemet, arem-arem, gethuk, cemplon, dan masih banyak yang lain. Semua siaga menawarkan dan menarik pembeli dengan cara masing-masing, seperti, "Pak sini, pak beli. Pak sini beli !" ajaknya.
Ketua Majelis pembimbing ranting (Kamabiran) dan Ketua Majelis pembimbing gugus depan (Kamabigus) memborong dagangan yang dijual siaga dalam barung masing-masing. Di samping sajian menarik, jenis makanannya sehat dan bersih. "Ini akan saya bawa pulang untuk oleh-oleh," kata Kamabiran menjelaskan.
Acara bazar selesai dilanjutkan permainan dalam pos. Yanda/Bunda menyediakan lima tempat pos. Pos 1 siaga menyusun puzzle keagamaan, berupa tempat ibadah, kitab suci, dan nama agama. Pos 2 menyebutkan sila Pancasila, menyanyikan lagu daerah/ nasional, nama suku/ provinsi.
Pada pos 3 siaga membaca kotak dan melakukan tali temali. Di pos 4 melakukan dingklik oglak aglik dan permainan sarung. Meskipun saat bermain dingklik dan sarung saling berjatuhan namun siaga gembira dan ceria. Apalagi ketika bermain sarung, peserta tidak boleh menggunakan tangan untuk memindahkan sarung, karena tangan bergandengan. Satu barung, bahkan hampir tidak bisa melakukan karena satu anggota barung memutar sarung sampai menyilang di badan dan tidak bisa dipindahkan.
Di pos terakhir, yakni lima permainan bendera. Bendera diletakkan di belakang tubuh masing-masing secara berpasangan. Masing-masing pasangan saling berhadapan untuk memperebutkan dan mengambil bendera lawan. Peserta menang jika mampu merebut bendera lawan.
Semua peserta wajib mengikuti permainan semua Pos. Bagi yang tidak jujur diberikan sanksi/ hukuman. Alhamdulillah semua jujur dan taat aturan sehingga tidak ada yang mendapatkan hukuman.
Acara permainan di pos selesai diteruskan makan bersama. Menunya makanan tradisional dibungkus daun pisang/jati. Semua makan dengan lahap meskipun hanya menggunakan lauk sederhana seperti tempe bacem, gembus bacem, mendoang, urap, dan sambal serta air putih.
Makan selesai, dilanjutkan menjalankan ibadah salat dzuhur bagi yang beragama islam dan renungan/ doa untuk agama katolik kristen. Ajaran penghambaan kepada sang pencipta tertanam dengan baik, meskipun menjalani banyak kegiatan. Tujuannya menjadi manusia taqwa, yakni menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan.
Penghujung pesta siaga acara penutupan. Acara ditutup oleh Yahnda Sidik Trapsilo, mewakili Kamabigus. Selesai acara dilakukan pembagian hadiah kejuaraan. Sejak awal kedatangan sampai dengan berakhirnya kegiatan tidak ada halangan dan rintangan. Semua peserta ceria dan gembira mengikuti pesta siaga.
Guru SD Negeri Wonosari 1 Gunungkidul DI Yogyakarta
Yogyakarta
Comments
Post a Comment