Oleh : Yuliyanto
#Orang literat menang baling
Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Yang Maha Sempurna. Penciptaan manusia memang dengan segala kesempurnaan yang diberikan oleh Yang Maha Sempurna. Bahkan dinyatakan olehNya bahwa manusia adalah sebagai sebaik-baik makhluk. Dan kalau dibandingkan dengan makhluk makhluk yang lain baik nabati maupun hewani, secara sadar atau tidak manusia lah sebaik-baik dan sempurna-sempurna makhluk. Secantik-cantiknya kucing masih lebih cantik manusia, seganteng gantengnya gorila masih ganteng manusia, se cakep-cakepnya ayam masih cakep manusia, dan masih banyak lagi pujian kehebatan terhadap makhluk selain manusia, tetap saja masih manusia yang terhebat.
Kebalikan dari itu semua yakni kehebatan manusia dari sisi penciptaannya, manusia pula akan dikembalikan dalam keadaan yang hina dina. Apakah selalu demikian? Ternyata tidak semua manusia hina dina, manusia akan dijadikan hina dina apabila dia tidak melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh manusia sesuai dengan tujuan manusia diciptakan. Tujuan manusia diciptakan dan diturunkan di bumi tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk berbakti beribadah kepada Sang Pencipta. Tentu saja kalau ini tidak dilakukan sang pencipta tidak berkenan dan akan membalikkan kesempurnaan manusia menjadi kehinaan dimasa kembali manusia menghadapNya.
Salah satu tujuan adalah menjadi khalifah memelihara bumi dan segala isinya. Manusia diberi seperangkat nafsu yang menggerakkan manusia untuk berbagai aktivitas baik yang baik maupun yang buruk. Nafsu inilah yang membedakan dengan malaikat. Ada ketaatan namun ada pula kemungkaran. Ketaatan dilandasi dengan nafsu yang baik, sedangkan kemungkaran dilandasi dengan nafsu yang tidak baik. Hal ini tentu saja berakibat pada berbagai segi kehidupan dari sisi positif dan negatif terhadap bumi dan isinya.
Kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh manusia dengan berlandaskan iman yang benar, akan membuahkan hasil kemakmuran dan keberkahan dalam kehidupan. Akan dicurahkan keberkahan dari langit dan keberkahan dari bumi apabila manusia melakukan ketaatan sesuai dengan koridor keimanan yang benar. Apakah ada keimanan yang salah atau ketaatan yang salah? Tentu saja jawabannya ada.
Dalam pencarian kepada sang pencipta manusia mengalami pembelajaran yang luar biasa terutama ini dilakukan oleh para utusan-Nya. Kalau melihat kisah bagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Begitu kerasnya usaha untuk mendapatkan siapa sebenarnya Pencipta yang sebenarnya atau Pencipta yang benar-benar benar. Dengan usaha yang keras dan saja memang ini seakan semacam skenario dari Yang Maha Kuasa, akhirnya Ibrahim pun bisa menemukan Tuhan Sang Pencipta.
Di masa sekarang pencarian terhadap Tuhan tidaklah perlu dengan cara seperti Nabi Ibrahim, cukup dengan menentukan mana yang akan dipilih sebagai Tuhan dengan petunjuk-petunjuk yang ada. Setelah mendapatkan Tuhan yang akan di sembah, tentu saja mempelajari dan mentaati adalah hal yang utama. Ketaatan terhadap ketentuan dan peraturan dalam kitab suci menjadikan orang berderajat tinggi. Untuk bisa mengetahui ilmu untuk ketaatan orang perlu belajar dengan mencari ilmu. Tuhan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan melaksanakan ketaatan terhadap ilmu yang dimilikinya.
Bagaimana dengan orang yang berilmu namun tidak mau taat? Tentu saja Tuhan tidak berkenan. Kalau Tuhan tidak berkenan tentu saja akan timbul ketidakberkahan dalam hidup. Dengan demikian usaha untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup perlu diupayakan dengan maksimal.
Dalam bersikap berperilaku tidak ada manusia yang sempurna dengan ketaatan yang baik. Derajat tertinggi dalam ketaatan ada pada para nabi utusan Nya, manusia pada umumnya memiliki ketaatan yang kadang baik kadang pula kurang baik. Dengan demikian apabila orang dalam puisi banyak ketidaktaatan dan menyadari ketidaktaatan itu, perlu dilakukan perubahan. Perubahan dilakukan dengan cara pertobatan. Pertobatan harus dilakukan sungguh-sungguh bukan seperti tobat makan sambal, setengah mati nggak mau lagi makan sambel karena kepedasan, tapi lain waktu begitu makan tidak ada sambal sambal itu pun dicari.
Taubat yang sungguh-sungguh, dinyatakan dengan sikap perbuatan yang serius dalam bertobat. Menangis menyesali perbuatan adalah salah satu bentuk perdebatan yang nyata. Semakin banyak di teteskan air mata sebagai tanda pertobatan pribadi akan menjadi lebih lega dan siap untuk meninggalkan keburukan yang telah pernah dilakukan. Hati yang lembut diisyaratkan dengan mudahnya air mata mengalir bahkan bisa deras sekali di saat saat hening sunyi. Sebaliknya hati yang keras membatu akan sulit sekali menerima kebenaran dan kebaikan dengan disyaratkan sulitnya meneteskan air mata. Bahkan di saat-saat kritis pun air mata tidak bisa keluar.
Tangisan yang ditandai dengan meluncurnya air mata ke bumi sebagai pertanda penyesalan perbuatan dosa dan salah. Hal ini sangat dicintai oleh Yang Maha Kuasa. Pribadi yang bisa melakukan ini akan mendapatkan rahmat dan barokah serta dicurahkan rezeki dari tempat yang tidak pernah disangka-sangka. Tangisan yang membumi, yang dilakukan oleh banyak orang menyebabkan barokahnya kehidupan di tempat tersebut, dikarenakan banyak orang yang mencari barokah kehidupan.
Perbanyaklah meluncurkan tetesan air mata tanda pertobatan, luncurkan lah dengan kederasan yang nyata jatuh membasahi bumi. Bumi yang dibasahi dengan tetesan air mata tidak akan pernah menangis justru akan semakin mendukung kehidupan manusia. Bumi tidak akan pernah menangis karena tangisan manusia yang bertobat. Pertobatan yang dilakukan dengan kesungguhan, akan didukung oleh bumi dengan keberkahan yang dimunculkan dan dikeluarkan dari perut bumi.
Sering-seringlah mengkhisab atau menghitung banyaknya kebaikan dan keburukan kita untuk intropeksi diri dan segera bertobat apabila melakukan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan. Dengan demikian kita akan menuju pribadi yang dicintai olehNya. Salah satu orang yang dicintai Sang Pencipta adalah orang yang meneteskan air mata karena melakukan perbuatan salah. Hitung-hitung lah karena sampai nanti di akhirat pun terhitung akan dilakukan oleh Yang Maha Ahli Menghitung.
Mari menangisi diri sendiri karena ketiadaan mampu menghindarkan diri dari perbuatan salah. Tangisan yang membumi perlu dilakukan.
Rabu 25 April 2018 at 05.30
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
#Orang literat menang baling
Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Yang Maha Sempurna. Penciptaan manusia memang dengan segala kesempurnaan yang diberikan oleh Yang Maha Sempurna. Bahkan dinyatakan olehNya bahwa manusia adalah sebagai sebaik-baik makhluk. Dan kalau dibandingkan dengan makhluk makhluk yang lain baik nabati maupun hewani, secara sadar atau tidak manusia lah sebaik-baik dan sempurna-sempurna makhluk. Secantik-cantiknya kucing masih lebih cantik manusia, seganteng gantengnya gorila masih ganteng manusia, se cakep-cakepnya ayam masih cakep manusia, dan masih banyak lagi pujian kehebatan terhadap makhluk selain manusia, tetap saja masih manusia yang terhebat.
Kebalikan dari itu semua yakni kehebatan manusia dari sisi penciptaannya, manusia pula akan dikembalikan dalam keadaan yang hina dina. Apakah selalu demikian? Ternyata tidak semua manusia hina dina, manusia akan dijadikan hina dina apabila dia tidak melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh manusia sesuai dengan tujuan manusia diciptakan. Tujuan manusia diciptakan dan diturunkan di bumi tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk berbakti beribadah kepada Sang Pencipta. Tentu saja kalau ini tidak dilakukan sang pencipta tidak berkenan dan akan membalikkan kesempurnaan manusia menjadi kehinaan dimasa kembali manusia menghadapNya.
Salah satu tujuan adalah menjadi khalifah memelihara bumi dan segala isinya. Manusia diberi seperangkat nafsu yang menggerakkan manusia untuk berbagai aktivitas baik yang baik maupun yang buruk. Nafsu inilah yang membedakan dengan malaikat. Ada ketaatan namun ada pula kemungkaran. Ketaatan dilandasi dengan nafsu yang baik, sedangkan kemungkaran dilandasi dengan nafsu yang tidak baik. Hal ini tentu saja berakibat pada berbagai segi kehidupan dari sisi positif dan negatif terhadap bumi dan isinya.
Kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh manusia dengan berlandaskan iman yang benar, akan membuahkan hasil kemakmuran dan keberkahan dalam kehidupan. Akan dicurahkan keberkahan dari langit dan keberkahan dari bumi apabila manusia melakukan ketaatan sesuai dengan koridor keimanan yang benar. Apakah ada keimanan yang salah atau ketaatan yang salah? Tentu saja jawabannya ada.
Dalam pencarian kepada sang pencipta manusia mengalami pembelajaran yang luar biasa terutama ini dilakukan oleh para utusan-Nya. Kalau melihat kisah bagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Begitu kerasnya usaha untuk mendapatkan siapa sebenarnya Pencipta yang sebenarnya atau Pencipta yang benar-benar benar. Dengan usaha yang keras dan saja memang ini seakan semacam skenario dari Yang Maha Kuasa, akhirnya Ibrahim pun bisa menemukan Tuhan Sang Pencipta.
Di masa sekarang pencarian terhadap Tuhan tidaklah perlu dengan cara seperti Nabi Ibrahim, cukup dengan menentukan mana yang akan dipilih sebagai Tuhan dengan petunjuk-petunjuk yang ada. Setelah mendapatkan Tuhan yang akan di sembah, tentu saja mempelajari dan mentaati adalah hal yang utama. Ketaatan terhadap ketentuan dan peraturan dalam kitab suci menjadikan orang berderajat tinggi. Untuk bisa mengetahui ilmu untuk ketaatan orang perlu belajar dengan mencari ilmu. Tuhan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dan melaksanakan ketaatan terhadap ilmu yang dimilikinya.
Bagaimana dengan orang yang berilmu namun tidak mau taat? Tentu saja Tuhan tidak berkenan. Kalau Tuhan tidak berkenan tentu saja akan timbul ketidakberkahan dalam hidup. Dengan demikian usaha untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup perlu diupayakan dengan maksimal.
Dalam bersikap berperilaku tidak ada manusia yang sempurna dengan ketaatan yang baik. Derajat tertinggi dalam ketaatan ada pada para nabi utusan Nya, manusia pada umumnya memiliki ketaatan yang kadang baik kadang pula kurang baik. Dengan demikian apabila orang dalam puisi banyak ketidaktaatan dan menyadari ketidaktaatan itu, perlu dilakukan perubahan. Perubahan dilakukan dengan cara pertobatan. Pertobatan harus dilakukan sungguh-sungguh bukan seperti tobat makan sambal, setengah mati nggak mau lagi makan sambel karena kepedasan, tapi lain waktu begitu makan tidak ada sambal sambal itu pun dicari.
Taubat yang sungguh-sungguh, dinyatakan dengan sikap perbuatan yang serius dalam bertobat. Menangis menyesali perbuatan adalah salah satu bentuk perdebatan yang nyata. Semakin banyak di teteskan air mata sebagai tanda pertobatan pribadi akan menjadi lebih lega dan siap untuk meninggalkan keburukan yang telah pernah dilakukan. Hati yang lembut diisyaratkan dengan mudahnya air mata mengalir bahkan bisa deras sekali di saat saat hening sunyi. Sebaliknya hati yang keras membatu akan sulit sekali menerima kebenaran dan kebaikan dengan disyaratkan sulitnya meneteskan air mata. Bahkan di saat-saat kritis pun air mata tidak bisa keluar.
Tangisan yang ditandai dengan meluncurnya air mata ke bumi sebagai pertanda penyesalan perbuatan dosa dan salah. Hal ini sangat dicintai oleh Yang Maha Kuasa. Pribadi yang bisa melakukan ini akan mendapatkan rahmat dan barokah serta dicurahkan rezeki dari tempat yang tidak pernah disangka-sangka. Tangisan yang membumi, yang dilakukan oleh banyak orang menyebabkan barokahnya kehidupan di tempat tersebut, dikarenakan banyak orang yang mencari barokah kehidupan.
Perbanyaklah meluncurkan tetesan air mata tanda pertobatan, luncurkan lah dengan kederasan yang nyata jatuh membasahi bumi. Bumi yang dibasahi dengan tetesan air mata tidak akan pernah menangis justru akan semakin mendukung kehidupan manusia. Bumi tidak akan pernah menangis karena tangisan manusia yang bertobat. Pertobatan yang dilakukan dengan kesungguhan, akan didukung oleh bumi dengan keberkahan yang dimunculkan dan dikeluarkan dari perut bumi.
Sering-seringlah mengkhisab atau menghitung banyaknya kebaikan dan keburukan kita untuk intropeksi diri dan segera bertobat apabila melakukan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan. Dengan demikian kita akan menuju pribadi yang dicintai olehNya. Salah satu orang yang dicintai Sang Pencipta adalah orang yang meneteskan air mata karena melakukan perbuatan salah. Hitung-hitung lah karena sampai nanti di akhirat pun terhitung akan dilakukan oleh Yang Maha Ahli Menghitung.
Mari menangisi diri sendiri karena ketiadaan mampu menghindarkan diri dari perbuatan salah. Tangisan yang membumi perlu dilakukan.
Rabu 25 April 2018 at 05.30
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga
Comments
Post a Comment