Pameran Tani nDeso



oleh : Yuliyanto
#orang literat menemu baling

Pertanian dan peternakan serta pembudidayaan hasil pertanian peternakan yang dikemas dengan modern menghasilkan produk jasa maupun barang yang menarik dengan keuntungan yang menjanjikan setelah dijual dengan sistem modern tanpa meninggalkan ciri khas tradisional. Sistem pertanian tradisional dengan kemandirian dan satu produk saja kurang menarik untuk dijadikan objek pariwisata. Demikian pula dengan peternakan satu produk yang tidak dikemas dengan baik kurang menarik untuk dikunjungi.

Penggabungan sistim pertanian dan peternakan di satu tempat dengan kemasan yang menarik menjadi alternatif wisata edukatif bagi generasi muda. Sistem pertanian dan peternakan di satu tempat dengan kemasan yang menarik menjadi alternatif wisata edukatif bagi generasi muda. Wisata edukatif ini mendekatkan diri kepada kehidupan alam yang memberikan kontribusi produktivitas bagi kehidupan manusia. Sirkulasi produktivitas sumber daya makanan bagi manusia dapat dilihat dan dipraktekkan oleh pengunjung.

Tengok lah seperti Farm House di Lembang Bandung Jawa Barat dan Cimory Farm di Ungaran Jawa Tengah. Kedua tempat yang berbeda jauh ini dengan manajemen yang berbeda pula memiliki konsep yang hampir sama untuk setiap tempat dengan keunikan tersendiri. Sepintas dilihat bahwa keduanya sama-sama menempati tempat yang mungkin pada awalnya tidak dilirik oleh orang karena miring dan kurang menarik untuk usaha maupun tempat tinggal.

Terletak di pinggir jalan besar namun miring sehingga harga tanah pun tidak terlalu mahal. Namun begitu dikemas dengan kemasan yang menarik tempat disulap menjadi tempat yang menyenangkan, semuanya menjadi berubah penampilan dan nilai jualnya. Keduanya menampilkan beberapa binatang yang bisa berinteraksi dengan pengunjung. Interaksi yang dimaksud adalah memberikan makan ataupun bercengkerama bermain dipegang dan lain sebagainya.

Memberi makan kelinci merupakan sesuatu yang luar biasa bagi anak-anak ataupun orang dewasa yang belum pernah melihat secara langsung bagaimana cara makan kelinci. Kelinci maupun marmut di dua tempat tersebut bisa diberikan makan dengan membayar terlebih dahulu kepada petugas. Tentu saja Ini keuntungan ganda bagi pengelola, hewan mereka makan dengan kenyang, makanannya diberikan oleh pengunjung walaupun sudah disediakan. Bagi pengunjung juga tidak keberatan, karena merasa senang itu menghilangkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli makanan. Untuk memasuki area pun sudah ditarik biaya tersendiri di Cimory sebesar Rp15.000 sedangkan di Farm House sekitar Rp30.000. Setelah memasuki tempat untuk wahana tertentu yakni berinteraksi dan bermain dengan hewan atau memberi makan perlu menambah biaya tersendiri.

Untuk memberi makan domba di Farm House menjadi sesuatu yang menarik karena domba beberapa di antaranya diberi pakaian layaknya seperti anjing yang ditampilkan di pet show. Domba domba tersebut memiliki kesamaan dengan domba yang ada di Australia untuk diambil bulunya. Sensasi memberi makan bagi orang-orang yang sibuk seharian tanpa berinteraksi dengan alam menjadi sesuatu yang berkesan. Ada pula yang sekedar untuk selfie berfoto bersama keluarga. Domba yang ada di Cimory Farm tidak untuk diberi makan oleh pengunjung. Domba yang ada dari jenis Moreno dan jenis domba Priangan. Keduanya hanya ditampilkan dipajang di tanah miring sehingga pengunjung tidak tertarik mendekat.

Beberapa hal yang membedakan

Cimory Farm

Memiliki ciri khas berupa produk susu sapi dengan berbagai macam jenis makanan. Dengan label Cimory berbagai macam jenis makanan menjadi menarik untuk buah tangan. Memang untuk produk sendiri yaitu berupa susu baik susu kemasan sederhana maupun kemasan yang mewah. Susu fermentasi juga menarik untuk dikonsumsi. Sedikit yang cukup menyeramkan adalah adanya ikan raksasa di kolam berukuran kurang lebih 4 kali 3 meter dengan bentuk oval. Ikan buas ini impor dari luar negeri dan sesekali muncul di atas permukaan air untuk mengambil udara.

Beberapa burung cantik juga tampil di kandang yang menawan. Tidak ketinggalan hewan-hewan kecil seperti kura-kura, burung merpati, iguana, dan yang menjadi maskot dari seluruhnya adalah berbagai jenis sapi yang dipajang di kandang yang sangat bersih sehingga pengunjung tidak merasa jijik mendatangi tempat tersebut dan berfoto ria dengan kepala sapi. Bukan kepala sapi saja tetapi kepala sapi yang nongol di depan kandang sehingga pengunjung bisa memegang kepala dan berfoto. Sapi-sapi ini yang dengan penjelasan singkat di tuliskan latar belakang maupun produksi susu yang dihasilkan oleh jenis sapi tersebut.

Tidak ketinggalan adanya pertanian organik di mana beberapa pertanian sayur ditanam di tempat tersebut. Kacang panjang, kacang buncis, mentimun, selada, kangkung, dan berbagai jenis sayuran lain semua ditanam dan menjadi perhatian dari para pengunjung.

Pengunjung yang sudah lelah berjalan-jalan bersama keluarga dapat menikmati hidangan yang tersedia di cafe atau Resto Cimory. Hidangan susu tidak ketinggalan siap untuk disantap.

Farm House

Terletak di Lembang Jawa Barat jalan menuju Gunung Tangkuban Perahu. Tanah dan parkiran cukup luas untuk menampung bis maupun mobil para pengunjung. Produk pertanian seperti pisang dengan varian jenis olahan pisang yang berbeda-beda menempati gedung tersendiri dengan luasan yang besar pisang disajikan sangat menarik. Katakanlah hanya pisang tetapi dengan kemasan yang sangat istimewa menjadikan nilai jualnya istimewa pula.

Susu juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk dijual dengan berbagai varian jenis olahan. Sesuatu yang membedakan adalah adanya persewaan pakaian dari negara-negara Eropa terutama Holland. Banyak pengunjung antri untuk mendapatkan ganti berpakaian ala none-none Belanda. Foto-foto pun diambil dengan latar belakang bunga tulip yang tidak asli namun cukup mewakili. Antusiasme pada hari libur untuk menyewa pakaian menginspirasi di beberapa tempat wisata juga mengadakan persewaan pakaian seperti ini.

Di kedua tempat tersebut memiliki sisi yang hampir sama yakni memanfaatkan alam sebagai sumber daya untuk dijual kepada pengunjung. Penjualan ini melibatkan masyarakat dan tentu saja di mana pun orang yang berpendidikan menguasai terhadap orang yang tidak berpendidikan. Pemilik modal dan staf manajemen sebagai pengelola selalu saja menempati kedudukan yang lebih tinggi daripada pekerja-pekerja lokal yang pada umumnya hanya bisa bekerja dengan kebiasaan dan fisik yang diperlukan. Pencari rumput yang dulunya di situ menjadi pencari rumput tetap saja menjadi petani rumput bagi ternak yang dipelihara di wahana tersebut.

Pekerjaan pekerjaan yang halus di belakang meja menjadi tanggung jawab anak-anak yang berpendidikan minimal SMK Boga dan pertanian. Mereka dengan keterampilan yang cukup lumayan mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada masyarakat sekitar yang hanya bisa mengandalkan fisik semata. Untuk pemuda yang tidak memiliki keterampilan memadai terlibat menjadi juru parkir, staf bagian kebersihan, tukang memberi makan hewan, dan pekerjaan pekerjaan kasar lainnya.

Mestinya kemudian ini menjadi pemikiran bagi masyarakat setempat. Bahwa memang pendidikan menjadi kunci dari segalanya. Ketika pertanian dan peternakan dipamerkan dengan kemasan yang menarik, ketika pertanian dan peternakan dipamerkan dengan kemasan yang menarik, semuanya menjadi layak jual dengan nilai tinggi. Hal ini pun terjadi di mana-mana karena kesadaran tentang berwisata kembali kepada alam, sudah menjadi tren di masyarakat. Sifat alami menjadi dasar untuk berwisata bersahabat dengan alam.

Memamerkan sesuatu yang kelihatannya ndeso karena dulu dianggap sebagai sesuatu yang berarti tradisional atau kurang mengikuti kemajuan. Saat ini menjadi sangat layak dan menjanjikan untuk dipamerkan. Dan lagi-lagi orang yang mampu memamerkan adalah orang-orang yang memiliki pendidikan yang baik. Sehingga pendidikan merupakan kunci untuk kemajuan. Hal-hal yang berbau ndeso pun akan menjadi menarik di tangan orang yang berpendidikan. Semoga anak didik kita  para pemuda di masa depan tidak hanya menjadi penonton maupun pemain di belakang tetapi menjadi pemeran utama dari pameran pameran ndeso.

Senin 30 April 2018 at 14.00
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga

Comments