Oleh : Dimas Qiman
Pada postingan sebelumnya aku telah berhasil menikah dengan Pak Broto. Aku hidup bahagia bersama keempat istrinya. Tapi sebulan kemudian aku sadar, harus menyiapkan tumbal untuk Ki Turonggo Seto.
Berikut ini kelanjutan kisahnya.
Pagi menjelang tanggal lima belas, aku duduk termenung dengan apa yang akan saya lakukan. Siapa yang paling pas untuk tumbal selanjutnya. Akhirnya aku teringat Rendi. Pemuda nakal yang suka mengintipku waktu mandi. Nah pemuda macam ini mangsa empuk bagiku.
Aku harus menyusun rencana untuk menjebak Rendi. Rendi paling suka diajak piknik. Apalagi dibelikan pakaian dan makanan kesukaannya. Rendi adalah lelaki mata keranjang. Ku pancing dengan tubuh montokku pasti jatuh bangun. Tapi ada sebersit penyesalan di hatiku. Aku ingin mengakhiri petulangan ini. Setelah mengorbankan Rendi, aku ingin menemui seorang Kyai. Aku ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
**
Sore itu aku mohon ijin kepada suamiku alasan ada keperluan. Sesampainya di rumah aku mempersiapkan diri untuk menjebak Rendi. Aku berdandan rapi. Ku pakai rok mini, dan tank top. Payudara yang montok sengaja aku tonjolkan. Ku pakai parfum yang harum, yang akan memancing sahwat Rendi. Kulitku yang putih kubuat licin dengan handbody yang mahal. Mata keranjang Rendi akan terbelalak melihatnya.
Menjelang Magrib mobilku sudah berjalan menuju pondokan Rendi. Jalanan kampung cukup sepi. Lampu minyak menghiasi kanan kiri jalanan kampung. Maklum pedesaan listrik belum masuk daerah ini. Jalanan kampung bila musim hujan tiba becek nggak karuan. Untunglah saat ini musim kemarau. Perjalanan mobil lancar tanpa kendala berarti. Tak sampai setengah jam mobil sudah sampai tujuan. Mobil saya hentikan di depan pondokan Rendi. Aku segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu pondok Rendi.
Ku ketuk pintunya, dan ku panggil dia.
"Rendi....Rendi..."
"Ya...siapa ya ?" terdengar suara dari dalam pondokan.
"Aku Rendi....Arum..." jawabku.
"Walah... bohong....mana mungkin Arum kemari" jawab Rendi penuh keraguan.
"Bener Ren...coba kau buka jendelanya, aku di depan Jendela" jawaban ini yang membuat Rendi segera beranjak dari tempatnya.
Korden jendela terbuka, tampak wajah Rendi yang masih amburadul. Dia tersenyum, melihat aku berpakaian trendi dan menggairahkan. Matanya sedikit melotot melihat dadaku yang menonjol. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya. Dan membuka pintu kamar.
"Mbak Arum....?" Rendi hampir tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Bener Ren...ayo ikut aku ..." aku memancing perhatiannya.
"Kemana Mbak....siaap...asal ...." Rendi tidak melanjutkan ucapannya.
"Asal apa Rendi ?" aku pura-pura gak faham.
"Hi...hiii....itu...tu..." Rendi menunjuk dadaku.
Aku tersenyum, "Boleh Sayang....siaaap.. Tapi mandi dulu...!." pintaku.
"Siappp Boosss.." Rendi menjawab dengan tertawa riang.
Aku duduk di depan kamar Rendi. Sementara Rendi sedang mandi. Aku tersenyum sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya urusan harta, aku sudah berlimpah. Apalagi sejak menjadi istri ke lima dari Pak Broto. Aku jadi istri termuda dan istri termuda yang paling disayangi. Aku juga sudah muak bergelimang dosa, bahkan menjadi mesin pembunuh. Aku ingin bertobat, tapi apakah pintu tobatku masih terbuka.
"Ayo Mbak, aku sudah siap" teriak Rendi dari dalam kamar pondokan.
"Yo...kita berangkat.." ajakku.
Rendi segera masuk mobil dan duduk di sampingku. Mobil berjalan perlahan, kulirik mata Rendi melotot ke arah dadaku. Berulang kali Rendi menelan ludah, tanda tak kuat menahan nafsu. Tangannya mulai nakal mengelus pahaku. Aku pura-pura risi, sebenarnya hatiku senang.
"Ssst..sabar sayang.." pintaku.
"Waduuuh...sudah nggak tahan nich..." Rendi blingsatan.
"Ini masih di jalan...bahaya.." aku memberi pengertian pada Rendi.
"Siap Bos..." jawab Rendi tersenyum riang.
Mobil ku pacu menyusuri gelapnya jalan. Tak sampai setengah jam mobil sudah sampai di parkiran hotel di jalan Solo. Setelah cek in, kami berdua segera memasuki kamar hotel. Aku berjalan di depan Rendi, jalanku ku buat megal-megol agar memancing perhatian Rendi. Rendi mulai berani kurang ajar. Dia memelukku dari belakang, dan memegang kedua gundukan di dadaku.
"Ayo sayang.... cepat masuk kamar " pintaku.
"Siap Bos..." terdengar suara Rendi mantap.
Aku menarik tangan Rendi, kami berdua jatuh di kasur. Kamar ku tutup dan saya kunci. Aku mendekati Rendi dan merebahkan diri di sampingnya. Rendi menyerangku dengan ganasnya. Aku membiarkan Rendi memilih bagian dari tubuhku yang sudah tidak berbalut selembar benangpun. Sampai akhirnya Rendi mengambil berbagai posisi yang ia sukai. Dan akhirnya Rendi melenguh mencapai puncak kenikmatan. Aku juga ikut merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Di saat Rendi megap-megap kelelahan, tiba-tiba muncul asap putih. Semula hanya sedikit, lama-lama menjadi banyak dan berputar-putar. Ketika kabut hilang, muncullah Ki Turonggo Seto. Dia menyentuh tubuh Rendi. Seketika tubuh Rendi berubah menjadi kabut. Kedua akhirnya hilang dari pandangan. Aku segera berpakaian lengkap dan bergegas meninggalkan hotel itu. Sampai di parkiran aku segera memasuki mobil. Mobil ku pacu meninggalkan hotel. Tak sampai sejam, aku sudah sampai rumah. Aku segera mandi dan tidur.
Paginya setelah aku mandi aku mengecek tempatku berjualan sate. Semua sudah siap, meja tertata rapi. Semua daging sudah digantungkan siap untuk di masak. Seluruh ruangan sudah bersih, begitu juga dengan halaman parkir. Aku merasa puas, aku bergegas pulang ke rumah suamiku Pak Broto. Aku yakin Pak Broto sudah menungguku. Dia pasti kangen dengan milikku, yang telah memakan korban banyak lelaki. Sampai keempat istrinya yang lain cemburu padaku. Aku memiliki sesuatu yang sangat istimewa, akan membuat lelaki terpana dan sulit lepas dariku.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tunggu postingan berikutnya.
Pada postingan sebelumnya aku telah berhasil menikah dengan Pak Broto. Aku hidup bahagia bersama keempat istrinya. Tapi sebulan kemudian aku sadar, harus menyiapkan tumbal untuk Ki Turonggo Seto.
Berikut ini kelanjutan kisahnya.
Pagi menjelang tanggal lima belas, aku duduk termenung dengan apa yang akan saya lakukan. Siapa yang paling pas untuk tumbal selanjutnya. Akhirnya aku teringat Rendi. Pemuda nakal yang suka mengintipku waktu mandi. Nah pemuda macam ini mangsa empuk bagiku.
Aku harus menyusun rencana untuk menjebak Rendi. Rendi paling suka diajak piknik. Apalagi dibelikan pakaian dan makanan kesukaannya. Rendi adalah lelaki mata keranjang. Ku pancing dengan tubuh montokku pasti jatuh bangun. Tapi ada sebersit penyesalan di hatiku. Aku ingin mengakhiri petulangan ini. Setelah mengorbankan Rendi, aku ingin menemui seorang Kyai. Aku ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
**
Sore itu aku mohon ijin kepada suamiku alasan ada keperluan. Sesampainya di rumah aku mempersiapkan diri untuk menjebak Rendi. Aku berdandan rapi. Ku pakai rok mini, dan tank top. Payudara yang montok sengaja aku tonjolkan. Ku pakai parfum yang harum, yang akan memancing sahwat Rendi. Kulitku yang putih kubuat licin dengan handbody yang mahal. Mata keranjang Rendi akan terbelalak melihatnya.
Menjelang Magrib mobilku sudah berjalan menuju pondokan Rendi. Jalanan kampung cukup sepi. Lampu minyak menghiasi kanan kiri jalanan kampung. Maklum pedesaan listrik belum masuk daerah ini. Jalanan kampung bila musim hujan tiba becek nggak karuan. Untunglah saat ini musim kemarau. Perjalanan mobil lancar tanpa kendala berarti. Tak sampai setengah jam mobil sudah sampai tujuan. Mobil saya hentikan di depan pondokan Rendi. Aku segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu pondok Rendi.
Ku ketuk pintunya, dan ku panggil dia.
"Rendi....Rendi..."
"Ya...siapa ya ?" terdengar suara dari dalam pondokan.
"Aku Rendi....Arum..." jawabku.
"Walah... bohong....mana mungkin Arum kemari" jawab Rendi penuh keraguan.
"Bener Ren...coba kau buka jendelanya, aku di depan Jendela" jawaban ini yang membuat Rendi segera beranjak dari tempatnya.
Korden jendela terbuka, tampak wajah Rendi yang masih amburadul. Dia tersenyum, melihat aku berpakaian trendi dan menggairahkan. Matanya sedikit melotot melihat dadaku yang menonjol. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya. Dan membuka pintu kamar.
"Mbak Arum....?" Rendi hampir tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Bener Ren...ayo ikut aku ..." aku memancing perhatiannya.
"Kemana Mbak....siaap...asal ...." Rendi tidak melanjutkan ucapannya.
"Asal apa Rendi ?" aku pura-pura gak faham.
"Hi...hiii....itu...tu..." Rendi menunjuk dadaku.
Aku tersenyum, "Boleh Sayang....siaaap.. Tapi mandi dulu...!." pintaku.
"Siappp Boosss.." Rendi menjawab dengan tertawa riang.
Aku duduk di depan kamar Rendi. Sementara Rendi sedang mandi. Aku tersenyum sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya urusan harta, aku sudah berlimpah. Apalagi sejak menjadi istri ke lima dari Pak Broto. Aku jadi istri termuda dan istri termuda yang paling disayangi. Aku juga sudah muak bergelimang dosa, bahkan menjadi mesin pembunuh. Aku ingin bertobat, tapi apakah pintu tobatku masih terbuka.
"Ayo Mbak, aku sudah siap" teriak Rendi dari dalam kamar pondokan.
"Yo...kita berangkat.." ajakku.
Rendi segera masuk mobil dan duduk di sampingku. Mobil berjalan perlahan, kulirik mata Rendi melotot ke arah dadaku. Berulang kali Rendi menelan ludah, tanda tak kuat menahan nafsu. Tangannya mulai nakal mengelus pahaku. Aku pura-pura risi, sebenarnya hatiku senang.
"Ssst..sabar sayang.." pintaku.
"Waduuuh...sudah nggak tahan nich..." Rendi blingsatan.
"Ini masih di jalan...bahaya.." aku memberi pengertian pada Rendi.
"Siap Bos..." jawab Rendi tersenyum riang.
Mobil ku pacu menyusuri gelapnya jalan. Tak sampai setengah jam mobil sudah sampai di parkiran hotel di jalan Solo. Setelah cek in, kami berdua segera memasuki kamar hotel. Aku berjalan di depan Rendi, jalanku ku buat megal-megol agar memancing perhatian Rendi. Rendi mulai berani kurang ajar. Dia memelukku dari belakang, dan memegang kedua gundukan di dadaku.
"Ayo sayang.... cepat masuk kamar " pintaku.
"Siap Bos..." terdengar suara Rendi mantap.
Aku menarik tangan Rendi, kami berdua jatuh di kasur. Kamar ku tutup dan saya kunci. Aku mendekati Rendi dan merebahkan diri di sampingnya. Rendi menyerangku dengan ganasnya. Aku membiarkan Rendi memilih bagian dari tubuhku yang sudah tidak berbalut selembar benangpun. Sampai akhirnya Rendi mengambil berbagai posisi yang ia sukai. Dan akhirnya Rendi melenguh mencapai puncak kenikmatan. Aku juga ikut merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Di saat Rendi megap-megap kelelahan, tiba-tiba muncul asap putih. Semula hanya sedikit, lama-lama menjadi banyak dan berputar-putar. Ketika kabut hilang, muncullah Ki Turonggo Seto. Dia menyentuh tubuh Rendi. Seketika tubuh Rendi berubah menjadi kabut. Kedua akhirnya hilang dari pandangan. Aku segera berpakaian lengkap dan bergegas meninggalkan hotel itu. Sampai di parkiran aku segera memasuki mobil. Mobil ku pacu meninggalkan hotel. Tak sampai sejam, aku sudah sampai rumah. Aku segera mandi dan tidur.
Paginya setelah aku mandi aku mengecek tempatku berjualan sate. Semua sudah siap, meja tertata rapi. Semua daging sudah digantungkan siap untuk di masak. Seluruh ruangan sudah bersih, begitu juga dengan halaman parkir. Aku merasa puas, aku bergegas pulang ke rumah suamiku Pak Broto. Aku yakin Pak Broto sudah menungguku. Dia pasti kangen dengan milikku, yang telah memakan korban banyak lelaki. Sampai keempat istrinya yang lain cemburu padaku. Aku memiliki sesuatu yang sangat istimewa, akan membuat lelaki terpana dan sulit lepas dariku.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tunggu postingan berikutnya.
Comments
Post a Comment