Pesugihan Jaran Goyang 12

Oleh : Dimas Qiman

Pada postingan sebelumnya aku telah mengorbankan Rendi, si penggoda wanita. Aku merasa puas bisa mengurangi lelaki yang akan berbuat jahat pada kaumku.  Aku lalu pulang ke rumah suamiku.

Sesampainya di rumah suana nampak sepi, aku segera memasuki rumah yang dikhususkan untukku. semua tertata rapi, sebab ada Bi Imah yang mengurus semua rumah Mas Broto. Karena sepi aku merebahkan diri dan tertidur. Dalam mimpiku aku berada di sebuah istana yang megah. Penuh dengan taman yang indah dan pemandangan yang menakjubkan.

Tapi aku terkejut ketika mengetahui ada suara merintih dari beberapa perempuan muda. Mereka dipaksa melayani manusia berkepala kuda. Ada yang menyisir rambut, ada yang memijit tangan dan kaki manusia berkepala kuda. Ada pula yang bertugas mengipasi, semua tidak boleh mengeluh. Bila ada yang mau membangkang, di cambuk hingga berdarah. Di situ ada algojo yang berwajah sangar dan bertubuh gempal.  Kulitnya hitam legam dan tubuhnya dipenuhi bulu.

Para perempuan itu dipaksa menjadi dayang-dayang oleh manusia berkepala kuda. Sepertinya ada perjanjian sebelumnya. Jangan-jangan mereka para pemuja Jaran Goyang. Mereka seusiaku, wajahnya  juga lumayan cantik, tubuh juga sempurna. Karena penasaran, aku mencoba mendekati salah satu dari mereka. Aku sepertinya mengenal salah satu dari . Dia Rini seorang pedagang kain yang sukses. Omzetnya sampai milyaran rupiah, rumahnya berisi segala macam peralatan yang mahal. Sayang dia tidak mempunyai suami.

Aku mendekati Rini, ku panggil dia.

"Rin..kamu Rini kan?" tanyaku.

"Ya, kamu Arum kan?" Rini balik bertanya.

"Benar, mengapa kamu sedih Rin ?" aku penasaran.

Dia mendekatiku dan menceritakan semua. Diawali dari kehidupan yang menderita, selalu dihina dan dilecehkan orang. Karena tidak kuat akhirnya Rini tergoda mencari pesugihan. Dari berbagai pesugihan yang ditawarkan, Dia memilih Pasugihan Jaran Goyang. Dalam waktu singkat penghidupannya berubah drastis, dari hidup serba kekurangan menjadi hidup serba kecukupan. Dari makan seadanya menjadi makan semua ada. Dari tidur beralaskan tikar sobek  berganti spring bed yang empuk. Kemana-mana diantar sopir pribadi. Rumah dijaga satpam, yang jumlahnya lima orang. Dari orang yang hina menjadi orang yang dipuja-puja.

Dia tak peduli mengorbankan sopir pribadi, dan kelima satpamnya menjadi tumbal pesugihannya. Belum laki-laki lain, ada gigolo,  ada ABG tua, ada hidung belang. Rini tak peduli dengan tumbal yang berjatuhan demi kemuliaan dirinya. Hidup bergelimang harta, semua ada. Mau kepengin apa juga terlaksana. Namun tidak sampai dua tahun, semua harus berakhir. Ketika dia mengorbankan seorang hidung belang berpengalaman. Justru dia menjadi korban, sebab si hidung belang bisa melarikan diri sebelum Ki Turonggo Seto datang. Akhirnya dia yang dibawa Ki Turonggo Seto dan di jadikan tumbalnya. Rini harus melayani semua kebutuhan manusia berkepala kuda. Kadang menjadi pelayan, kadang menjadi budak manusia berkepala kuda.

"Begitu Rum, ceritanya " kata Rini.

Aku mengangguk-angguk, "Serem banget Rin, aku ngeri ...Lalu bagaimana dengan orang yang kita jadikan tumbal Rin ?".

Rini menundukkan kepalanya, "Itu lebih parah Rum "

"Maksudnya ?" aku penasaran.

Rini lalu menceritakan keadaan para lelaki yang dijadikan tumbal. Mereka dijadikan budak oleh manusia berkepala kuda. Mereka dipekerjakan membuat jalan, menggempur gunung untuk lahan pertanian. Ada yang dijadikan pengusung tandu pejabat dari manusia berkepala kuda. Bila ada yang mencoba melarikan diri. Mereka akan disiksa tanpa ampun. Dicambuk, dipukul, bahkan diikat dan ditarik dengan kuda. Dia sangat menyesal telah membuat mereka menderita.

"Walah sampai seperti itu Rin ?" aku hampir tak percaya.

"Benar Rum, makanya kamu yang punya kesempatan segera bertobat dan tinggalkan Pesugihan Jaran Goyang ini !" Rini menyarankan.

Tubuhku gemetar mendengarkan cerita Rini, keringat. dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku ngeri campur takut. Belum sempat aku bertanya pada Rini, ada algojo yang menyeret Rini untuk kembali bekerja.

"Ayo kerja...dasar manusia malas..." bentak algojo tersebut.

"Ampun... ampun Tuan... kasihanilah Aku !" rintihan Rini terdengar pilu.

Tapi sang algojo tidak mempedulikan rintihan Rini. Mata algojo melotot padaku. Aku segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Aku terengah-engah kecapaian. Sampai akhirnya aku kesandung jatuh. Dan terbangun dari tidurku. Aku duduk termenung mengingat mimpi tadi. Aku ingin lepas dari perjanjian ini, dan tidak mau menjadi budak setan. Aku harus mencari kyai yang bisa membebaskan aku dari belenggu ini.

Aku bangkit dari tempat tidur, dan segera ke kamar mandi. Setelah membersihkan badan dan berdandan, aku bergegas menemui seorang kyai yang telah meninggalkan duniawi. Menurut teman,-,teman beliau tinggal di sebuah pondok sederhana di atas bukit. Dengan diantar sopir pribadi Ki Broto, aku berangkat ke pertapaan sang Kyai. Jalanan yang saya lalui penuh dengan pepohonan hijau dan pemandangan yang indah.

Untuk membuang sepi aku coba bertanya pada Arman sopir pribadiku.

"Man...kamu kenal Kyai ini nggak ?" tanyaku.

"Maksud Nyi Arum gimana ?" Arman balik bertanya.

"Maksudku, siapa sebenarnya Kyai ini. Dia orang biasa atau memang orang pilihan Man ?" aku menjelaskan.

"Dia orang pilihan Nyi " jawab Arman.

"Kok bisa, bagaimana ceritanya ?" aku nggak sabar ingin tahu.

Arman lalu mulai bercerita, yang menjadi Kyai di puncak bukit adalah anak seorang yang kaya raya. Ayahnya memiliki berbagai macam usaha, mulai dari taman bermain, sekolah dari jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, juga hotel dan penginapan yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. Tiap hari Dia mengamati, semua karyawan yang bekerja pada ayahnya hidup menderita. Gaji yang diterima karyawan jauh di bawah UMR. Tetapi kerjanya dituntut maksimal. Keterlambatan kehadiran diakumulasikan. Dan resikonya, gaji yang kecil masih dipotong.

Berulang kali Dia mengusulkan agar ayahnya menaikkan gaji semua karyawannya. Tapi berulang kali pula, Ayahnya menjawab tidak perlu. Saking jengkelnya Dia mengambil uang ayahnya dan dibagikan kepada karyawan kelas' rendah. Tak cukup hanya itu. Jatah dari ayah untuk dirinya semua ikut diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Dia memilih hidup sederhana. Dan inilah yang membuat dirinya diusir orang tuanya.

Setelah terusir dia memilih tempat pegunungan yang sepi untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Beberapa kali ayahnya membujuk untuk kembali, tapi dia tak mau. Seluruh harta yang dimiliki, habis untuk tapa ngrame. Banyak orang yang ingin menjadi muridnya, tapi tak kuat menghadapi tantangan dari sang Kyai.

"Begitu Nyi, apakah Nyi Arum dapat memenuhi syarat yang diberikan oleh Kyai ?" Arman mengakhiri ceritanya.

Bagaimana langkah yang akan ditempuh Arum, untuk melepaskan diri dari Siluman Jaran Goyang. Tunggu postingan berikutnya.

Comments