Keterampilan memasak makanan yang lezat dan disukai banyak orang tidak mudah. Dibutuhkan ketepatan penggunaan bumbu yang ukurannya pas. Rasa masakan yang bumbunya tepat mendatangkan selera makan yang tinggi. Diminati oleh banyak pecinta kuliner untuk mencoba, merasakan, mencicipi, dan menjadi pelanggan. Setiap kali jajan selalu kembali kepada warung makan langganannya.
Sumarno (51) dan Giyem (50) adalah pasangan suami istri pemilik usaha warung makan mie ayam dan bakso Prima Rasa. Beralamat di Ngeposari, Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memiliki 2 anak, si sulung membuka usaha yang sama di Jlantir Karangmojo. Si bungsu masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
Sebelum membuka warung, Sumarno berkeliling dari kampung ke kampung menjual bakso. Tiga bulan berjalan, menambah barang yang dijual berupa mie ayam. Menjadi pedagang keliling dilakoni selama 8 tahun. Bersusah payah mengatasi tantangan hidup sebagai pedagang keliling. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tidak segera menemukan pembeli, padahal perjalanan yang ditempuh sangat jauh.Jalan tidak rata dan berlubang harus diatasi.
Dua rute jalan menjadi lokasi favorit dalam berdagang, yakni rute pertama dari Ngeposari Sidorejo - Mojosongo -Ngeposari. Rute kedua dari Ngeposari-Kangkung-Kalangbangi Kulon-Tunggaknongko-Ngeposari. Saat itu jalan belum rata, karena belum diberi cor blok apalagi beraspal seperti sekarang. Di kanan kiri jalan belum di bangun talud. Musim hujan jalan becek dan berlumpur.
Pengalaman pahit dalam berjualan keliling kampung ketika gerobak terperosok ke dalam kubangan lumpur yang sangat dalam. Tidak mengira jika kubangan air yang dilewati sangat dalam. Roda terlanjur diarahkan melewati jalan berair dan berlumpur tersebut. Gerobak roboh dan tidak bisa melintas. Didorong maju dan ditarik mundur sendirian tidak bergerak. Akhirnya minta bantuan orang lain sehingga gerobak bisa melintas dan melanjutkan perjalanan.
Pada tahun 1998 Sumarno dan istri sepakat membangun warung di tepi jalan. Tepatnya di depan Balai Desa Ngeposari. Lokasinya strategis, karena merupakan jalan utama dari Wonosari menuju Rongkop, Girisubo, Ponjong dan Pracimantoro wilayah kabupaten Wonogiri. Setiap hari kendaraan yang melintas ribuan. Apalagi saat liburan panjang anak sekolah. Bus pariwisata dari arah Timur dan barat silih berganti melintasi Jalan depan warung makan.
Semakin lama usahanya berkembang dan maju. Setiap hari menghabiskan daging ayam 25 kg/hari. Daging dipilih yang berkualitas bagus. Membeli di Pasar Hargosari, Wonosari. Untuk memastikan kualitas, Sumarno belanja ditemani oleh menantu. Mencegah dicampurnya ayam mati kemaren atau (tiren) yang diselibkan oleh pedagang nakal.
Setiap hari memerlukan mie 15 kg. Memilih bahan yang baik untuk membuat mie ayam. Tidak mau diberi bahan dengan harga miring, namun kualitas tidak baik. Mengecewakan pelanggan, karena menghasilkan mie dengan kualitas kurang bagus. Lebih baik mempertahankan kualitas daripada ditinggalkan oleh pelanggan setianya.
Daging sapi untuk membuat bakso membeli dari Hajah Sumarni beralamat di Jetis pacarejo Semanu. Sudah menjadi pelanggan sejak lama. Percaya daging yang dijual halal. Hewan disembelih secara Islami. Selalu diberikan daging yang bagus.Tidak meragukan umat muslim yang berlangganan di warungnya.
Sumarno berbelanja bumbu dan sayuran menghabiskan uang sekitar Rp500.000, 00/hari. Bumbu dapur, seperti merica, ketumbar, kemiri, cabai, saos, kecap, garam, serai, jahe, kunyit, gula jawa, gula pasir, gula batu, dan lain-lain. Sayuran dipilih yang masih segar. Biasanya membeli langsung dari pedagang besar. Berasal dari Muntilan atau Magelang yang langsung menyetor ke Pasar Hargosari.
Bumbu diramu sendiri oleh Sumarno dan istri. Ketepatan ukuran dan rasa diukur berdasarkan pengalaman menjajakan bakso dan mie ayam puluhan tahun. Bumbu yang sudah dinyatakan siap kemudian dimasak sesuai dengan kebutuhan. Bumbu ayam,bumbu bakso, dan sambal porsinya menyesuaikan.
Usaha warung makan Prima Rasa milik pasangan Soemarno dengan Giyem mempekerjakan 8 orang karyawan. Setiap karyawan minimal digaji Rp50.000,00 sampai dengan Rp70.000,00/hari. Upah yang diterima Setiap karyawan memenuhi upah minimum regional (UMR) bahkan ada yang lebih besar. Besarnya gaji menambah kinerja.
Semenjak warung dibuka langsung banyak pembeli datang menikmati santapan makan bakso, mie ayam, mie ayam bakso, soto, atau soto bakso. Rasanya sangat lezat dan harganya terjangkau. Mengantongi uang Rp20.000,00 sudah percaya diri masuk warung makan Prima Rasa. Dijamin puas, perut lapar dan mulut kehausan menjadi kenyang.
Karyawan tidak pernah bisa santai dalam bekerja. Puluhan mangkok, khususnya untuk pesanan mie ayam ditata rapi. Dalam waktu sekejap berisi, segera diantar ke pemesan. Begitu seterusnya pelanggan silih berganti datang dan pergi. Ibaratnya tidak sempat merokok ataupun duduk santai. Percuma menyulut rokok. Akhirnya terbakar tetapi tidak sempat dihisap untuk dinikmati.
Semua karyawan bekerja sangat cekatan. Pengunjung yang datang dan memesan segera dilayani dengan cepat dan sigap. Tidak lebih dari 10 menit pesanan sudah datang di depan tempat duduk tamu, baik minuman ataupun makanan. Selesai makan dan pengunjung meninggalkan tempat duduk, meja segera dibersihkan.
Di meja makan selalu siap alat makan, seperti sendok, garpu, sumpit, dan tisu. Bumbu penambah selera tersedia di meja makan, seperti kerupuk, rempeyek, kecap, sambal, saus, dan kecambah. Keranjang sampah disiapkan antara lorong meja makan satu dengan lainnya. Keranjang penuh dengan sampah segera diambil dan sampahnya dibuang ke tempat sampah.
Pendapatan total dalam satu hari kira-kira Rp6.000.000,00 sampai dengan Rp7.000.000,00. Penghasilan bersihnya sekitar 20% dari nilai pendapatan kotor tersebut. Pendapatan bersih setiap hari berkisar Rp1.200.000,00 sampai dengan Rp1.400.000,00. Sebulan penghasilan Sumarno dan istri Rp36.000.000,00 - Rp42.000.000,00.
Awal puasa Romadhon warung ditutup selama dua minggu. Atau paling cepat dibuka kembali seminggu kemudian. Selama ditutup perlu membayar karyawan paling sedikit Rp11.000.000,00. Lebih memilih menghormati umat muslim yang sedang mengawali ibadah puasa.
Berkahnya dipetik di sekitar Idul Fitri. Dalam sehari menghabiskan daging 1 kuintal dan mie 78 kg. Pendapatan bisa menjadi dua kali lipat dari hari biasa, bahkan lebih besar. Sehari mampu mencapai Rp15.000.000,00. Besarnya pendapatan mendatangkan manfaat bagi keluarga. Rumah bagus dan mobil Innova warna metalik terparkir di garasi.
Secara pribadi Sumarno dan istri belum mau membuka warung di tempat lain. Alasannya menyangkut kualitas masakan yang dijual. "Ibaratnya ada penjualnya meskipun duduk saja pelanggan sudah lega," katanya. Percuma membuka cabang tetapi tidak mampu mengontrol dan mengawasi. Jika terjadi sesuatu merugikan citra dan nama baik.
Memiliki usaha ternama mempunyai keuntungan yang sangat besar. Asalkan mampu mempertahankan kualitas hasil masakan dan ramah melayani pembeli. Pembeli adalah raja dan lidah sangat mudah membedakan masakan lezat dengan tidak. Banyak orang puas dengan masakan dan layanan akan mewartakan kepada banyak orang. Otomatis mendatangkan pembeli lebih banyak. Hasil yang diperoleh meningkat dan lebih besar.
Kerugiannya adalah pada hari besar, seperti Idul Fitri tidak dapat bersukacita dan berkumpul seperti keluarga pada umumnya karena harus berdagang. Pandai memanej waktu dengan baik sehingga kebutuhan sosial dan keagamaan juga dapat dilaksanakan. Manusia adalah makhluk individu dan sosial. Berusaha menyeimbangkan kebutuhan individu dengan kepentingan sosial.
Sumarno berpesan kepada para pedagang mie ayam supaya sukses. Harus memperhatikan kualitas bahan seperti daging, sayur, dan bumbu. Tidak dicampur dengan tulang sehingga bersih berisi daging. Lebih banyak daging daripada Mie. Cabe dipilih yang tidak mengandung air. Sayuran dipilih yang segar-segar.
Sumarno (51) dan Giyem (50) adalah pasangan suami istri pemilik usaha warung makan mie ayam dan bakso Prima Rasa. Beralamat di Ngeposari, Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memiliki 2 anak, si sulung membuka usaha yang sama di Jlantir Karangmojo. Si bungsu masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
Sebelum membuka warung, Sumarno berkeliling dari kampung ke kampung menjual bakso. Tiga bulan berjalan, menambah barang yang dijual berupa mie ayam. Menjadi pedagang keliling dilakoni selama 8 tahun. Bersusah payah mengatasi tantangan hidup sebagai pedagang keliling. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tidak segera menemukan pembeli, padahal perjalanan yang ditempuh sangat jauh.Jalan tidak rata dan berlubang harus diatasi.
Dua rute jalan menjadi lokasi favorit dalam berdagang, yakni rute pertama dari Ngeposari Sidorejo - Mojosongo -Ngeposari. Rute kedua dari Ngeposari-Kangkung-Kalangbangi Kulon-Tunggaknongko-Ngeposari. Saat itu jalan belum rata, karena belum diberi cor blok apalagi beraspal seperti sekarang. Di kanan kiri jalan belum di bangun talud. Musim hujan jalan becek dan berlumpur.
Pengalaman pahit dalam berjualan keliling kampung ketika gerobak terperosok ke dalam kubangan lumpur yang sangat dalam. Tidak mengira jika kubangan air yang dilewati sangat dalam. Roda terlanjur diarahkan melewati jalan berair dan berlumpur tersebut. Gerobak roboh dan tidak bisa melintas. Didorong maju dan ditarik mundur sendirian tidak bergerak. Akhirnya minta bantuan orang lain sehingga gerobak bisa melintas dan melanjutkan perjalanan.
Pada tahun 1998 Sumarno dan istri sepakat membangun warung di tepi jalan. Tepatnya di depan Balai Desa Ngeposari. Lokasinya strategis, karena merupakan jalan utama dari Wonosari menuju Rongkop, Girisubo, Ponjong dan Pracimantoro wilayah kabupaten Wonogiri. Setiap hari kendaraan yang melintas ribuan. Apalagi saat liburan panjang anak sekolah. Bus pariwisata dari arah Timur dan barat silih berganti melintasi Jalan depan warung makan.
Semakin lama usahanya berkembang dan maju. Setiap hari menghabiskan daging ayam 25 kg/hari. Daging dipilih yang berkualitas bagus. Membeli di Pasar Hargosari, Wonosari. Untuk memastikan kualitas, Sumarno belanja ditemani oleh menantu. Mencegah dicampurnya ayam mati kemaren atau (tiren) yang diselibkan oleh pedagang nakal.
Setiap hari memerlukan mie 15 kg. Memilih bahan yang baik untuk membuat mie ayam. Tidak mau diberi bahan dengan harga miring, namun kualitas tidak baik. Mengecewakan pelanggan, karena menghasilkan mie dengan kualitas kurang bagus. Lebih baik mempertahankan kualitas daripada ditinggalkan oleh pelanggan setianya.
Daging sapi untuk membuat bakso membeli dari Hajah Sumarni beralamat di Jetis pacarejo Semanu. Sudah menjadi pelanggan sejak lama. Percaya daging yang dijual halal. Hewan disembelih secara Islami. Selalu diberikan daging yang bagus.Tidak meragukan umat muslim yang berlangganan di warungnya.
Sumarno berbelanja bumbu dan sayuran menghabiskan uang sekitar Rp500.000, 00/hari. Bumbu dapur, seperti merica, ketumbar, kemiri, cabai, saos, kecap, garam, serai, jahe, kunyit, gula jawa, gula pasir, gula batu, dan lain-lain. Sayuran dipilih yang masih segar. Biasanya membeli langsung dari pedagang besar. Berasal dari Muntilan atau Magelang yang langsung menyetor ke Pasar Hargosari.
Bumbu diramu sendiri oleh Sumarno dan istri. Ketepatan ukuran dan rasa diukur berdasarkan pengalaman menjajakan bakso dan mie ayam puluhan tahun. Bumbu yang sudah dinyatakan siap kemudian dimasak sesuai dengan kebutuhan. Bumbu ayam,bumbu bakso, dan sambal porsinya menyesuaikan.
Usaha warung makan Prima Rasa milik pasangan Soemarno dengan Giyem mempekerjakan 8 orang karyawan. Setiap karyawan minimal digaji Rp50.000,00 sampai dengan Rp70.000,00/hari. Upah yang diterima Setiap karyawan memenuhi upah minimum regional (UMR) bahkan ada yang lebih besar. Besarnya gaji menambah kinerja.
Semenjak warung dibuka langsung banyak pembeli datang menikmati santapan makan bakso, mie ayam, mie ayam bakso, soto, atau soto bakso. Rasanya sangat lezat dan harganya terjangkau. Mengantongi uang Rp20.000,00 sudah percaya diri masuk warung makan Prima Rasa. Dijamin puas, perut lapar dan mulut kehausan menjadi kenyang.
Karyawan tidak pernah bisa santai dalam bekerja. Puluhan mangkok, khususnya untuk pesanan mie ayam ditata rapi. Dalam waktu sekejap berisi, segera diantar ke pemesan. Begitu seterusnya pelanggan silih berganti datang dan pergi. Ibaratnya tidak sempat merokok ataupun duduk santai. Percuma menyulut rokok. Akhirnya terbakar tetapi tidak sempat dihisap untuk dinikmati.
Semua karyawan bekerja sangat cekatan. Pengunjung yang datang dan memesan segera dilayani dengan cepat dan sigap. Tidak lebih dari 10 menit pesanan sudah datang di depan tempat duduk tamu, baik minuman ataupun makanan. Selesai makan dan pengunjung meninggalkan tempat duduk, meja segera dibersihkan.
Di meja makan selalu siap alat makan, seperti sendok, garpu, sumpit, dan tisu. Bumbu penambah selera tersedia di meja makan, seperti kerupuk, rempeyek, kecap, sambal, saus, dan kecambah. Keranjang sampah disiapkan antara lorong meja makan satu dengan lainnya. Keranjang penuh dengan sampah segera diambil dan sampahnya dibuang ke tempat sampah.
Pendapatan total dalam satu hari kira-kira Rp6.000.000,00 sampai dengan Rp7.000.000,00. Penghasilan bersihnya sekitar 20% dari nilai pendapatan kotor tersebut. Pendapatan bersih setiap hari berkisar Rp1.200.000,00 sampai dengan Rp1.400.000,00. Sebulan penghasilan Sumarno dan istri Rp36.000.000,00 - Rp42.000.000,00.
Awal puasa Romadhon warung ditutup selama dua minggu. Atau paling cepat dibuka kembali seminggu kemudian. Selama ditutup perlu membayar karyawan paling sedikit Rp11.000.000,00. Lebih memilih menghormati umat muslim yang sedang mengawali ibadah puasa.
Berkahnya dipetik di sekitar Idul Fitri. Dalam sehari menghabiskan daging 1 kuintal dan mie 78 kg. Pendapatan bisa menjadi dua kali lipat dari hari biasa, bahkan lebih besar. Sehari mampu mencapai Rp15.000.000,00. Besarnya pendapatan mendatangkan manfaat bagi keluarga. Rumah bagus dan mobil Innova warna metalik terparkir di garasi.
Secara pribadi Sumarno dan istri belum mau membuka warung di tempat lain. Alasannya menyangkut kualitas masakan yang dijual. "Ibaratnya ada penjualnya meskipun duduk saja pelanggan sudah lega," katanya. Percuma membuka cabang tetapi tidak mampu mengontrol dan mengawasi. Jika terjadi sesuatu merugikan citra dan nama baik.
Memiliki usaha ternama mempunyai keuntungan yang sangat besar. Asalkan mampu mempertahankan kualitas hasil masakan dan ramah melayani pembeli. Pembeli adalah raja dan lidah sangat mudah membedakan masakan lezat dengan tidak. Banyak orang puas dengan masakan dan layanan akan mewartakan kepada banyak orang. Otomatis mendatangkan pembeli lebih banyak. Hasil yang diperoleh meningkat dan lebih besar.
Kerugiannya adalah pada hari besar, seperti Idul Fitri tidak dapat bersukacita dan berkumpul seperti keluarga pada umumnya karena harus berdagang. Pandai memanej waktu dengan baik sehingga kebutuhan sosial dan keagamaan juga dapat dilaksanakan. Manusia adalah makhluk individu dan sosial. Berusaha menyeimbangkan kebutuhan individu dengan kepentingan sosial.
Sumarno berpesan kepada para pedagang mie ayam supaya sukses. Harus memperhatikan kualitas bahan seperti daging, sayur, dan bumbu. Tidak dicampur dengan tulang sehingga bersih berisi daging. Lebih banyak daging daripada Mie. Cabe dipilih yang tidak mengandung air. Sayuran dipilih yang segar-segar.
Comments
Post a Comment