Prima Tika nan Memukau


Oleh  : Yuliyanto
#Orang literat menemu baling

Bertempat di Science Theater kawasan Taman Pintar, pertemuan ilmiah matematika diselenggarakan oleh P4TK matematika Yogyakarta. Di hari Sabtu 21 April 2018 dengan suasana sejuk ruang bioskop mini ber-AC dingin menusuk tulang, pertemuan ilmiah diadakan dengan waktu yang mundur cukup lama dari jadwal. Terjadwal dimulai pukul 13.00, terpantau sampai pukul 15.00 acara belum dimulai. Acara dimulai 15.08. Dengan beserta mayoritas guru-guru SMA dan SMK, terpantau guru SMP hanya beberapa orang saja dari kota dan dari Sleman.

Pendidikan karakter penting untuk membentuk generasi emas di tahun ke 100 Indonesia merdeka. Begitu prolog yang disampaikan oleh Doktor Ibrahim, dosen Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Pria kelahiran Tahun 1979 ini memiliki postur tidak terlalu tinggi namun badan cukup kekar dengan senyum manis dan gigi rapi selaras dengan penampilan bajunya yang ketat sehingga tubuh atletisnya nampak benar otot-ototnya menonjol. Dari cara bicaranya kelihatan benar bahwa Doktor ini cukup berpengalaman di bidang pendidikan matematika.

Santun, komunikatif, dibalut dengan penampilan yang rapi membuat pesona bicaranya menjadi pusat perhatian dari para peserta sebanyak 50 orang yang hadir siang sore itu. Kendala sedikit masalah penampilan proyektor karena desain proyektor adalah untuk pemutaran film barangkali ada kendala konektivitas antara laptop dengan proyektor. Kurang lebih hampir 8 menit untuk koneksi Power Point belum bisa jalan sehingga semakin mundur saja materi yang akan disampaikan.

Ditampilkan beberapa gambar sikap masyarakat Indonesia yang berbeda jauh dengan masyarakat maju. Kontradiktif di mana masyarakat maju dalam berbagai aktivitasnya selalu membawa buku untuk dibaca di mana saja dalam keadaan yang ekstrim sekalipun. Sebagai contoh ada anak di gorong-gorong membaca buku, ada ibu ibu berbelanja membaca buku, di kereta membaca buku, menunggu bis membaca buku, singkatnya berbagai aktivitas diisi dengan literasi yang dimaksud bahwa masyarakat di negara maju.

Gambar kontradiktif disampaikan di Indonesia di mana dalam gerbong kereta orang tertidur pulas, di tempat lain lebih banyak mengobrol, untuk saat ini bermain gadget atau gawai. Agaknya budaya literasi di negara tercinta merupakan buah dari karakter yang terbentuk selama pendidikan di jenjang sekolah. Dari keprihatinan itu apa peran pendidikan matematika dalam ikut mengubah pola perilaku masyarakat sehingga senang berliterasi bisa menjadikan orang yang literat? Perlu kerja keras dari ujung tombak pendidikan matematika yaitu para guru matematika itu sendiri. Tentu saja dalam aliterasi ini tidak hanya guru matematika namun sistem pendidikan yang ada agar memungkinkan adanya akses kemudahan dalam berliterasi.

Moderator bapak Sumardiono dari P4TK matematika menambahkan bahwa ada kata-kata bijak yakni Pendidikan itu yg tersisa setelah keluar sekolah. Sehingga para guru mestinya menanamkan karakter yang baik pada anak-anak bukan sekedar menyampaikan konsep-konsep matematika yang terjadi banyak tidak diingat oleh siswa setelah menjadi manusia dewasa. Ditanyakan kepada para peserta adakah yang masih ingat materi pelajaran pada waktu diberikan oleh guru di sekolah? Sebagian besar para peserta menyatakan tidak ada yang diingat, tetapi mereka mengingat hal-hal khusus yang pernah dilakukan oleh guru baik hal yang lucu, menarik, mengesan, bahkan yang konyol sekalipun.

Karakter yang terbentuk dari pendidikan matematika semestinya lah tidak mematikan kreativitas dari para siswa. Kreativitas lah yang akan memajukan dalam berbagai banyak hal. Rumus-rumus yang ada pada matematika tidak serta merta dapat membentuk karakter kebaikan bagi kemajuan siswa. Karakter dalam berkreasi dapat ditumbuhkembangkan dengan pembiasaan tidak menutup suatu bakat kreativitas anak. Sebagai contoh ketika guru mengecek pekerjaan rumah siswa, seringkali yang ditanyakan adalah nomor berapa yang tidak bisa. Sebaiknya yang ditanyakan adalah sudah dikerjakan? Mari kita lihat satu persatu atau yang dikerjakan Yang mudah itu pun perlu di cek sehingga anak merasa bangga pekerjaannya dilihat dan dibahas oleh guru.

Pembahasan item-item memang memerlukan waktu yang cukup lama tetapi waktu yang cukup lama ini pun akan memberikan lompatan kreativitas dan kemauan untuk maju dari para siswa ini adalah karakter yang baik. Beban materi pembelajaran yang harus diselesaikan berkaitan dengan ujian nasional dan sejenisnya memang menjadi beban berat bagi guru. Namun dikatakan bahwa seakan kita melangkah mundur karena misalnya dari 10 materi kita hanya bisa menyampaikan 6, namun jika dibandingkan dengan yang menyampaikan ke-10 materi mengambang tidak akan membekas bagi siswa. Membekasnya materi yang ada pada siswa akan lebih berlangsung lama jika diberikan dengan sistem yang Joyful and meaningful.

Paradigma matematika sebagai ilmu pasti perlu diubah, karena sebenarnya matematika itu bukan ilmu pasti. Kedengaran aneh memang pendapat ini, namun dikandung maksud agar supaya guru memberikan keterbukaan kepada siswa jawaban salah pun perlu dihargai sebagai salah satu upaya siswa mengapresiasikan dirinya membuka alam pikirannya menuju konsep-konsep matematika yang akan diberikan. Sifat Open dalam penyelesaian permasalahan matematika perlu dikedepankan sehingga siswa tumbuh kreativitas dan keberaniannya dalam mengemukakan pendapat yang mungkin berbeda dengan pendapat kebenaran yang disampaikan oleh guru. Hal yang salah dan diberikan penghargaan akan membekas terus di dalam diri siswa. Akan sangat jauh beda dengan sesuatu yang salah langsung divonis kamu salah kamu salah kamu salah kamu salah dan seterusnya. Guru perlu menguasai ilmu komunikasi yang baik yang termaktub dalam ilmu pedagogik dan memang ini dilandasi oleh kompetensi kepribadian yang nantinya akan muncul sebagai kompetensi sosial bagi guru itu sendiri.

Dan tepat pada pukul 17.35 saat hampir kumandang adzan Bapak menteri pendidikan Profesor Muhammad Muhajir berkenan hadir dengan pakaian adat Jawa blangkon Mataram, dengan motif surjan berbunga-bunga lengkap dengan keris. Beliau hadir menjawab satu pertanyaan  peserta tentang kebijakan ujian nasional. Di jawab beliau bahwa Ujian Nasional tetap akan dilaksanakan karena itu merupakan salah satu tolak ukur yang disepakati oleh banyak pihak dalam asesmen akhir tingkat sekolah.

Kegiatan pun diakhiri dengan foto bersama menteri yang didampingi oleh ibu kepala P4TK matematika Dr. Daswatia. Para peserta tidak berkesempatan jabat tangan dengan Bapak menteri karena waktu memang sudah cukup petang dan kumandang adzan sudah beberapa saat.

Semoga para guru matematika dapat menyampaikan materi pembelajaran sehingga matematika yang dipandang sebagai ilmu bukan pasti memiliki pengaruh positif dalam pembentukan karakter bagi generasi emas di tahun 2045.

Ahad 22 April 2018 at 22.00
Ditulis dengan menemu baling menulis dengan mulut membaca dengan telinga.

Comments